Review Film Parasite (2019)

20.51


"Dia baik karena dia kaya." -Chung Sook, eomma

Film Parasite besutan sutradara beken Bong Joon-Ho ini memang sedang mendrama, termasuk di Indonesia. Selain mendapatkan penghargaan tertinggi di ajang Festival Film Cannes yang juga beken itu, film Parasite emang nggak salah pilih sutradara, actors juga writer dan kru yang top. Nggak heran ini film dapet review bagus dari para penikmat film, kritikus, sampe didapuk dengan rating 98% di Rotten Tomatoes dan 8.6 di IMDb. Manjiw.

Saya nonton ini minggu malem kemarin sama bojo di CGV Transmart Solo. Bahkan di Solo, di Transmart Pabelan yang nggak terlalu rame ini pun studionya penuh sampe seat bawah. Applause untuk branding dan promosi film ini di medsos yang pasti bikin orang penasaran sama filmnya. Karna nggak banyak penikmat film Korea di Indo, kecuali orang-orang yang nonton emang seneng nonton Korea atau filmnya box office dan ratingnya bagus.

Okeh review iseng ini saya tulis karna emang pengen nulis (wkwk apasi), dan ingin mengapresiasi bapak Sutradara beserta seluruh kru film yang sudah menghadirkan film satir kehidupan yang so kapitalis berbalut drama thriller ini.

Dari awal impression ke film ini ga segitu okenya, karna sebelum liat review singkat orang-orang di twitter tentang Parasite, ngira ini film komedi pas nonton trailernya. Apalagi pas ngeliat yang main Choi Woo-sik sama Park So-dam, kirain ini film biasa haha ternyata mereka oke punya! Biasa ngeliat mereka main di drama soalnya, jadi nggak menyangka aja mereka langsung main di film besar macem Parasite.

Untuk cast silahkan gugling yea, tapi dari yang saya baca di internet, Song Kang-ho, aktor utama yang berlakon jadi bapak keluarga misquen di film ini udah 4 kali berkolaborasi di filmnya ajusshi Joon-ho sang sutradara. Artinya emang bapak sutradara percaya penuh sama akting pak Kang-ho. Hoho

Seperti yang mungkin sudah gaes-gaes disini ketahui, film Parasite bercerita tentang cerita sebuah keluarga miskin di Korea yang hidup di rumah semi basement (kalo nggak bisa dibilang rumah bawah tanah). Btw oot dikit, film ini tetiba mengingatkan saya tentang komik di Webtoon yang si tokoh utamanya juga tinggal dibawah tanah, jadi orang bisa seenaknya kencing atau lewat-lewat di jendela rumah. Keluarga tak beruntung ini ialah pak Ki-taek, bu Chung-sook, dan dua anaknya Ki-woo dan Ki-jung.

Sehari-hari mereka kerja serabutan alias pengangguran. Salah satunya ngelipet kardus pizza (iya ngelipetin tok), yang dimana di scene awal film mereka kena penalti 10% dari upah karna kardus lipetannya banyak yang jelek sehingga si pabrik pizzanya gamau rugi. Begitulah kiranya keadaan keluarga pak Ki-taek yang hidup pas-pasan dan fakir kuota hingga harus nebeng wifi di kafe-kafe yang ada diatas rumah mereka.

Sebuah kejutan hqq saat Park Seo-Joon yang tampan mampir jadi cameo (saya ga perlu jelasin khan ya PSJ itu siapa hehehe). Park Seo-joon berperan menjadi Min, teman Ki-woo yang mendadak ceritanya harus pergi ke luar negeri dan ngajak Ki-woo buat menggantikan dia jadi kerja jadi guru privat bahasa Inggris di rumahnya Da-hye, si anak orang kaya. Sebetulnya film Parasite ini film kenyataan sehari-hari manusia yang kode dan sindirannya bertebaran dimana-mana, termasuk di scene-scene sederhana yang menjadi petunjuk dan bumbu utama. Batu koral alias batu metafora (mbuh ini bahasanya si Ki-woo) yang dikasih Min ke keluarga Ki-woo sebagai hadiah juga akhirnya jadi koentji ke-thriller-an film ini.

Ki-woo percaya batu itu akan membawa keberuntungan untuk keluarganya. Hingga sampailah doi kerumah Da-hye, si anak orang kaya. Keluarga beruntung ini berisi pak Park yang sangat renyah gaya hidupnya, bu Yeon-kyo sang istri, dan dua anaknya Da-hye dan Da-song. Saya nggak pingin nulis sepanjang film di postingan ini wqwq sebab selain menspoiler dan jadi tidak seru, film Parasite ini terlalu menyenangkan dan menegangkan untuk dilewatkan sehingga harus ditonton sendiri.

Singkat cerita, Ki-woo dan akal bulusnya yang sepertinya diisi dengan duit duit dan duit berhasil memanipulasi dirinya dan emak bapak sodaranya agar keluarganya bisa bekerja di keluarga pak Park. Tapi emang dasar manusia, dapet jantung minta otak. Belum cukup mereka menyingkirkan pekerja lama di keluarga pak Park dan bekerja segambreng di rumah elit itu, Ki-taek sekeluarga juga ingin tinggal dirumah pak Park. Melupakan rumah kumuh dengan bau basement yang melekat di baju mereka, Ki-taek sekeluarga benar merajalela dan leha-leha dirumah keluarga pak Park saat pak Park sekeluarga pergi berkemah untuk merayakan ulang tahun Da-song, bocah cilik berjiwa Indian.

Buat saya pribadi, tensi film tiba-tiba berubah jadi thriller saat Ki-taek sekeluarga sedang asik tidur-tiduran memandangi hujan deras di depan jendela kaca tembus pandang dengan pekarangan belakang, sambil ngemil dan minum bir di ruang tengah diiringi petir menyambar tengah malam lalu kemudian bel rumah mereka berbunyi. Sejak scene ini kita tidak tau dan tak bisa menebak alur dan plot film selanjutnya, sebab scene selanjutnya tak bisa diduga-duga.

Sindiran atas isu sosial dan puncak adegan mengingatkan saya pada film Get Out karya sutradara Jordan Peele. Atmosfer tegangnya hampir sama, dan puncak adegan yang tiba-tiba jadi brutal mirip dengan film Get Out. Kebrutalan yang hadir dari kekesalan dan depresi serta kemarahan memuncak atas ketidakadilan. Film Parasite menggambarkan ironi hidup menjadi parasit itu sendiri dengan kontras antara kehidupan orang kaya dan miskin.

Kemiskinan mungkin takdir yang tak tertahankan bagi mereka yang hidup dalam jerat kebodohan serta korban kapitalisme yang tak bisa bangkit dari lingkaran setan itu, tapi miskin dan mencari penghidupan layak dengan cara yang baik (dan halaal) merupakan pilihan. Semua orang punya pilihan itu. "Dia (bu Yoon-kyo, istri pak Park) bukan baik tapi naif. Tapi dia baik karena dia kaya. Kalau aku punya kekayaan ini aku juga pasti jadi orang yang lebih baik," kata bu Chung-sook ditengah mabuknya bersama suami dan kedua anaknya.

Miris ya. Disatu sisi, kita ingin menjadi kaya agar harta kita bisa digunakan seluasnya untuk manfaat orang banyak. Omongan bu Chung tak ada salahnya. Disisi lain, ada orang-orang yang merasa kekayaan orang kaya membuat para crazy rich ini semena-mena, sehingga para sobat misquen seperti Ki-taek dan keluarganya ini ingin mendapatkan jatah lebih banyak dari kekayaan mereka. Semacam, 'yaela bodoh-bodohin orang kaya untuk dapet sedikit dari kenikmatan mereka ga ada salahnya kan.' Alhasil menjadi parasit saat ini merupakan salah satu pilihan termudah bagi orang miskin yang mencari penghidupan lebih baik. Ironi ditengah kehidupan yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Saya dan penonton sangat menikmati komedi, drama dan thriller yang disuguhkan Parasite. Porsinya pas, walau ada kadang scene-scene yang saya kira akan sesuai dengan tebakan saya tapi nggak ternyata hehe. Misal, saya kira kode-kode Morse yang dikirim lewat lampu dari gudang bawah tanah bakal bikin Da-song berperan banyak di film ini, tapi nyatanya ngga. Tapi dia unyu juga~


Tapi saya acungi jempol untuk akting pak Ki-taek yang kerasa banget posisi orang miskin yang dihina tentang bau bajunya tapi berusaha menahan walau kita ngerti dia itu kesel. Toh akhirnya perasaan terhina itu meluap juga, seperti banjir yang melahap rumah pak Ki-taek sekeluarga dan menenggelamkan hidup mereka pada akhirnya.

Untuk suguhan dan makna sosial dibalik film yang meresahkan sekaligus menghibur, saya tidak ragu memberikan 4 jempol untuk pak Joon-ho dan seluruh kru film. Visual dan sinematografi mantap, musik oke, humor pas, dan bojo saya yang seleranya bukan film Korea juga ikut menikmati film ini. Oya saya juga suka konsep posternyaa. Gamsahamnida Joon-ho sunbaenim, good job!

Salam,
salmadeim


Solo, 1 Juli 2019

You Might Also Like

0 komentar