Cerita Ibu (1)

21.26

Akhir Februari 2020 yang lalu menjadi momen pertamaku bertugas sebagai kader masyarakat, yakni Kader Posyandu yeaay! Di RW 23 Jaten, Posyandu diadakan tiap akhir bulan di gedung Posyandu, di lingkungan sekitar perumahan.

Pertama kali itu disambut baik ibuk-ibuk kader, setelah sowan ke bu Wiwid (kader di RTku) untuk bergabung supaya bisa mengamalkan ilmu dan berbagi dengan semampu yang bisa kulakukan ke masyarakat sekitar. Senang sekali, akhirnya ikut mencatat perkembangan grafik pertumbuhan anak-anak yang datang bersama ibu-ibunya. Ada juga bapak yang ikut mengantar, tapi rata-rata masih ibuk yang paling banyak berperan ya hehe.

Pada hari itu ada seorang ibu yang setelah menimbang anaknya, menghampiri mejaku, "mbak, mbak bidan ya?"


Mungkin karna aku terlihat paling muda, beda sendiri dan ga pake seragam posyandu hehehe. Gpp bu udah biasa dikira bidan atau dokter haha.

Kadang kalo ditanya bidan atau bukan agak sulit dan panjang jawabnya. Mau jawab bukan bidan tapi aku juga ngerti ilmu kebidanan atau seputar reproduksi dan kesehatan ibu anak. Kaan rumit jawabnya wkwk. "Saya dari kesehatan masyarakat bu, ada apa nggih bu?"

Berceritalah sang ibu tentang keresahannya bahwa anak lelakinya yang berumur hampir dua tahun, belum bisa lancar berbicara. Ngoceh pun tidak. Hanya beberapa kata yang tidak utuh pelafalannya. Lalu sang anak juga emosinya tidak stabil.

"Sudah dibawa ke dokter belum bu?" tanyaku. Belum, jawabnya. Karna takut nanti akan diberikan ini itu, atau sang ibu takut hanya perasaannya saja.

"Di sekitar rumah sering main sama teman sebayanya ndak bu?" tanyaku lagi. Tidak, jawabnya. Karna di sekitar rumah nggak ada yang seumuran sang anak.

Hasil wawancara sementaraku menyimpulkan bahwa anak tidak banyak menerima input dari sekitar, juga skill sosial dan bermainnya tidak terasah karena sehari-hari hanya bertemu orang tuanya saja. Tidak mau menjudge, karna setiap orang tua pastiii sudah berusaha sebaik-baiknya untuk merawat dan mengasuh anak dengan caranya sendiri.

Namun, seringkali ada ibu yang belum paham tentang stimulasi kepada anak, apalagi anak yang sedang menjalani masa golden agenya. Melatih anak bermain diluar akan meningkatkan kemampuan motorik kasar dan pertumbuhan otot tulangnya. Bersosialisasi dengan sebayanya akan meningkatkan empati dan kecerdasan emosional, termasuk kemampuan bicara.

Jadi saat itu aku menyarankan agar ibu coba berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, supaya dapat dinilai apakah anaknya memang ada speech delay atau delay development. "Kalau nantinya memang delay, pasti dokternya akan kasih saran atau rujukan untuk speech terapi bu," kataku lagi. Ibuk-ibuk yang duduk sekitarku juga menyampaikan hal yang sama.

Kalau sudah terdeteksi sejak awal lebih enak, nanti ibuk akan lebih tenang dan tau apa saja yang harus dilakukan selanjutnya.

Senang sekalii aku jadi belajar lagi, sekaligus sharing ilmu dan pengalaman dunia pediatri yang kudapat selama jadi fisioterapis. Jadi kalau nanti ada cerita-cerita yang bisa kita pelajari, aku mau sharing-sharing lagi di serial Cerita Ibu hehe.

Di Posyandu, ibuk kader juga rajin sekali menanyakan dan menyemangati ibu untuk ber-KB. Memang kadang, di masyarakat pedesaan ada yang belum teredukasi dengan baik soal kesehatan keluarga termasuk menjarak kehamilan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan, jarak dengan anak sebelumnya, finansial, dan faktor lain.

Mungkin kapan-kapan bisa sharing tentang perKBan ini, karna ibu-ibu yang sudah tau konsekuensi KB akan lebih mudah menentukan dan mengambil keputusan soal KB atau tidak bersama pasangannya. Dengan diskusi yang matang dan baik tentunya.

Sekian untuk cerita ibu yang pertama. Terima kasih ibuk yang sudah sharing, semoga nanti saat ke posyandu lagi sudah ada perkembangan dan kabar baik dari beliau. Jangan lupa pantau perkembangan dan pertumbuhan anak secara berkala, momsss!

Cegah stunting, wasting, atau obesitas sejak dini bisa dimulai dari Posyandu.
Ramah, dekat dan gratis!

Jaten, Februari 2020

salam sehat,
salmadeim.

You Might Also Like

0 komentar