Keuangan dan Rumah Tangga
06.19
Membaca postingan Ummu Balqis beberapa hari lalu, membuatku seketika teringat pada hari itu. Sore yang hujan dimana aku bertemu untuk taaruf pertama kalinya dengan lelaki yang saat ini menjadi suamiku. Hehe.
Maret 2018 yang lalu di sebuah ruangan di gedung Fasilkom UI. Ditemani ibunda (murabbiyahku), kami berdua bertemu dan mulai bertanya satu sama lain (e waktu itu aku nerpes banget btw). Mendalami apa yang sudah kami baca melalui CV/profil taaruf masing-masing secara lebih spesifik.
Salah satunya ini. Keuangan.
Tapi aku sih yang nanya soal ini. Kan kalo aku, kerjaanku cuma freelance desain aja wqwq.
"Dio kan kerja di bank ya. Selain itu, ada pemasukan tambahan ngga? Kalo ga salah di CV katanya pernah jadi driver dan lain-lain.."
Waktu itu sungkan banget mau nanya soal nominal, karna aku yakin juga sih gajinya insya Allah mencukupi walo belum dua digit xD
Dan kalo doi udah siap nikah (apalagi dia tau aku masih studi), pasti yakin dan mantap dengan penghasilannya. Aku nanya ini karna kan suami posisinya waktu itu bulan-bulan awal kerja di Solo (yang pernah baca postinganku, kubilang dia berani banget nikah sama aku padahal ya kondisinya dia baru kerja. akupun masih kuliah dengan biaya kuliah yang nggak murah huehue).
Tapi kalo baca esainya di CV (iya ada essaynya lho), suamik ini sepertinya memang tekun, pekerja keras dan mandiri. Jadi aku memastikan, karna perempuan kan butuh kepastian. e a
Jawabannya?
"Iya selain dari gaji utama, saya usaha bisnis MP ASI (distributor makanan pendamping ASI) sama temen. Saya ada investasi juga. Jadi sementara ini penghasilan tambahan dari situ.."
Responnya waktu menjawab pertanyaanku ini nggak menghindar, tenang dan ya jawab apa adanya. Walopun agak ngernyit juga sih waktu denger bisnis MPASI. Lah kok bisnisnya bisa nyampe kesitu
Tapi ternyata bisnis MPASInya nggak lama, karna modal utama ayangbebqu buat nambahin biaya persiapan nikah dari investasinya selama awal sampe tengah tahun 2018. Pas lah sama planning untuk nikah di bulan Agustus. Alhamdulillah dimudahkan jalannya.
To be honest i'm so glad and proud at the same time, waktu aku tau kalo biaya nikah dan printilan ini itu termasuk seserahan semuanya ditanggung dari biaya pribadi yang dikumpulkan suami. Terharuuu.
Jadi siapapun kamu, yang dilamar sama laki-laki sesederhana apapun hidupnya tapi rajin sholat ke masjid dan punya modal pejuang, terima! Karna saat kamu diperjuangkan dengan begitu seriusnya, tandanya memang dia serius sama kamu hehe. Ya maksudku laki-laki bertanggung jawab, punya prinsip dan serius itu udah mulai susah nyarinya di masa kini.
Jadi kalo kamu ada di persimpangan jalan karna bingung (misal maunya sama doi tapi yang dateng malah dia), coba liat dulu kebaikan dan keberanian yang dia bawa. Jangan sampe hawa nafsumu mengalahkan ketulusan, sebab jangan-jangan jodohmu ya ternyata orang yang dateng ke kamu ini.
----
Nah, finansial setelah nikah juga nggak kalah pentingnya sobat. Justru kehidupan sebenarnya dimulai saat hidup sudah berdua. Dari materi yang pernah disampaikan pak Banu Muhammad (Warek UI, Dosen FEB UI berkapasitas ustad), dalam sebuah kesempatan menyebutkan bahwa tips dasar mengelola keuangan rumah tangga adalah meningkatkan pendapatan dan mengurangi pengeluaran.
"Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang (1) berusaha dari yang baik, (2) membelanjakan uang secara sederhana, dan dapat (3) menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya." (HR. Muslim dan Ahmad).
Menurut pak Banu yang juga seorang pembina Salam UI, pembelanjaan rumah tangga dapat dievaluasi dengan financial check up. Nah adapun peran perempuan dalam rumah tangga selain mengatur pengeluaran rumah tangga ialah mencari penghasilan tambahan dan mengajarkan tentang uang dan menghemat pada anak. Tiap pos pengeluaran pun idealnya ada porsi-porsinya:
- ZIS dan Sedekah: 6,5-10% (semakin banyak kita bisa sedekah bukan cuma semakin berkah tapi kita juga semakin bahagia karna bisa menyisihkan lebih banyak untuk sedekah)
- Asuransi dan Dana Darurat: 10-20%
- Biaya Bulanan: 50-70%
- Tabungan dan Investasi: 10-15%
Walopun aku juga masih terus belajar menerapkan karna macam asuransi & dana darurat pun belum kusisihkan dari anggaran bulanan. Belum kerja juga sih hehe paling dari gaji suami yang dipotong auto dari kantornya aja, ada untuk asuransi kesehatan. Yaa mudah-mudahan bisa makin apik seiring berjalannya waqtu.
Sekilas sharing ya sob. Tapi jangan ketawa karna aga cupu. Dalam sebuah adegan, aku pernah nangis di mobil. haha. waktu itu kita baru pulang journeymoon dari Wonosobo, dan lagi macet-macetnya di Jogja-Solo. Lagi melow ceritanya.
Waktu itu ngerasa sedih tiba-tiba & merasa membebani suami, karna suami jadi ikut nanggung biaya kuliah sementara pendapatanku dari freelance juga nggak seberapa. Sambil nyetir, paksuami menenangkan dan berkata, "ya itu kan udah konsekuensiku. sebelum nikah, aku udah cari tau biaya kuliah kamu. waktu itu aku mikir bisa nggak ya. tapi aku selalu berdoa, ya Allah kalau ada jalannya maka mudahkanlah. kamu kuliah nggak ngebebani aku. tapi kalo kuliahmu tertunda, itu yang justru ngebebani aku. jadi kita jalanin bareng-bareng ya."
Percayalah, drama rumah tangga itu pasti ada. Tinggal gimana kita menghadapinya, dan gimana kita diskusi bareng soal ini di awal pernikahan. Justru perjuangan finansial ini yang sedikit banyak bikin kita termotivasi untuk terus berusaha meningkatkan pendapatan dan ngirit pengeluaran.
Nanya sejak taaruf sangat dianjurkan, supaya kita tau gimana calon imam rumah tangga kita mengelola keuangan. Apalagi ternyata kata Ummu Balqis, banyak sisters kita yang ngadepin berbagai problem soal keuangan ini. Sensitip ya tapi ini penting jeng.
Ada yang pas ditanya soal keuangan dan tau kondisi calon istrinya, malah mundur. Ada juga yang setelah nikah nggak dikasih nafkah dan si istri menafkahi dirinya sendiri, plus harus ikut nanggung hutang suami dan baru tau setelah nikah.
Jadi sisters, komunikasi masalah keuangan emang pentiing. Kalo udah nikah lebih enak. Obrolin gaji, biaya-biaya yang harus disisihin karna masih harus biayain orang tua dan kebutuhan lainnya, dan kalo ada hutang yang yang harus dicicil juga pentinggg. Biar sama-sama tau ya. Biaya pendapatan tambahan juga komunikasikan, karna lumayan kan bisa nambahin tabungan. Jadi kita bisa ngitung pendapatan yang harus dikelola dan diirit-irit berapa jumlahnya. Apalagi rumah tangga LDM macam kami berdua ini, punya dua dapur dan dua kehidupan Depok-Solo.
Kalo aku pribadi, aku wajib nyatet di buku supaya tau arus kas masuk dan keluar. Pake aplikasi 'Catatan Keuangan' juga di hape, biar tiap abis belanja praktis keinput dan gak lupa. Tapi tetep harus disisihin di awal untuk pengeluaran wajib macem infaq sedekah atau untuk bayar listrik atau ngasih ortu, dan tabungan 10% dari pendapatan bulanan.
Pendapatan tambahan dari freelance sampe pengeluaran rutin dan anggaran hiburan juga harus dicatet. Nanti tinggal diinput di excel deh summarynya supaya lebih mudah dimonitor. Trus laporan ke pak suami juga penting hehe berapa sisa uang yang kita pegang terutama di akhir bulan (tapi seringnya suamik sih yang nanya
). Alhamdulillah sejauh ini belum pernah kekurangan sebelum akhir bulan, kalo pinter pinter ngaturnya.
Walopun uang pendapatan dari istri jadi hak istri, tapi istri tetep wajib menghemat yaa hehe apalagi baru awal pernikahan dan persiapan menyambut anak pertama. Lumayan kan masuk saldo tabungan masa depan. Nggak mudah tapi harus yaak. Semangat para ibuk rumah tangga muda and soon to be! Seumur perjalanan pasti akan terus dan terus belajar. Sama ini juga masih belajar, dulu dulu kan biasa biayain diri sendiri. sekarang harus belajar memikirkan pembiayaan keluarga :")
Jadi bagi yang mau taaruf dan sudah menikah pun semangat yaa, yang ikhwan juga semangat persiapan. Penguatan finansial terutama. Karna keuangan rumah tangga nanti, bukan semata-mata soal ngepulin asep dapur dan biaya konsumsi kebutuhan aja. Tapi ada hak-hak sedekah untuk yang membutuhkan dan kebermanfaatan sosial juga agama di dalamnya. Begitulah rumah tangga, dimensinya dimensi ibadah. Dan jangan lupa selalu mengupayakan dan minta luaskan rezeki, karna rezeki itu dateng dari mana aja. Allah yang janjikan setiap rumah tangga sudah diatur rezekinya insya Allaah.
Semoga cuap-cuap ini ada faedahnya,
yang benar sempurna hanyalah Allah sahaja.
Jumu'ah Mubarak!
2 Desember 2019
Salam,
salmadeim
0 komentar