Mimpi di Mading Kami

09.45


 

"Your dreams are only your dreams until you write them down. 
Then.. they are goals."

Hallo! Salam kenal, namaku Salma. Tapi teman-teman sekolahku biasa memanggilku 'Madam', atau 'Dame', atau semakin kesini panggilannya jadi makin keren: Deim. Dulu teman-temanku percaya kalau aku bisa meramal mereka. Jadilah mereka iseng memanggilku madam, haha ada-ada saja.

Masa-masa sekolah buatku adalah masa-masa mengembangkan kreativitas, menemukan passion, mencari jati diri sampai menjadi bekal dalam self branding. Saat duduk di bangku SD, bibit-bibit hobi menggunting origami, menempel kolase sampai membuat mading mulai tumbuh dalam diriku. YA! Walaupun dulu aku lebih senang lari sana lari sini, main sepeda dan olahraga lainnya, tapi kalau sudah ketemu dengan bahan-bahan kesenian dan kerajinan tangan aku sangat bersemangat. Guru-guruku juga sangat kreatif dan kalau sedang istirahat dan tidak ada kelas, kami yang waktu itu sedang duduk di kelas 4 SD pasti akan mengisi waktu luang itu untuk menyelesaikan proyek bersama seangkatan: membuat peta Indonesia dengan gulungan kertas crepe. Jadi kami harus mengisi peta Indonesia yang besar di sebuah triplek dengan gulungan kertas crepe, seperti membuat kolase. Menyenangkan sekalii! Walaupun butuh berbulan-bulan menyelesaikan peta itu tapi kami sangat puas dengan hasilnya karna di peta itu ada hasil karya tangan-tangan kami semua. Dari yang gulungannya kecil sampai jumbo. Dari anak perempuan sampai anak laki-laki, semua ikut menggunting, menggulung dan menempel di mading itu. Sebuah maha karya yang tidak pernah saya lupakan sampai hari ini :')

Hobi berkerajinan tangan itu tanpa aku sadari terbawa hingga menginjak bangku SMP. Lulus dari SDIT Darul Abidin Depok, aku melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 2 Depok. Suatu ketika sekolah kami sedang mengadakan lomba peringatan Hari Kartini pada bulan April. Salah satu lombanya ialah lomba membuat mading per kelas. Aku tentu antusias sehingga mengajukan diri untuk mewakili lomba tersebut bersama beberapa teman-teman di kelas 7. Entah kenapa aku merasa kreativitas semakin tertantang karena baru sekali ini mengikuti lomba dengan tema Kartini. Aku mengisi mading itu dengan mencari bahan dari majalah remaja kekinian juga koran, sehingga konsep mading pun seperti majalah dan koran. Ada editorialnya, ada headlinenya, dan isinya pun sedikit banyak berita menarik tentang perempuan. Seperti mode kebaya modern, tentang kesetaraan perempuan di masa kini dan info menarik tentang perempuan di pojok-pojok madingnya. 

Alhamdulillah, semangat yang ku tularkan bersama teman-teman saat itu membuahkan hasil yang manis. Kami menjadi juara 1 lomba mading saat itu. Walaupun cuma juara lomba sekolah, tapi prestasi sederhana itu tentu membuat aku semakin bersemangat untuk terus mengembangkan kreativitas dan mengasah minat bakatku ini di bidang gunting-menggunting dan tempel-menempel. Tapi sayangnya, tidak ada wadah di sekolah yang bisa terus menyalurkan hobiku membuat mading. Untunglah angkatanku saat itu pertama kali membuat majalah sekolah bernama B Magz alias Bangor Magazine (masih alay ya haha). Aku saat itu ikut berkontribusi menjadi reporter dan editornya. Yaa setidaknya, kreativitasku tidak berhenti di tengah jalan. Sehingga saat menjadi reporter majalah sekolah itu aku justru menemukan hobi lain: menulis.

Lulus dari SMP, aku melanjutkan sekolah ke boarding school di Husnul Khotimah Kuningan. Alhamdulillah di SMA ini aku justru semakin 'menjadi-jadi' dengan hobiku itu, karena memiliki banyak waktu, banyak ide dan banyak bahan juga space untuk membuat mading. Dan tidak lupa memiliki teman yang bisa menjadi inspirasi juga menjadi teman dalam ber-mading. Sungguh! Disini kreativitasku menemukan tenaganya lagi :)

Aku memulai membuat mading sejak kelas 1 SMA. Karena kasurku selalu menempel dengan dinding kamar, jadi aku selalu punya kesempatan untuk membuat mading. Teman-temanku kadang sampai geleng-geleng kepala, 'si dame ini rajin amat sih bikin-bikin mading segala...' Kalau sudah hobi susah berhentinya haha.

Aku semakin suka membuat mading di SMA ini karena banyak teman-temanku yang jago sekali membuat mading kreatif sehingga aku pun ketularan ide-ide baru dari mereka. Contohnya waktu jaman kelas 2, jamannya aku dan teman-teman seangkatan jadi pengurus OSHK (kalau diluar namanya OSIS). Teman-teman dari Dewan Pengurus Harian bekerja sama dengan bidang Art atau Kesenian mempunyai program mading yang menjadi satu-satunya kanal media official dari OSHK. Maklum, saat itu kami belum menjadikan medsos sebagai media organisasi. Tapi sebagai gantinya, kami membuat mading yang disediakan sebagai pusat info dari OSHK kepada santri dengan menggunakan konsep Facebook. Jadilah tampilan mading kami seperti homepage Facebook yang kita lihat di layar komputer. Santri-santri yang menjadi pembaca mading kami pun berdecak kagum (cailaa). Berkreativitas itu mudah dan menyenangkan! Asal sudah punya ide, tinggal disulap dengan bahan sederhana tapi bisa menjadi karya yang luar biasa. (Terima kasih Njen, Wenty, Sepir, Nabila Celia dan anak-anak Art lainnya yang udah bikin aku makin semangat bermading sampe hari ini!)

Selesai melewati masa-masa 2 SMA, aku dan teman-teman seangkatanku harus bersiap menghadapi Ujian Nasional di kelas 3. Suatu ketika di hari Jum'at, kami sedang berbenah kamar. Kalau lagi beres-beres kamar, semua box berisi buku dan peralatan kami dibawa keluar. Kamar bersih, tapi ternyata menyisakan tumpukan koran bekas yang tak terpakai oleh pemiliknya. Walau di boarding school tapi kami senang beli koran lho. Biar nggak ketinggalan berita hehe.

Aku yang memiliki sinyal kuat terhadap koran langsung saja meminta izin untuk meminta koran-koran bekas itu sebagai harta karunku: bahan membuat mading! YEAY. Tapi hari itu tak seperti biasanya. Dua tahun lalu saat kelas 1 dan 2, aku bikin mading sendiri. Menikmati sendiri. Tapi tiba-tiba teman-teman sekamarku saat itu mengikuti jejakku dan mereka bilang ingin membuat mading juga di dinding mereka masing-masing. "Daam, Apap juga mau ya dam dibikinin mading kayak kamu." / "Dam aku ikutan ya dam bikin mading juga. Biar rame." / "Mau juga minta korannya yaaa!" 

Terharu :"")

Akhirnya saat itu selain bikin mading buat diri sendiri, juga ikut bikinin buat temen-temen sekamar. Kamar kami sibuk saat itu. Sibuk gunting sana gunting sini. Bisa dibilang kamar kami saat itu adalah kamar yang paling ramai dengan mading kamar di kasur masing-masing. Ada gambar pak SBY dengan tulisan-tulisan lucu nan kreatif, ada gambar artis, lukisan, sampai tulisan-tulisan penyemangat menuju UN dan mimpi-mimpi kami. Sebuah coretan yang sebagian besar tanpa kami sadari terkabul di hari ini. 

 Salah satu mimpi yang aku tuliskan di mading kelas 3 dulu. Pernah bercita-cita menjadi dokter spesialis kulit dan menjadi mahasiswi FK UI. Tapi walaupun tidak tercapai menjadi mahasiswi FK, Alhamdulillah UInya tetep dapet haha. And that's true to write down your dreams until you realize your dream become a goals! Dan dari teman-teman sekamarku dulu yang menuliskan mimpi di madingnya, sebagian besarnya tercapai. Ada yang menjadi hafidzah dan lulus menjadi mahasiswi Al Azhar Mesir. Ada yang bermimpi menjadi sahabat Alyssa Soebandono dan menjadi mahasiswi Monash (yang jadi sahabat Alyssa becanda aja hehehe). Ada juga yang bermimpi menjadi fashion designer. Semua itu dengan izinNya terwujud, juga dengan kerja keras dan doa yang kuat. Yang tidak terwujud pun saat ini semuanya sudah memiliki jalannya masing-masing dan insya Allah menjadi jalan terbaik untuk kami semua.


Madingku saat semester pertama kuliah. 
Masih ala kadarnya, yang penting tetep ngemading xD


Madingku setelah lewat 6 semester. Lebih berwarna!

Selama kuliah, hobiku berekspansi lebih luas lagi. Dari yang tadinya cuma bermain dengan seni dekorasi, sekarang beralih menjadi seni digital. Yak, desain grafis dan juga fotografi. Hobiku tak berubah, hanya berpindah tempat saja. Kalau dulu memvisualisasikan di media papan dan dinding, sekarang pindah ke layer Photoshop atau Illustrator. Lalu hobiku menjelajah lagi mengikuti perkembangan zaman: watercoloring! 

Sehingga mading, menulis, desain grafis, fotografi dan watercoloring sekarang menjadi hobi dan passionku yang selalu bekerja sama satu sama lain dan menjadi sesuatu yang dapat dinikmati orang lain. Alhamdulillah, hobiku saat ini sudah tersalurkan menjadi bisnis kecil-kecilan yang bisa memenuhi kebutuhan orang lain terutama dalam hal desain. Kadang sahabatku memintaku menjadi fotografer sekaligus desainer untuk branding online shop plus sebagai penulis captionnya, haha. Ada juga yang memintaku menjadi fotografer dan desainer untuk undangan hari pernikahannya. Walaupun aku baru belajar melukis, tapi ada juga follower instagramku yang merasa terinspirasi dan ingin memesan karya hand lettering watercolor seperti yang pernah aku buat. Masya Allah. Hobi yang dibayar memang mengasyikkan ya, apalagi kalau orang lain merasakan manfaatnya *cheers*

Saat ini aku sedang semangat-semangatnya menjalani hobi ber-watercolor-ing atau bermain cat air. Meskipun baru pemula tapi suatu saat aku ingin menjadikan hobi bermain watercolor ini sebagai sesuatu yang bermanfaat juga untuk sekitarku. Jadi aku akhirnya memutuskan untuk belanja watercolor brush di bukalapak.com. Pemesanannya mudah dan super cepat! Waterbrushnya sangat membantuku belajar melukis dengan watercolor :)


Aku masih bermimpi dan menuliskan mimpi-mimpi itu di madingku. Suatu hari nanti aku ingin menjadi guru cuma-cuma untuk anak-anak Indonesia yang memiliki minat besar di dunia seni namun tak beruntung karena faktor ekonomi, Insya Allah. Terima kasih Hijup dan Bukalapak, sudah mengingatkanku kembali tentang pentingnya hobi yang membuat hidupku semakin hidup. Semoga bisa sedikit menginspirasi teman-teman semuanya. So try to write your dreams and don't ever give up! :)




Depok, 6 Desember 2016
Warmly regards,


@salmadeim
Salma Muazaroh



You Might Also Like

1 komentar

  1. semangat ...kreatifitas bisa mengubah dunia k arang yg lebih baik..insya allah..kunjungi juga yaa..syair di kertas hitam...siapa tau menginspirasi....follow juga boleh loh heheheh...suwun...

    BalasHapus