Menjadi Ayah dan Ibu Sejak Dini
20.58
Postingan ini disponsori oleh pikiran-pikiran yang sejak lama menggelayut. Entah sudah sejak kapan resah. Tapi setelah berbincang dengan bu Inayah, Koordinator Pelayanan Poli Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru beberapa pekan lalu semakin membuatku miris dengan keadaan negeri saat ini.
Lupakan sejenak carut marut soal Papua, gaduh pindah ibukota, apalagi KKN Desa Penari hingga Livi Zheng yang ramai dibincangkan media. Bukan berarti kita tak berhak mengomentari hal tersebut. Tapi masih ada banyak hal kecil yang bisa kita sadari sejak dini, dan pelan tapi pasti kita ubah kultur jelek di sekitar kita mulai dari diri sendiri.
Ingin nulis banyak tapi jadi bingung qwqw.
---------
Tapi intinya begini.
(1)
Kultur budaya, juga sistem pemerintahan kita jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju. Korupsi masih banyak (entahlah nanti pindah ibukota apakah akan semakin membuka peluang korup itu atau tidak), perhatian pemerintah pada kesehatan rakyatnya pun setengah-setengah. Alokasi negara untuk kesehatan masih rendah. Apresiasi negara terhadap tenaga kesehatan juga pendidikan juga, yah begitulah. Upaya preventif promotif bahkan masih jauh dari target yang diharapkan.
Maka jangan juga salahkan BPJS sepenuhnya atas 'tekor maning tekor maniing'. Edukasi dan sosialisasi pemerintah tentang kesehatan dan pencegahan penyakit ke rakyat saja minim. Sarana edukasi program-program kesehatan hanya tersebar di fasilitas kesehatan. Sementara TV-TV dan internet kita isinya dipenuhi iklan komersil dan sinetron tak mendidik.
Lalu BPJS makin tekor, solusinya tiba-tiba naikin iuran? Padahal mutu pelayanan dari BPJS sendiri masih berantakan? Haloo Pemerintah? Naikin iuran sampai kapanpun ga akan menyelesaikan carut marut masalah BPJS sebelum akar masalahnya diselesaikan. Terutama meningkatkan taraf kesehatan warga dengan promotif dan preventif pada rakyat dengan faktor risiko kesehatan yang tinggi.
ah ya btw, sekarang di Puskesmas sudah ada poli Sehat untuk skrining dan deteksi dini bagi orang-orang sehat lho. terutama untuk yang nganter keluarganya berobat. sebab banyak yang mengira nganter orang sakit, ngerasa dirinya fine-fine aja. padahal setelah dicek, ada hipertensi. gula darahnya tinggi. kebanyakan watak orang kita ini baru akan cek setelah muncul gejala.
disinilah BPJS banyak defisit karna banyak faskes menangani peserta yang berpenyakit berat (stroke, kanker, jantung, dan penyakit dengan perawatan mahal lainnya). lalu Puskesmas masih terlalu besar porsi kuratifnya dibanding preventifnya. kalau sudah terdeteksi sejak dini, akan lebih murah dan mudah mengantisipasi dampak buruk di masa yang akan datang ya khan zhayangg.
--------
(2)
Belum lagi moral generasi muda masa kini yang semakin merosot entah kemana. Kalo merosot ke mesjid mending ya nakal trus dapet hidayah, kalo merosotnya ke ruang-ruang perzinahan, pembunuhan, dan yang serem-serem lainnya.. mau jadi apa masa depan kita nanti? :'
Tadi nonton tayangan ulang ILC soal hukuman kebiri untuk pelaku pemerkosaan. Pas closing statementnya oleh bu Elly Risman. Kenak banget gaes.. Coba ditonton ya nanti. Pas untuk kamu-kamu yang saat ini sudah atau akan menjadi orang tua.
Kebiri mungkin bukan solusi yang tepat. Kalau dirasa terlalu menyakitkan, melanggar ham endebre alasan kontra lainnya, aku memilih setuju sama bu Elly: akhiri saja hidupnya. Entah dipenjara sampe akhir hayat si pelaku, atau hukum mati sekalian. Terutama pelaku yang motifnya murni karna nafsu (akibat kebanyakan nonton pornografi), dan yang gak punya nurani sama sekali memerkosa korban sampai membunuh.
Mengasihani pelaku yang dikebiri tapi mengabaikan korban yang mungkin akan menjalani trauma selama hidupnya? Standar motor detected?
Kata bu Elly, para korban perkosaaan akan mengalami delay trauma. Mungkin secara fisik cepat pulihnya, tapi traumanya belum tentu. Apalagi yang masih dibawah umur. Dampak traumanya mungkin baru akan muncul setelah besar, menghantui korban sepanjang umurnya. Sampai menikah dan punya cucu :(
Plus tambahan lagi dari bu Elly kalau banyak orang tua jaman sekarang tidak siap dan tidak disiapkan untuk menjadi suami, istri, dan orang tua yang baik dalam menghadapi tantangan zaman. Tidak paham dampak pendidikan dirumah terhadap anak, sehingga tidak siap menghadapi bahaya bencana asusila. Kalau tidak jadi pelaku, jadi korban. Naudzubillah.. Memang sulit hidup di jaman sekarang, tapi jangan menyerah!
---------
(3)
Oleh karenanya, marilah seluruh rakyat Indonesia. Siapkan diri kita menjadi ayah dan ibu sejak dini, jauh sebelum menikah lebih baik. Dengan apa? Bekal pendidikan agama, moral, kesehatan, keuangan, dan pendidikan lain yang dibutuhkan untuk berumah tangga serta menjadi orang tua.
Setelah kuliah di jurusan kesehatan reproduksi, aku menjadi lebih paham pentingnya pendidikan seks sejak dini (yang sekali lagi gaes ini tidak sama dengan mengenalkan porno ke anak-anak). Aku sudah mulai membayangkan bagaimana akan menyampaikan sex edu ke anak-anakku nanti, menyampaikan sirah dan nilai-nilai Ketuhanan juga Kenabian dengan redaksi kita sendiri. Sebab jaman sekarang anak kritis punya wqwq.
Dan lebih penting lagi: mendidik diri sendiri untuk kuat dalam prinsip, ruhiyah, jasmani, serta berwawasan keilmuan yang luas sebelum kelak menurunkannya ke anak-anak. Sebab anak-anak akan menjadikan orangtuanya role model dalam hidupnya. Ilmu apapun itu, akan sangat membentengi diri kita dan anak-anak dari pengaruh negatif.
Kurangi gadgeting dan game terutama game-game dengan graphic yang tak senonoh. Kurangi galau, kepo dan scrolling kehidupan orang lain. Apalagi jika waktu-waktu senggang itu harusnya bisa kita isi dengan murojaah, tilawah, dan mengerjakan hal yang lebih bermanfaat lainnya.
--------
(4)
Terakhir, mari berdoa agar generasi kita kedepannya terhindar dari bahaya dan fitnah dunia. Agar pemerintah kita semakin menciptakan sistem yang bersih, sehat, serta mengutamakan kesejahteraan rakyat terutama kesehatan dan pendidikannya. Membentengi anak-anak muda dari serangan konten negatif dan pornografi. Semoga Allah mudahkan dan tunjukkan jalan untuk lebih baik pada tiap hari-hari.
sudah kepanjangan,
solo 2/9/2019
@salmadeim
0 komentar