ALIVE (1972 Tragedy)

03.55


Halo! Selamat berhari Minggu. Berhubung seminggu terkahir ini harus isirahat dirumah karna kepala harus dijait sepanjang 5 senti, jadi seminggu ini kerjaan-nya istirahat dan tiduran sambil nonton film di tv kabel. Dan udah 3 kali selama dirumah ketemu film ALIVE! Finally. Udah niat mau nonton ini dari 3 taun yang lalu padahal. Cari film ini tapi susah (ini film produksi 1993), di yutub nggak seru nontonnnya. Alhamdulillah pas lagi maenin remote nemu channel HBO dan lagi muter film ini, nonton 3 kali pula. bahkan 4 kali mungkin kalo besok ditayangin lagi...

Jadi........ kali ini saya mau berbagi cerita tentang film sekaligus kisah nyata yang menakjubkan *menurut gue*. Gak tau ya ini lebay atau enggak tapi jujur ini salah satu kisah nyata ter-favorit yang pernah saya baca & saya tonton, ever.

So guys, pernah baca buku judulya 'Alive' atau 'Miracle in the Andes' ? Dua buku ini kontennya sama, bedanya yang Alive dibikin sama jurnalis namanya Piers Paul Ried, yang Miracle in the Andes dicipta langsung sama saksi hidup & salah satu korban tragedi namanya Fernando 'Nando' Parrado. film Alive (1993) ini based on buku Alive-nya Mr. Piers Paul Read. ada juga film 'I AM ALIVE' produksi tahun 2011, kalo yang itu based on Miracle in The Andes-nya Mr. Nando.
Nah ini dia dua buku yang saya baca selama masa-masa saya nyantri di HK dulu. Yang Alive nggak tau kayaknya nemu dari maktab indibat haha yang Miracle in the Andes minjem punyanya Adam adenya Mpit. 

Serius ya, saya itu kalo baca buku yang based on true itu pengennya baca terus, bikin nggak bisa lepas sampe baca sampe abis bukunya. Yaah walopun awal-awalnya rada ngebosenin gitu (soalnya pas awal buku diceritain detail tentang pribadi masing-masing orang yang jadi korban). Tapi pas udah nyampe tragedinya, pas hari-hari selama di andes itu sedih.... banget. Saran saya sih mending baca yang buku kedua (Miracle in the Andes), soalnya disitu lebih detail & lengkap. Lebih nyata soalnya kan ini langsung dari orangnya. kalo buku Alive itu hasil wawancara si Mister Piers ke korban yang selamat trus digabung-gabung. yaa kurang greget gitu deh.

Jadi gini pemirsya, film & buku Alive ini berkisah tentang tragedi bencana yang dialamin sama satu tim rugby dari sekolah kristen Stella Maris College di Uruguay. Kejadiannya 13 Oktober tahun 1972. Waktu itu mereka mau tanding persahabatan sama tim rugby di Chile, negara tetangga. Karna ini musim liburan alias musim dingin, mereka mutusin buat nyewa pesawat pribadi Fairchild FH-227D (bukan pesawat komersil). Awalnya pas take-off dari Montevideo (Uruguay) oke aja nggak ada apa-apa, tapi setelah transit sementara di daerah Mendoza- Argentina, pilot co-pilot mendadak ragu buat lanjut ke Chile soalnya cuaca agak nggak memungkinkan buat terbang. Apalagi mereka bakal lewat jalur pegunungan Andes. Anginnya serem coy. Apalagi, ini mereka terbang di sepanjang pegunungan Andes. Inget ya, Andes. Coba googling deh luasnya Andes kayak apa ._.

Yang paling saya ingat, kata Nando di buku MITA, mereka semua -anak anak tim rugby- pada marah & maki maki pilot co-pilot. Mereka bilang, "Dasar pilot pengecut, kalian kami bayar buat melayani penerbangan kami. Kami mau ke Chile!" Mr. Nando bilang, "Kami adalah sekelompok pemuda yang gagah berani dan tidak pernah takut pada apapun. Yidak ada yang bisa menghalangi kami."


ini cast pemain -tim Rugby- di film Alive,



 nah kalo ini foto (dokumentasi) aslinya,



Akhirnya karna ditekan disana-sini seperti Jokowi yang ditekan saat Kapolri pilihannya jadi tersangka, para kru dan penumpang pesawat; 45 penumpang (5 kru, 40 penumpang: anggota tim rugby lulusan Stella Maris ditambah beberapa keluarga termasuk ibu & kakak perempuan Mr. Nando, ditambah 2 orang suami-istri), bertolak ke Chile tanggal 13 Oktober setelah bermalam di Mendoza. 

Selama di perjalanan, anak anak tim rugby yang nggak bisa diem ini mondar mandir di kabin pesawat. lempar lempar bola dan bikin berisik sampe pramugaranya sewot karna mereka nggak bisa dibilangin. Namanya juga anak muda, hahaha *gaya om Rhoma* Kegaduhan di pesawat masih bertahan selama kurang lebih setengah jam penerbangan, karna setelahnya pilot co-pilot sadar ada bahaya badai angin di depan mereka.


Beberapa dari anak-anak rugby nggak sadar ada something wrong sampe akhirnya pesawat terbang rendah karna angin dingin ketemu sama angin panas dan pesawat kejebak di pusaran. Salah satu temen Nando yang namanya Numa Turcatti bahkan bilang, "apakah kita harus terbang sedekat ini dengan salju?", saking rendahnya pesawat mereka terbang.

Karna pandangan pilot kehalang tumpukan awan tebel, pilot co-pilot kaget pas tiba-tiba pesawat berhadapan sama dinding gunung. Pilot co-pilot udah berusaha nambah daya buat narik tuas tapi nggak bisa. Akhirnya sayap pesawat patah duluan (nabrak dinding), ekor lepas dan beberapa penumpang di belakang lepas dari pesawat.

Muka-muka yang tadi pada iseng, jail dan hepi berubah seketika jadi muka panik. Pesawat udah kehilangan kendali, tinggal nunggu kapan lepas landas. Akhirnya pesawat bener-bener jatoh, kursi penumpang berdempet maju kedepan, semua kejepit dari belakang. Untungnya beberapa cuma luka ringan. Yang paling pertama kali bangun namanya Roberto Canessa. Doi mahasiswa kedokteran tingkat kedua yang paling sigap bantu penumpang yang luka *dan yang paling ganteng setelah Nando haha*

Di belakangnya ada Marcelo Perez, sang kapten tim. Doi juga pemimpin yang bijak selama hari-hari mereka di tengah pegunungan Andes yang bersalju sebelum akhirnya meninggal karna ketimbun longsor salju. Ada juga Guztavo Zerbino, Carlitos Paez, Roy Harley, Bobby Francois, Rafael, Fito dan beberapa cowok lainnya yang langsung bangun dari kursi mereka buat bantu yang lain keluar dari himpitan kursi.

ini kapten Marcelo yang pake jaket biru & Roy disampingnya (tapi kalo di film Marcelo namanya jadi Antonio). 
Nah yang ini nih yang namanya Roberto Canessa, the main role. Canessa ini yang paling banyak nolong luka penumpang. Diawal jatoh pesawat, 7 orang hilang dan 5 orang mati. Yang masih bertahan hidup 33 orang. Co-pilot mati seketika tapi pilotnya masih idup. Sayangnya kondisinya kehimpit kursi dan nggak bisa gerak keluar sama sekali dari ruang pilot. Pilot jadi gila dan terus terusan ngigo, 'kita sudah melewati Curico, kita sudah melewati Curico..'. sampe kemudian mati besok harinya.

-ini adegan Nando dan kawan-kawan lagi merundingkan sesuatu di luar badan pesawat

Karna pesawat mereka kepotong dibagian ekor, jadi badan pesawat mereka nggak punya penutup di belakangnya. Pas malem tiba, semua orang menggigil dan mereka minta ke Marcelo sang kapten supaya bikin penutup di bagian ujung badan. Akhirnya sang kapten dibantu beberapa orang nutup lobang di badan pesawat pake tumpukan koper sama bangku. sedikit mengurangi dingin di tengah pegunungan. (bayangin ini lokasi daerah pesawat mereka jatoh di tengah-tengah pegunungan bersalju, sekelilingnya gak ada apapun kecuali bukit-bukit gunung).

Malam pertama itu mereka tidur dempet-dempetan, belom lagi ada yang patah tulangnya dan luka di kaki. Ada juga ibu-ibu (namanya Mrs. Fransisco Nicola) yang badannya nggak bisa keluar dari kursi, kakinya kejepit dan semaleman itu nangis terus sampe harus dibentak sama Carlitos karna berisik :( besoknya beliau mati karna beban mental & fisik yang nggak kuat. Kasihan.

Hari pertama mereka selama di gunung, menanti kepastian penyelamatan dari tim SAR dan nyari radio buat cari pertolongan, tapi nggak berhasil. Sinyal nggak bersahabat. Hari kedua, mereka ngeluarin mayat-mayat yang masih ada di dalem pesawat. Korban meninggal nambah lagi jadi 3 setelah malem pertama. Survivors tersisa 30 orang. Untungnya mereka masih punya coklat-coklat dan beberapa botol wine, jadi kapten Marcelo ngejatah coklat & wine itu setiap hari buat 30 orang supaya mereka nggak mati kelaparan di hari-hari kedepan.

Begitulah hari hari mereka selama kurang lebih 10 hari sampe longsor salju menghantam badan pesawat mereka pas mereka semua lagi nyenyak-nyenyaknya tidur. sedihnya disini, kapten Marcelo ditambah 6 orang lainnya meninggal :( 

Total survivors sekarang tinggal 21 orang. Nando yang jadi peran utama di tragedi ini akhirnya siuman di hari ke-7 (sebelumnya dia pingsan gara gara kepalanya kebentur).

Hari-hari setelah longsor jadi makin berat karna persediaan makanan udah abis. Wajah wajah yang tadinya sehat, segar dan muda sekarang udah berubah total jadi wajah wajah ketakutan, cemas dan frustasi. Kata Nando, "alam pegunungan yang angkuh membuat kami menjadi tua dalam waktu yang singkat. tidak perlu menunggu lama hingga mengubah kami menjadi pria-pria yang penuh kebingungan serta beban di wajah kami." 

Keliatan dari pas awal, muka muka Canessa, Nando, Roy dan semuanya yang masih mencling-mencling, dalam setengah bulan udah brewokan gondrong gak keurus. Kasian deh liatnya. Mana tadinya keker trus pada kurus ceking gitu kurang gizi. Kalo kata dokter pembimbing saya, "Otot yang tidak digunakan dengan baik selama 5 hari, kekuatan dan kualitasnya akan menurun 20%.." Bayangin aja mereka berapa hari, ototnya ilang mereun.


Selama dua bulan lebih tinggal di dalem badan pesawat yang sempit, mereka bertahan hidup dengan nggak ada air minum, gak ada nasi. Gak ada apapun lagi yang bisa dimakan. Cuma batang-batang rokok yang tersisa. Sampe akhirnya....


Di adegan ini, Nando ngumpulin semua sahabat-sahabatnya yang tersisa. No woman alive there (Mrs. Liliana Methol, penumpang non-tim rugby meninggal pasca longsor salju tapi suaminya Mr. Javier Methol masih idup & bertahan sama 15 survivor lainnya). Dengan sisa 21 orang yang ada, Nando ngasih kejelasan kalo mereka nggak akan bisa bertahan lama tanpa makanan. Apalagi mereka denger dari radio kalo pencarian mereka udah dihentikan. pesawat mereka nggak keliatan sama sekali, kayak cacing kalo diliat dari atas. "Kita perlu makanan. Tidak ada yang akan datang menyelamatkan kita. Kita harus menyelamatkan diri kita sendiri. Kita perlu makan untuk keluar dari pegunungan ini," kata Nando. 

"Tapi apa yang bisa dimakan? Mau makan apa kita?" tanya yang lain.

Di titik ini Nando cuma bisa diem dan melemparkan jawaban ke masing-masing akal 21 penumpang yang ada. Yang pertama sadar itu Carlitos, soalnya dia inget waktu itu Nando pernah bilang, "Aku akan makan daging mayat pilot, karna dia yang bikin kita jatuh disini." 

Kata Carlitos, "God. Aku nggak akan pernah sanggup memakan mayat." 

Semua yang ada disitu seketika nunjukin muka nggak setuju dan saling debat satu sama lain. "Apa kau akan memaksaku menjadi kanibal?" | "Tapi mereka yang ada diluar cuma seonggok mayat, ruh mereka udah pergi."  | "But i can't do this, never." | "Apakah kalian berfikir bahwa mungkin Tuhan meminta kita memakan mereka agar kita tetap hidup?"

Dan sederet percakapan pro kontra lainnya, sampe sampe Nando milih walkout dari forum *kayak di DPR aja hahaha* Tintin, tokoh cool di film ini menambahi, "Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita hanya perlu berdoa. Mungkin Tuhan akan memberi jawabannya malam ini." 

Dan hasil akhirnya, Canessa yang memutuskan. "Ya. Kita akan coba besok."

Finally, besoknya Canessa juga yang pertama kali ngiris daging mayat yang ada di luar pesawat. Semuanya cuma bisa berdiri dan ngeliat Canessa, nggak yakin apa ini keputusan yang benar. Tapi karna Canessa udah berhasil makan *ya walopun terpaksa*, semua akhirnya ikutan makan. Kejadian makan daging mayat yang udah mati ini waktu jaman dulu heboh diributin, publik menilai itu tidak manusiawi. Tapi sebagian yang lain memaklumi dan menerima, bahwa nyatanya mereka -16 orang yang masih hidup sampe hari ini- bisa kembali kerumah berkat asupan makanan dari onggokan mayat-mayat tersebut.

*lanjut*


Akhirnya selama hari-hari selanjutnya, mereka lanjutin hidup berbekal daging-daging korban yang meninggal di luar pesawat. Setiap harinya ada trio algojo, kalo dibuku detail banget Mr. Nando cerita bahwa tiga bersaudara Tintin, Fito sama satu lagi lupa namanya, mereka bertiga yang biasanya ngiris-ngiris mayat dan dijatah buat makan. Awal-awal rasanya jijik, tapi katanya lama lama mulai kerasa enak. Waktu di film, daging mayat yang dipotong digambarin kayak daging ayam yang baru dipotong gitu, masih ada darah-darah trus ada lemaknya hahaha great job.


Hari berganti hari dan satu persatu survivors mulai tumbang kesehatannya. Ada Arturo Nogueiro, salah satu tokoh favorit gue yang dua kakinya patah, jadi sepanjang hampir sebulan lebih dia cuma tidur diatas kasur gantung didalem pesawat. Di buku Miracle in the Andes, Arturo (kalo di filem namanya jadi Alberto Antuna. Nggak ngerti juga kenapa banyak yang diubah gitu namanya--') di sela sela perenungannya diatas kasur gantung, dia pernah bilang sesuatu hal yang hebat, begini: "..kenapa kita berdoa pada Tuhan Yesus? karena bangsa Indian menaklukkan kita dan menyebarkan agama kristiani. jika pasukan Muhammad yang menaklukkan kita, maka saat ini kita pasti berdoa pada Tuhan(nya) Muhammad, bukan Yesus."

Numa Turcatti (di filem namanya Federico Aranda) yang juga sesama kawan penderitaan diatas kasur gantung gegara sebelah kakinya membusuk ketebas besi waktu pesawat jatoh, memeluk Arturo disuatu malam saat Arturo menangis. "Kenapa kau menangis, Arturo?" Arturo menjawab dengan penuh keharuan, "Karna aku merasa sangat dekat dengan Tuhan. Indah sekali."

Besoknya, Arturo meninggal :( 

Nggak lama kemudian, Numa yang kondisinya memburuk. Besoknya lagi Rafael. Keduanya mati beberapa hari kemudian. Kondisi kayak gini bikin Nando udah nggak tahan lagi. Dia bahkan harus berantem mulut sama Canessa buat maksa dia sama sama ngedaki, cari jalan buat keluar dari kehidupan menyedihkan. "Kita harus pergi, Roberto. Sebelum kita berubah jadi binatang," kata Nando.

Setelah Rafael meninggal, Nando & Canessa plus Tintin akhirnya ngedaki di tengah musim dingin yang belom selesai. (ini udah saya skip scene dimana mereka sebelumnya mengembara buat nyari ekor pesawat, karna disana ada baterai radio. mereka pikir bisa ngerakit & nyalain radio pemancar buat nyari pertolongan. tapi hasilnya, nol.)

ini dia trio pendaki: Nando, Canessa, Tintin.


Selama 10 hari mereka ngedaki bukit bukit pegunungan di Andes, nyari jalan ke barat, ke arah lembah hijau Chile (2 hari bareng tintin, sisa hari selanjutnya tinggal Nando berdua sama Roberto, Tintin-nya balik ke pesawat karna bahan makanan nggak cukup buat bertiga). Buat sebagian orang, pasti agak nggak mungkin ngedaki Andes apalagi lagi musim dingin. Tapi buktinya duet Nando-Roberto berhasil gan! Awalnya Roberto ber-sikeras mau balik & nggak mau lanjutin pendakian. kata Roberto, "Kau punya kemauan Nando, tapi aku punya otak. Aku tak sekuat dirimu. Kita akan mati."


Tapi Nando dengan kebesaran tekadnya berhasil bikin Roberto bangkit lagi. "Kau tahu kenapa kita masih hidup sampai saat ini? Karna kita bisa mampu melakukannya, bahkan sampai sejauh ini. Tidak ada yang mustahil, Roberto. I swear to you. Kita akan keluar dari pegunungan ini. Kalaupun kita mati, kita mati karna kita sedang berusaha."

Dan akhirnya, akhirnya mereka emang bener-bener berhasil sampe ke lembah di Chile pemirsa! Ketemu pepohonan, rerumputan, ketemu kupu-kupu ketemu aer sungai dan ketemu penggembala yang nolong mereka. And at that time, it was cool!! Dari situlah Nando & Roberto dibantu penggembala Chile hubungin tim penyelamat buat bawa helikopter ke tempat pesawat mereka jatoh. Pas helikopter terbang diatas badan pesawat Fairchild, kebayang kan gimana surprisenya, gimana bahagianya 14 orang yang ditinggalkan Nando-Roberto selama 10 hari? Haha. Antara percaya gak percaya, finally, they came back to their life.

-ini muka muka yang bahagia waktu liat ada nando & roberto dari dalem helikopter. so touched!

 
-Ini pasca penyelamatan. Liat kan muka-mukanya, kurang gizi banget :|

 -ini Nando Parrado (kiri) & Roberto Canessa (kanan) yang asli. Di belakangnya penggembala yang bantu nyelametin mereka di lembah Chile.

-ini yang kiri pemerannya Roberto Canessa (Josh Hamilton), yang kanan Roberto Canessa yang asli. Mirip gantengnya!

-ini Mr. Nando Parrado & Mr. Roberto Canessa yang asli setelah 30 tahun kemudian. Mereka sekarang jadi orang sukses di Uruguay. Mr. Nando pengusaha besar, Mr. Roberto jadi dokter. 

-ini ke-16 survivors yang selamat dari 1972 silam. Udah pada beruban semua :')


Dan akhirnya, demikian cerita dari saya tentang cerita yang keren ini. Kalo mau tau banyak silahkan nonton sendiri filemnya, baca sendiri bukunya. Kalo di-review semua disini nggak cukup hahaha. Satu yang paling gue ambil dari cerita ini, bahwa pertama: Impossible is Nothing. Kedua, selama kita percaya ada Dia yang masih berkuasa, jangan pernah putus asa & selalu berdoa. Ketiga, hidup butuh keberanian. Keempat, persahabatan. Dan masih banyak sisi positif lain dari cerita nyata ini.


semoga menginspirasi! thanks for reading (:



You Might Also Like

0 komentar