Sepotong Episode

07.21


Sepotong Episode, seperti judul lagu lama ya. Iya emang. Lagunya Edcoustic. Biasanya diputer pagi-pagi sebelum sekolah atau Jum'at pagi pas santri haka pada bersih-bersih :')

Sepotong episode kali ini datang dari masa kini dan masa lalu. Saat Sabtu dua pekan lalu, aku bersama dua sohibqu Etom dan Eko mengunjungi kembali pesantren kami di kaki gunung Ciremai sekaligus menjenguk guru kami, pak Damanhuri yang saat itu drop dan dirawat di RS Permata Cirebon. Sejak siang hari, cuaca Kuningan memang sudah mendung-mendung mesra, dan gerimis tipis saat aku datang. Waktu yang tepat untuk menikmati hal yang kuidamidamkan sejak lama: miayam kantin! Tapi ternyata miayamnya abis sodara-sodaraa :(( dan teganya etom eko tertawa diatas penderitaanqu wkwk :(

Sesuai rencana, aku etom eko dan tamu kami dari jauh, teh Riri (temen sekabinet eko di BEM KM UGM), dari haka akan ke Cirebon jam 5 supaya sampe ke RS habis Magrib dan bisa dapet jatah jam besuk (jam besuknya 17.00-19.00). Tapi ternyata waktu itu kita kelamaan ngobrol dan mikir "kita mau naik apa ke Cirebonnya", secara waktu itu ujan lumayan deres. Eternyata kita baru tau kalo di Kuningan udah ada gocar *cryyyy* Alhamdulillah pemirsa jadi waktu itu kita cus segera ke Cirebon. Walau agak macet tapi kami sampai juga ke RS Permata jam 7 kurang.

Disana kami ketemu juga sama temen-temen Cissa alias konsulat Cirebon; Dian, Faizah, Nebil, Ceceu sama Fida. Karna itu udah mepet pisan jam besuk abis, langsung lah kita ke lantai 2 rumah sakit, ke ruangan intensif pak Daman dirawat. Kami disambut wajah-wajah tak asing yang dulu turut serta menjadi ayah-ibu kedua selama di haka. Ada pak Fakhruddin dan bu Dian, juga pak Fahmi dan bu Apri. Kamar rawat seperti masih ramai bolak-balik orang masuk, jadi kami ketemu aja dulu sama bu Mia di ruang khusus keluarga. Ibunda kami baru selesai sholat maghrib ternyata

"Assalamu'alaikum ibuuu.."

Bu Mia tampak sumringah melihat kami berempat. "Akhirnya yang bilang mau dateng, dateng juga..."

Berbincanglah kami disana sembari lepas rindu. Kalau sodara-sodara mau tau orang paling berjasa dalam kehidupan organisasi kami, dan bisa membuat kami-kami ini bisa muncul di luar sana sebagai pentolan organisatoris, bu Mia dan juga pak Daman lah salah duanya. Bu Mia terutama, pembina OSPAND (OSHK dan Kepanduan) yang gak pernah lelah mengasah skill organisasi kami. OSHK berbeda dengan OSIS pada umumnya, karena kami nggak cuma mengurusi hal-hal seputar program kerja, tapi menyeluruh sampai ke akhlak dan pembinaan santri. Dilan, kali ini kamu akan kukoreksi. Bukan rindu yang berat, tapi amanah. Langit dan gunung aja ga kuat :(

Tapi dengan ketekunan dan semangat yang bu Mia tularkan, kami semua belajar memanage diri kami sehingga bisa menjadi teladan dan qudwah hasanah bagi santri. Sekali lagi, itu berat :( Bu Mia lah yang membuat kami, terutama DPH Kabid dan staf-staf bidang menjadi orang-orang tangguh di masanya. Walau berkali-kali kami (termasuk saya) melakukan kesalahan, semua bersatu menutupi. Jangan sampailah aib organisasi kami diketahui santri, cukup kami dan kami yang akan membenahinya. Grade B dan tanpa ada satu orang pun yang direshuffle hingga akhir kepengurusan berhasil kami dapatkan, dengan motivasi dan nasihat-nasihat bu Mia, mba Titi, umi Retno dan segenap ustad ustadzah lainnya.

Ya, itu sepotong episod di masa lalu.

Di ruangan malam itu, bu Mia sedang menyortir barang-barang yang akan dibawa masuk ke kamar pa Daman dan yang ingin dibawa pulang. "Pusing euy ibu, banyak banget ini barangnya. Adaa aja yang dikasih alumni juga. Ngasih selimut, kasur, makanan. Ya Allah padahal mah banyak yang ga kemakan. Alhamdulillah punya banyak anak mah begini ya," kata ibu yang disahuti anggukan setuju dari kami.

"Iya atuh bu, yang sayang sama ibu sama pa Daman kan banyaak."

Kami menanyakan juga kondisi pak Daman sekarang. Karena terakhir sebelum berangkat, kami dikabari kalau pak Daman drop dan koma. Hal itu yang membuat saya bertekad harus jadi berangkat (walau saat itu sedang galau menunggu suatu kabar yang qadarullahnya nggak jadi di minggu itu). Amanah dana munashoroh yang digalang angkatan dari teman-teman juga harus saya sampaikan langsung.

"Alhamdulillah abi sekarang udah siuman, udah stabil. Padahal sebelumnya waktu tiba-tiba drop itu, di ICU sini nggak dapet kamar jadi harus nunggu dulu. Wah udah ibu udah pasrah aja, harus ikhlas. Wah udah pasrah sama Allah kalau sampe terjadi yang paling buruk. Akhirnya dapet kamar dan dirawat intensif. Abi udah susah juga mau ngomong atau minta sesuatu, harus pake isyarat sampe kita juga bingung maksudnya ini atau bukan. Kayak tadi minta yakult, harus pake isyarat angka 2 dulu. Maksudnya teh 'minum 2 botol setiap hari'. Baru kita ngerti ooh maksudnya yakult."

Ya Allah ibuu, yang paling ngerti emang deh cuma istri tercinta. Kami juga melihat betapa kuatnya ibu Mia. Siap mendampingi walau kadang gantian juga sama bu Apri. Siap menghadapi kabar dan situasi terburuk. Sampai akhirnya sesaat sebelum pamit, amplop berisi dana munashoroh tanda cinta kami untuk keluarga bu Mia dan pa Daman kuberikan. Saat itu bu Mia tampak haru menahan tangis. "Ya Allah.. Ngerepotin pisan.."

"Bu, ini mah belum ada seberapanya dari apa yang udah ibu sama pak Daman kasih ke kita. Diterima ya bu, dari temen-temen.. Semoga bermanfaat," kataku sambil merangkul pundak ibu, dengan muka dikuat-kuatin biar nggak ikutan nangis.

Pak Daman, guru kimia kami, memang sudah drop sebelum berangkat umroh bersama rombongan guru-guru yang lain. Walau sudah divaksin meningitis, tapi takdir Allah memang nggak ada yang tahu. Tapi Alhamdulillah kata bu Mia, selama umroh pak Daman tetep kuat sa'i, kuat jalan dan nggak ngeluh. Pulang umroh, pak Daman ternyata belum fit juga. Sampe akhirnya nggak ada perubahan, dirawat dan baru terdeteksi ada infeksi TB paru dan infeksinya sampai ke otak. Pak Daman yang dulu kekar dan bugar sekali, beberapa bulan terakhir menjadi kurus. Tapi kita tahu, perjuangannya sejak dulu hingga sekarang untuk membina santri-santrinya menjadi intelektualis yang seimbang akhlak dan agamanya sudah dilakukannya dengan maksimal. Semakin kesini semakin banyak santri haka yang masuk dan juara olimpiade, yang mengantar ya beliau. Selain mendidik kami, pak Daman juga aktivis dakwah di Kuningan. Pak Daman dan Bu Mia ialah contoh teladan kami bagaimana keluarga dakwah yang saintis dan tetap memberikan waktu terbaiknya untuk agamanya.

Sampai kami berpelukan dan berpamitan dengan ibu Mia, kami tak sempat bertemu pak Daman. "Gapapa, biar abi istirahat aja bu," jawab Etom saat kami ditawari masuk ke kamar.

Saat itu kami berdoa yang terbaik buat pak Daman sekeluarga.

Selang 5 hari kemudian, tepatnya di kamis malam, sampailah kabar ini kepada kami. Innalillahi wa inna ilahi raaji'un, guru kimia terbaik kami telah menghadap ke haribaanNya. Saat itu saya baru saja pulang dari kampus, dan perubahan hati saya cepat sekali. Dari yang sedang disisipi bahagia dan juga bertemu bercanda dengan teman-teman di kampus sebelum pulang, tiba-tiba ndak beberapa lama sampai rumah membaca kabar tersebut. Walau sejak sore memang kami dikabari kalau pak Daman drop lagi, tapi mendengar pak Daman pergi tetap menyisakan sedih yang sangat di hati kami. Saya menangis malam itu. Ingat betapa banyak kurangnya kami waktu dulu menjadi muridnya, ingat betapa sabarnya beliau mengajar kami sampai mendampingi kami hingga UN dan persiapan SBMPTN. Ingat bu Mia. Ingat Faiz dan Syafiq. Ya Allah..

Tapi mudah-mudahan inilah takdir terbaik pak Daman. Bahwa memang sudah harusnya pak Daman berisitirahat atas segala perjuangannya selama ini. Juga perjuangannya melawan penyakitnya. Insya Allah husnul khatimah ya pak.. Bapak menjadi bagian dari haka dan menebarkan kebaikan kepada kami juga masyarakat. Insya Allah di alam sana bapak dilapangkan dan diterangi dengan amal-amal juga pahala yang terus mengalir :")

Terima kasih, pak sudah menjadi episod terbaik kami selama di haka. Bapak yang tidak akan pernah kami lupa. Terima kasih sudah mengingatkan kami untuk terus menjadi yang terbaik, dan mengingatkan kami untuk selalu semangat berubah menjadi baik. Hidup kita cuma sebentar, menyesal sekali kalau harus menunggu sakit atau tua untuk menjadi baik. Semoga kita pun akan dijemput dan dimatikan dalam keadaan baik juga. Sampai jumpa lagi, bapak, mudah mudahan di surgaNya :)


Salam,

Depok, 26 Maret 2018 | 21:27
sedang flu berat dan meriang

You Might Also Like

0 komentar