Keperantaraan Kita

08.46


Hari ini, kita hidup diatas fungsi-fungsi perantara yang telah dijalankan orang-orang terdahulu. Bisa jadi orang-orang yang kita kenal sebelumnya, bisa jadi orang-orang yang entah siapa, dimana, dan kapan hidupnya. Bisa jadi kebermanfaatan yang kita nikmati hari ini, adalah hasil kerja mereka-mereka, puluhan atau ratusan orang yang belum pernah kita jumpai. Dan bisa jadi juga apa yang kita lakukan hari inipun adalah bentuk keperantaraan untuk melanjutkan kebermanfaatan yang telah kita dapatkan. Mungkin bahasanya 'pay it forward' ya. Ada yang pernah nonton film itu? Film yang sangat menyentuh untuk menyadarkan kita tentang nilai keperantaraan untuk terus menyampaikan kebaikan walaupun ujungnya tak mesti mendapat feedback yang baik pula. Yang penting kita terus berbuat baik, lebih baik lagi saat orang meneruskan kebaikan tersebut.

Ya. Sebab kita tak pernah tau, akan sejauh mana hasil usaha dan kerja-kerja kita sekarang. Yang kita perlu tau ialah ruang perantara ini berada dalam radius yang luas dan berskala besar. Kita diundang kedalam ruang ini untuk memberikan sebaik-baiknya kontribusi dan menjadi yang terbaik dalam mengambil peluang kebaikan. Dalam agama ini kita diajarkan untuk berikhtiar semaksimal yang bisa kita lakukan. Sebab Allah juga yang mengajarkan hambaNya bahwa salah satu dari tiga hal yang akan terus mengalir pahalanya ialah amal jariyah. Urusan hasil, biar Allah yang tentukan. Dan tentu juga, ketulusan niat dan keikhlasan yang membedakan nilai kontribusi kita di mataNya. Ikhtiar kita termasuk mengusahakan untuk terus meningkatkan kapasitas dalam berlomba menjadi yang terbaik di bidang dimana kita ingin berkontribusi. Sahabat Rasul dulu banyak yang tangguh dan sholih di masanya, tapi Rasulullah tetap harus menyeleksi diantara mereka siapa-siapa saja yang bisa ditempatkan di posisi-posisi strategis seperti panglima perang dan gubernur. Apa yang membedakan? Kompetensi.

Dua hari terakhir ini, saya kembali disadarkan tentang peran keperantaraan ini. Puskomnas FSLDK berkumpul di Cafe Cepat Wisuda, Kukusan untuk sama-sama mengasah skill sebagai trainer yang nantinya sepanjang Maret-Mei akan diterjunkan ke beberapa wilayah untuk melatih perwakilan Puskomda sebagai trainer untuk mentraining LDK di daerahnya masing-masing. Maka agenda baik ini dinamakan Training for Trainer (TFT). Seperti yang saya ceritakan di instagram, TFT ini dan juga agenda-agenda FSLDK lainnya berdiri diatas sebuah narasi besar. Bahwa FSLDK harus naik level agar dakwah dan syiar Islam dapat mewarnai dakwah kampus di seluruh Indonesia. Salah satu sarananya ialah TFT ini. Bagaimana FSLDK mencetak kader-kader dengan kompetensi terbaik yang dimulai dari Pengurus Puskomnasnya, diturunkan ke Puskomda sampai ke tataran LDK. Regenerasi selanjutnya akan lebih mudah meneruskan kalau Puskomda dan LDK juga mentraining penerusnya di masa yang akan datang dengan apa -apa yang mereka dapatkan nanti di TFT.

Ya, beginilah. Kita tak dapat imbalan apa-apa dari TFT bahkan agenda-agenda dakwah yang ada. ADK tidak pernah mendapat apa-apa, justru banyak keluar tenaga, pikiran dan uang. Tapi janji Allah yang harus kita percaya. Bahwa dalam ruang keperantaraan ini, semakin kita berikan yang terbaik semakin Allah berikan 'imbalan' yang layak. Sekarang saya lagi suka banget menggunakan frase 'alirkan harap yang jauh'. Kenaapa? Karena harapan yang jauh itulah yang akan mendorong kita untuk semakin menjadi yang terbaik dan tertotalitas tanpa batas. Jadi, semangat selalu teman-teman seperjuangan yang sedang mengerjakan proyek-proyek kebaikan. Semoga Allah berikan keberkahan dan kemudahan pada setiap urusan. Sampai jumpa di daerah yang Allah takdirkan aku datangi ya!


Salam,


Salma Muazaroh
Wakakom D FSLDK Indonesia 2017-2019


*terinspirasi dari sebuah ulasan utama majalan Tarbawi

You Might Also Like

0 komentar