Cintaku Jauh di Pulau
05.53
“Mai, oper sini oper sini!”
Mai tampak fokus mencari posisi kawan setimnya. Matanya yang jeli mulai memasang target sempurna. “Gay, tangkaap!” teriaknya pada Gayatri.
“Sam, halang Sam!”
Hisam, sang gelandang yang mengawal Mai berusaha menghalau gerak cepat kapten tim lawannya itu. Namun sayang, usahanya terlambat. Bola yang berada dalam kuasa Mai sukses melayang pada Gayatri. Tapi tackling Sam berhasil membuat Mai terjatuh. 9 detik setelah bola ditangkap dengan baik oleh Gayatri, gol pun tercipta. Tiada bek yang sanggup menjegal Gayatri, si jawara atletik putri SDIT Depok Madani.
PRIWIIIIIT!
“Full time! 3-2!” Putra, wasit netral yang ditunjuk dari kelas 5 mengisyaratkan bahwa pertandingan telah usai.
Ladies FC pun menang atas Boys United. Ya, sore itu tim futsal putra dan putri kelas 6 SDIT Depok Madani beradu untuk yang kesekian kalinya. Bukan turnamen. Bukan classmeeting. Hanya adu gengsi saja. Menonton anak laki-laki bermain sesama anak laki-laki sudah biasa, bukan? Di sekolah ini, anak laki-laki dan perempuan ‘bertempur di lapangan’ menjadi sesuatu yang luar biasa. Keistimewaan ini khusus terjadi pada angkatan Mai dan (Hi)Sam. Para guru sudah tidak heran dengan big match antara Mai cs. versus Sam cs. Meski sudah diingatkan berkali-kali, tetap saja perseteruan atas nama benda bundar bernama bola ini tak bisa dipisahkan. Apalagi keduanya punya fan base (re: supporter) yang cukup besar baik di kalangan teman-teman sekelas maupun adik-adik kelas. Woah.
“Bisa kaliiii traktir kita bakso sekelas…….” Gayatri dan personel futsal Ladies FC kompak berseru setelah heboh ber-selebrasi ria pasca menang atas seteru abadi mereka. Yang disoraki menanggapi dengan wajah bersungut.
Bagi kedua kubu, pertandingan futsal ini semacam big match rasa El-Clasico antara Real Madrid versus Barcelona. Untungnya perseteruan tidak berlanjut hingga ke dalam kelas. Di luar lapangan, mereka akrab satu sama lain.
Begitu pula antara Mai dan Sam. Keduanya terkenal sebagai pemain andalan di timnya masing-masing. Saat tackle Sam membuat Mai terjatuh, Sam pasti akan buru-buru melihat keadaan Mai. Seperti yang terjadi sore itu. Mai meringis, setengah mengaduh setengah cengengesan.
“Nggak kok nggak papa. Hehe. Cuma sakit dikit aja,” kata Mai sambil mengibas celana olah raganya yang kotor. Tetap saja Sam merasa bersalah tiap kali harus melakukan tackle pada Mai atau pemain Ladies FC lainnya. Yaa walaupun kekuatan tacklenya tak seberapa.
“Beneran, nggak papa? Duh maaf ya,” Sam menggaruk kepalanya yang yah, tidak gatal sama sekali.
Mai nyengir lebar. “Namanya juga main futsal. Yang penting kali ini, aku yang menang!”
Sam terdiam melihat wajah sumringah Mai, kemudian ikut nyengir. Hari itu -dalam kisah polosnya- Sam baru menyadari. Bahwa Mai, di tahun-tahun kemudian adalah seseorang yang ia tunggu. Perasaan itu terjaga begitu saja dalam tempat terbaik di hati Sam. Tanpa Sam sanggup tunjukkan atau sampaikan. Pada siapa saja. Juga pada Mai. Begitu saja.
Juni, 2015
Mai kini ada di Jerman, melanjutkan S2 di Heidelberg University. Sam masih di Indonesia. Menunggu kesempatan yang sama sembari bekerja di perusahaan besar. Keduanya kuliah dan lulus dari kampus yang sama, beda fakultas saja. Persahabatan keduanya tak berubah. Perasaan Sam pada Mai pun tetap sama. Bagaimanapun banyaknya wanita cantik dan pintar bertebaran di sekeliling Sam, ah, tetap saja.
“Sam! Jangan lupa final liga champions!”
Chat whatsapp dari Mai. Sam tersenyum dan membalas, “Sip! Jangan lupa kalau Barca kalah, kirim hadiah dari Jerman.”
“Iya iya. Mau apa? Kaos bekasnya Messi? Keringetnya pun aku kirim!”
Sam tertawa. Malam itu Juventus bertemu Barcelona di Berlin. Mai begitu antusias dan pede bahwa klub jagoannya, Barcelona, akan menang dan angkat piala. Sam pun tak mau kalah. Sam bukan pendukung Juventus. Tapi demi gengsi masa lalu, ia ngotot Juve yang akan juara.
Ah, Mai. Aku rindu. Sepenggal kalimat yang tak pernah terbaca oleh Mai.
Diam-diam malam itu Sam berdoa. Kalau Barca juara, ia juga ingin memberikan hadiah untuk Mai. Usai Mai pulang studi nanti, Sam akan datang ke rumah Mai. Datang pada ayah Mai. Ya!
Sam lalu memasukkan smartphone ke saku jaketnya. Bergegas pulang dari kantor. Tak sabar menanti laga antara dua calon jawara Eropa.
Namun siapa sangka di perjalanan, Sam bertemu dengan takdir. Motor yang dikendarainya ditabrak sedan berkecepatan tinggi dari arah berlawanan. Sam terpental jauh. Dari kepalanya mengucur darah segar. Beberapa tulangnya remuk.
Di malam yang panjang itu, mata Sam terpejam. Dan Barcelona menang 3-1 atas Juventus.
—————————————————————————————–
Dulu pernah baca buku puisi-puisinya Chairil Anwar yang judulnya ‘AKU’. Salah satu puisinya berkesan buatku. Kebetulan di-tag dan diajak ikutan challenge #PuisiYangBercerita sama kak Siti. Eh, seketika inget puisinya Chairil Anwar di buku Aku dan nginget cerita masa SD dulu haha. Jadilah ngarang-ngarang sambil bayangin feel sedihnya si tokoh di puisi itu.
Waktu baca puisi ini ngerasa sedih dan kesepian. Ngebayangin perasaan yang hampir tapi tak sampai. Yah, barangkali itu salah satu seni menunggu. Maaf kalau ceritanya kurang berkenan, masih belajar. Hehe. Mohon kritik sarannya :>
Dan.. Ini dia penggalan puisi Chairil Anwar yang berkesan itu.
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
1946
Bonus soundcloudnya Vidi Aldiano :)) | https://soundcloud.com/vidialdiano/pupus-kasih-tak-sampai-mash-up
1 komentar
mau baca-baca .... malah asyik ndengerin lagu2 nya ... fisioterapi telinga dan hati dulu aja deh ...
BalasHapus