Romantisme Fatimah-Ali (yang Tidak Pernah Usang)

06.53


Ada rahasia terdalam dari kisah cinta Fatimah dan Ali, yang mungkin dunia sudah banyak tahu tentangnya. Tapi anehnya, kami tidak pernah bosan mendengar dan mengagumi romantisme diantara keduanya. Sungguh tidak pernah. Bahkan mampu membuat kami iri. Bisakah kami menjadi Fatimah dan mendapatkan yang sebaik Ali? Akankah cerita cinta kami se-menggugah cerita cinta Fatimah dan Ali? Setidaknya, diakhir cerita kita akan berdoa; Ya Tuhan, sisakanlah kami seseorang yang baik seperti Fatimah, atau Ali. Satu saja. :)

Ingatkah readers tentang banyaknya pria dan pemuda yang menginginkan Fatimah menjadi istri? Juga beberapa sahabat Nabi yang meminang Fatimah? Diantaranya, ya. Abu Bakar Ash Shiddiq RA. Siapa yang tidak tahu tentang Khalifah Abu Bakar? Berapa banyak sahabat yang beliau Islamkan, berapa banyak harta yang beliau sumbangkan untuk Islam, dan berapa besar pengorbanannya untuk Ayahanda Fatimah; Rasulullah SAW. Saat Ali tahu Abu Bakar juga meminang Fatimah, Ali yakin bahwa Abu Bakar-lah yang paling mampu membahagiakan Fatimah. Apalagi, beliau seorang saudagar. Secara finansial, Abu Bakar pasti orang yang tepat.

"Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku," kata Ali.

Namun ternyata, lamaran Abu Bakar ditolak. Semangat dalam hati Ali tumbuh lagi. Berharap ada kesempatan yang diberikan untuknya maju sebagai pendamping Fatimah. Tapi lagi-lagi, ujian untuk Ali belum berakhir. Sahabat Rasul yang lain, yang dirasa lebih baik dibanding Ali maju melamar Fatimah. Ya! 'Umar bin Khattab orangnya. Dan untuk yang kedua kalinya, Ali merasa yakin bahwa Fatimah akan lebih baik bersama 'Umar dibanding dirinya. 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau bahkan mempersilahkan
Itulah pengorbanan

Pada saat kabar terdengar bahwa lamaran 'Umar juga ditolak, Ali pun kaget, juga bingung. Kriteria seperti apakah yang diinginkan Ayahanda Fatimah? Sampai teman-teman Ansharnya lah yang membangunkan lamunan dan membangkitkan semangat dalam diri Ali. 

"Mengapa engkau tak coba melamar Fathimah? Sepertinya, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.."

"Aku?"

"Ya, engkau wahai saudaraku!"

"Aku hanya seorang pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?"

"Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!"

Hingga akhirnya Ali yang berani, menghadap Sang Nabi. Disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi dan tepung kasar untuk makanannya. Meminta waktu dua atau tiga tahun bersiap diri? Ah, itu sungguh memalukan. Usianya sudah berkepala dua sekarang.

Kawan pasti sudah tahu kan kelanjutannya? Haha. Iya, Nabi menjawab, "Ahlan wa sahlan." Membuat Ali bingung. Membuat Ali diolok-olok teman-temannya karena mengira jawaban Nabi adalah sebuah kebingungan untuk menolak, namun bingung juga untuk menerima. 

"Bodohnya kau, Ali! Satu saja sudah cukup. Maksud kami, kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan keduanya! Dua-duanya berarti ya!" Kawan-kawannya serempak berbahagia atas diterimanya Ali menjadi menantu Baginda Nabi.

Inilah jalan cinta para pejuang
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab
Disini, cinta tak pernah meminta untuk menanti
Seperti 'Ali
Ia mempersilakan
Atau mengambil kesempatan
Yang pertama adalah pengorbanan
Yang kedua adalah keberanian

Kemudian Rasulullah mendoakan keduanya, "Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajukan yang banyak." (Kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2: 183 bab 4)

"Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah jatuh cinta sekali pada seorang pemuda."

"Kalau begitu, mengapa kau mau menikah denganku? Siapakah pemuda itu?"

(Fathimah tersenyum)

"Pemuda itu adalah dirimu."

-------------------------------------------------------
Posting ulang dari sebuah broadcast dengan editing

Depok, 28 April 2015 




You Might Also Like

0 komentar