Galaksi 15 Dimensi 4 (Part 2)
06.07[masih lanjutan edisi horor, sepesial requestnya Eca]
Rumah Danau, Lembang
Masih hujan di tengah malam, 2017
...........
"Jangan lupa..."
Eca makin spot jantung. Begitu juga yang lain. Mendadak selera makan hilang.
"...kunci pintunya."
Lalu.
TUT TUT TUT...
Seisi rumah kehilangan keberanian dengan teror yang barusan mereka terima.
Ika kemudian tersadar satu hal. "Kalian..."
Ika menatap pintu belakang yang tadi masih terbuka. Tapi suara Ika terlalu sulit dikeluarkan.
"Pintu belakang..."
"Guys kita mending telfon polisi aja deh daripada kayak gini nggak jelas.." kata Fya memecah kebisuan.
"Jangan Fy, nanti kalo orang itu tau kita lapor polisi, dia ngapa-ngapain kita gimana?" sahut Dedepi yang mungkin udah banyak terpengaruh drama korea.
"Duh trus gimana ini. Kita nggak bisa kemana-mana juga. Hujan deres..."
"Jangan-jangan..." kata Wider.
"..orang itu.." disambung Bongki.
".. udah ada di dalem rumah kita..." samber Dame yang langsung dicakar Eca. "Dame ihh jangan sompret gitu ah," kata Eca. Bahasanya Eca sih, digrawok.
"Loh jangan-jangan tadi dia nelfon dari dalem rumah kita........" Sepir menambahi
"Jangan-jangan dia ada di lemari kamar kita.."
"Huaaaa!!" Micut tiba-tiba histeris sendiri. Tapi imut.
"Yaudah semuanya kumpul di kamar. Udah diem aja kita disana cepet..." kata Dame bergegas. Meninggalkan piring-piring makanan yang masih hangat di depan mereka.
"Bawa makanan juga sih..." Fya yang kelaparan membawa beberapa makanan dan meminta Wider juga membawa piring lainnya.
"Dam pintu belakang gimana?" tanya Ika.
"Duh iya pintu belakang."
"Sepir Pipit, temenin gue deh kita kunci pintu belakang," kata Dame. "Karen sama Nabila, sama Dedsky juga deh kunci pintu atas ya plis! Pintu jemuran harus dikunci. Jangan-jangan dia nongkrong disana.." Dame jadi ngeri ngebayangin orang itu punya kamera cctv tersembunyi di dalem rumah mereka.
"Hah alay mending lo aja deh yang keatas. Gue sama Karen yang ngunci pintu belakang," sahut Nabila protes.
"Dih lo takut lay? Wkwk"
"Nggak lah lay, gue mah jagoan," halah Nabila, padahal mah takut gitu..
"Yaudah lah buruan alay kita keatas!" Pipit nampak paling semangat.
Kemudian akhirnya Nabila-Karen-Dedsky ke belakang, Dame-Pipit-Sepir keatas. Sampai di pintu belakang, Karen mengamati sekeliling setengah deg-degan. Nabila buru-buru menutup pintu, menutup gorden yang masih terbuka dan mengunci pintu. Kunci disimpan di bawah gelas diatas meja makan. Sip.
"Nggak ada apa-apa kan Bil. Horor banget sih ini rumah," kata Karen.
"Udah jangan mikir macem-macem bes biar beneran nggak ada siapa-siapa," kata Nabila.
"Aku jadi takut..." gumam Dedsky berjaga di belakang Karen dan Nabila. Padahal tanpa sepengetahuan mereka, ada tetes-tetes air berada di sekitar dapur belakang...
Di ruang atas, Sepir seperti biasa hobi menakut-nakuti padahal dia sendiri juga takut. "DAM PIT AWAS ITU DI DEPAN KALIAN!"
Dame dan Pipit yang sukses dibikin shock langsung menyeringai. "Bir... Plis jangan sekarang...."
"Kenapa sih dam lo suka banget sama yang horor-horor," kata Sepir.
"Gue mah mendingan horor yang setan daripada horor psikopat. Tiba-tiba lo lagi sendirian di kamar trus ada yang narik kaki lo dari kolong tempat tidur, gimana coba Pir... Huft," sahut Dame.
"Tinggal gue tendang lah mukanya," jawab Sepir sambil ngakak. Kayak gampang amat gitu ya.
"Kalo yang narik Jabir gimana Pir," Dame yang sekarang ngakak.
"Yeee......" Sepir noyor Dame tapi sambil senyum-senyum. Sepir mah gitu orangnya.
Pipit tiba-tiba melipir sendirian ke ruang setrika di sebelah ruang jemuran.
"Pit lo ngapain... Jangan jauh-jauh napa," kata Sepir sementara Dame buru-buru mengunci pintu luar yang berhubungan langsung sama balkon dan jemuran.
"Gue mau matiin lampu Pir daritadi lampunya nyala ih boros," Pipit terus berjalan ke ruang setrika.
Dame berjalan terburu-buru setelah mengunci pintu dan menggamit lengan Sepir. "Buruan Pir kita turun... Gue jadi parno nih lama-lama diatas."
"Itu si Pipit daam masih disono," Sepir mau nggak mau ikut jalan buru-buru.
"Hah Pipit? Piiiiit!! Piiit buruan turun ya Piiit!!"
Sedetik dua detik tidak terdengar suara Pipit gasrak-gusruk lagi.
"Piiiiit!! Kita turun duluan nihhh," Sepir berteriak terakhir kali sebelum turun tangga.
Samar-samar, suara Pipit terdengar. "Iya..."
Sesampainya dibawah, Dame dan Sepir segera bergabung dengan yang lain di kamar utama. Yang bednya besar dan kamarnya luas.
"Pipit mana?" tanya Eca melihat ada yang kurang dari rombongan pengunci pintu.
"Pipit diatas katanya mau matiin lampu ruang setrikaan," sahut Sepir.
"Yaampun Pipit sempet-sempetnya lagi matiin lampu," Eca sewot.
"Yaudah sih Ca daripada elo lampu sampe jam 8 pagi juga masih nyala," Sepir balik nyemprot.
"Yaudah sih Bir, gue mah gitu orangnya..." mereka yang sewot, mereka juga yang ketawa.
"Lah Fya, Nden sama Dedepi mana dah?" Dame ikut nanya, setelah melihat ada dua bocah yang kurang.
"Mereka lagi ke kamar mandi di kamar sebelah. Kamar mandi sini dipake Wider soalnya," jawab Depe yang lagi as(y)ik selimutan yang kemudian dibalas "OOH" sama Dame.
Di kamar itu, semua berkumpul jadi satu. Kamar dimana mereka bisa sholat berjama'ah kayak di mushola, bisa main futsal, main karet, main monopoli, nonton drama apa aja, kadang karaokean, kadang murottal sambil murojaah bareng biar nggak jahiliyah mulu gitu, kadang juga jadi tempat curhat berjamaah. Ada figura super gede juga, majang foto studio ala keluarga di Jonas Bandung. Ada juga dinding penuh wall notes dan corat-coret doodles penuh kreasi. Pokoknya ini kamar siapa aja boleh tidur, kamar milik bersama lah judulnya. Walopun sebenernya di rumah ini ada 6 kamar. Kayak kosan elit.
Sementara di kamar sebelah, Fya dan Nden malah asik buka-buka album kenangan dari buffet kecil.
"Yaampun ini foto jaman kapan? Ih meuni rajin pisan yang ngumpulin fotonya," kata Fya.
"Iya ih Fya ini mah foto jaman kita naik Mahameru bareng," Nden jadi ikutan seru merhatiin foto-foto tahun lalu saat mereka naik gunung bersama.
"Indah banget ini.. Hayuklah kita naik lagi," Fya jadi terharu. Nden juga.
Nggak lama kemudian, Fya bangkit membawa album itu dan album lainnya. Lumayan biar nggak bosen. Sambil liat foto sambil makan..
"Ayuk Ndeen kita ke sebelah lagi," kata Fya seolah lupa dengan kejadian horor dirumah mereka. Nden pun beranjak dari tempatnya.
"Kaliaaan aku bawa album kenangan loh, lucu-lucu banget," Fya langsung nimbrung di kamar besar.
"Si Dedepi mana Fy?" tanya Wider.
"Lah, Dedepi mah nggak ke kamar mandi sama kita. Katanya dia ngambil minum, trus katanya mau nyamperin kita lagi tapi nggak balik-balik, yaudah kita kesini aja," kata Fya. "Emang belum balik dia?"
Eca dan Dame jadi geregetan. Eca kemudian bangkit dan menyambar tangan Dame. Kenapa musti Dame.
"Lay buruan kita seret si Jibo sama Pipit," kata Eca berapi-api. Dame he'eh - he'eh aja.
"Dedepiiiiiii," teriak Eca.
"Heh Eca nggausah heboh napa sih, mau lo disamperin psikopat kayak di filem-filem gitu," Dame tampak sebal.
"Oiya lay aduh khilaf," Eca nyengir. Kemudian mereka bergegas menuju ruang makan, dimana dispenser ada disitu. Disitu ada dispenser, pasti disitu ada Dedepi. Tapi mereka melongo waktu ngeliat nggak ada siapa-siapa di ruang makan. Sepi. Hening. Cuma suara hujan yang masih deras mengguyur diluar sana disusul suara geledek.
"Lay, Dedepi mana?" Eca bisik-bisik. Tapi bisik-bisiknya Eca masih tetep kenceng. Kalo ngomong kayak tereak, kalo tereak udah kayak pake mic.
Dame angkat bahu tanda tak tahu. Yang pasti, mereka menemukan satu kejanggalan; kulkas yang berdiri tak jauh dari meja makan berada nampak menganga dengan pintu setengah terbuka. Mungkin Dedepi ada dibalik pintu kulkas?
Eca dan Dame sama-sama menatapi pintu kulkas. 20 detik berlalu dalam hening dan mereka berdua saling bertatapan heran. 'Kok nggak ketutup-tutup sih kulkasnya?'
"Dek...." panggil Eca dan Dame berbarengan.
Tiba-tiba angin berhembus kencang, dan.. pintu kulkas tertutup. Tapi tidak ada Dedepi disana.
"AAAAAAAKKK!!'
Eca dan Dame sontak berteriak saat seseorang muncul dibelakang mereka. Muncullah Dedepi dengan wajah bingung sambil ngakak keheranan.
"Lo pada nyariin gue?"
"MENURUT LO AJA DEK!"
"Iihh kasar... Gue tadi habis nyari senter di laci situ, siapa tau nanti mati lampu," kata Dedepi nyari alibi.
"Yaampun jagoan banget sih lo, buruan deh balik kita ke kamar." kata Dame masih rada kesel gara-gara jantungan.
"Lay si Pipit lay," Eca mengingatkan.
"Oiya, eh ke atas dulu deh kita. Nyusulin Pipit," ujar Dame sambil melangkah bersama menuju tangga ke lantai atas.
PAT.
Baru saja mereka sampai ke tangga yang berseberangan dengan kamar besar, tiba-tiba bencana datang. Lampu mati. Gelap. Terdengar suara histeris ala ibu-ibu rempong dari dalam kamar besar.
Eca, Dame dan Dedepi otomatis berhenti. Jantung berdisko.
"Dedepi... senter...." kata Eca bergetar.
Dedepi hampir lupa sedang memegang senter di tangannya. Kemudian dia segera menyalakan dan tepat lampu senter menyinari wajahnya yang juga dipenuhi kecemasan.
"Toing! Jangan nyenter ke muka lo Jiboo. Serem!!" Eca ngomel lagi.
"Pipiiiiit!!" Dame meneriaki nama Pipit, kali aja dia masih diatas. Tapi hening, nggak ada jawaban.
"Pipit udah turun kali lay," Eca bisik-bisik. Nggak lama setelah Eca bisik-bisik, mereka melihat cahaya lain seperti cahaya lilin menyala dari lantai atas. Tapi mereka nggak sanggup untuk teriak, atau sekedar bertanya itu Pipit atau bukan.
Akhirnya setelah dorong-dorongan di tangga, mereka memutuskan untuk berlari ke kamar besar di seberang mereka ditemani cahaya senter. Yang mereka takutkan cuma satu; tiba-tiba ada orang lain muncul di lorong rumah.
Sesampainya di pintu kamar, lagi-lagi trio Asmadrid ini pucat untuk yang kesekian kalinya: pintu kamar nggak bisa dibuka. Jleb.
"WOOOOYY!! BUKA PINTUNYA WOOY!!" Eca parno beneran.
"LAAAH?? KIRAIN KITA KALIAN YANG NGUNCI PINTUNYA DARI LUAAR! KITA NGGAK NGUNCI DARI DALEM CAAA" sahut yang didalem.
"F*ck!" gerutu Eca. "AAARRGGH"
Dame dan Dedepi cuma bisa lirik-lirikan doang.
"Eh bentar," Dame terdiam sesaat. "PIPIT UDAH DIDALEM BELOM?" teriaknya.
"BELOM DAAAMMM!"
Dihinggapi full-shock-disco-spot-jantung, akhirnya Dame-Eca-Dedepi bersepakat untuk memberanikan diri lari keatas. Kabur sekalian nyamperin Pipit. Mau lari kemana lagi coba? Dan pertanyaannya, siapa yang ngunci pintu kamar mereka? Salah. Siapa dan gimana bisa ada orang lain selain mereka yang berani-beraninya ngunci pintu kamar mereka? Trus, siapa yang ada diatas? Pipit dimana?
Dame dan Dedepi malah jadi celingak-celinguk, ngerasa ada orang lain yang lagi merhatiin mereka di kegelapan. Dan ternyata. Trio Asmadrid menyadari bencana terdahsyat malam itu. Mereka melihat sesosok tinggi besar dengan siluet mantel sedang berdiri menatapi mereka dari arah dapur. Eca bahkan melotot dan hampir sesek napas saking shocknya. Orang-asing-itu-entah-siapa-dan-entah-gimana-dia-bisa-masuk-kerumah, memamerkan kunci kamar yang ada di tangannya. Seolah-olah dia berkata dengan nada psikopat yang lagi mau ngejar mangsa, "Kenapa? Nyari kunci ya?"
"AAAAAAAAAA!!"
Eca Dame dan Dedepi tanpa dikomando, segera berlari menaiki anak tangga sebelum orang-asing-who-you-don't-know itu mengejar mereka. Eca bahkan sampe jatoh di tangga saking deg-degannya.
"CAA AYO CA!"
Bersusah payah, akhirnya mereka sampai diatas. Dramatis. Entah ada siapa diatas sana, yang pasti mereka menemukan lantai atas terang dengan cahaya lilin.
"Kemana nih!!?" Dame bahkan kebingungan nyari tempat persembunyian.
"Kesana aja Dam," Dedepi menunjuk ruang setrika. Siapa tau Pipit ada disitu. Bodo amat lah.
Tapi belum ada selangkah mereka berjalan, tiba-tiba orang-asing-who-you-don't-know dengan segera berada di belakang mereka.
"Akhirnya....", diiringi senyum misterius yang entah apa maksudnya.
Suara berat yang sama seperti di telefon, muncul tepat di depan mata mereka. Eca Dame dan Dedepi hanya bisa terpaku seperti nggak-bisa-beranjak-kemana-mana saking kaget dan ngerinya. ITU SIAPA. MAU APA.
Eca Dame dan Dedepi shock lagi untuk yang kesekian ribu kalinya (lebay), saat melihat ada orang lain lagi dibelakang orang-asing-who-you-don't-know. Orang yang dibelakang orang asing itu dengan gerakan cepat, memukul kepala orang-asing-who-you-don't-know menggunakan kayu yang cukup besar. Barangkali kayu yang ada di hutan sini. Siapa nanya.
Setelah melihat orang-asing-who-you-don't-know itu jatuh tak berdaya, lilin di lantai atas mati tertiup angin disertai bunyi geledek yang benar-benar menggelegar, membuat Eca Dame dan Dedepi tersadar dan segera berlari ke ruang setrika tanpa peduli apa yang sedang terjadi barusan di depan mereka.
Di dalam ruang setrika sana, gelap. Dame dengan segera mengunci ruang setrika dari dalam. Dedepi mematikan senter. Suara ngos-ngosan segera memenuhi ruangan. Tapi Eca buru-buru memberi isyarat dengan menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan, 'jangan berisik. Tahan napas.'
Kemudian hening. Baru bertahan beberapa detik, trio Asmadrid hampir memekik dan menjerit saat muncul cahaya lain disudut ruangan. Ada orang lain selain mereka di ruangan yang sama.
"PIPIT!!"
Pipit segera menghambur dan memeluk Eca-Dame-Dedepi. Seperti menemukan harta karun. "Sstt....." Dame mengingatkan.
Tidak penting gimana ceritanya Pipit ada di dalem ruang setrikaan selama ini. Yang penting, mereka selamat. Udah itu aja.
Mereka berempat kemudian bersemedi bersama. Sampai keributan dan huru-hara mereda. Tak lama kemudian, mereka mendengar bunyi dak-duk-dak-duk dari arah tangga. Seperti seseorang sedang turun. Karna suaranya makin lama makin hilang. Dame dan Dedepi seolah memiliki insting yang sama. Mereka mengintip dari balik jendela.
Tidak ada siapa-siapa di lantai atas.
Dedepi kemudian menyalakan senter, merasa sudah aman. "Yaampun, mereka itu siapa..."
"Dan kenapa mereka ada didalem rumah kita..." Eca ikut bertanya.
Dame dan Pipit yang kebingungan tak bisa menjawab apa-apa.
Dame mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi mengganjal di kantong bajunya. Hape Eca. Iseng, Dame menekan tombol on. 1 message received. Dari nomor orang-asing-who-you-don't-know yang tadi sempet nelfon ke hape Eca.
"Aku akan memiliki salah satu diantara kalian. Putriku akan kembali. Putriku yang mati."
Mereka berempat membaca itu sambil bergidik membayangkan bermacam hal mengerikan. Apalagi Eca.
Dame berfikir keras apa maksudnya. Jangan-jangan, mereka punya ciri khas yang sama. Satu alasan kenapa mereka yang jadi korban cerita horor ini. Tapi... kok bisa?
"Guys. Kayaknya kita punya satu hal yang sama," kata Dame.
"Apaan lay? Jangan kayak detektif gitu deh," sambar Eca.
"Ih, beneran. Coba pikir deh, kayaknya orang ini udah sengaja jadiin kita targetnya. Tapi gue juga bingung kenapa bisa kebetulan," Dame mengerutkan alisnya. Biar makin mirip adegan filem.
Dedepi melirik sahabatnya satu persatu, kemudian terkejut sendiri. "Oh, gue tau maksud lo Dam...."
"Coba Ca, lo inget-inget. Pipit lahir bulan apa," tanya Dame. Eca ikut-ikutan mengerutkan kening.
"Ju... li." Eca mengerti sekarang. "Gue, lo, Depi sama Pipit. Kita semua lahir bulan Juli."
"Bisa jadi, orang aneh itu punya anak yang mati, anak dia lahir bulan Juli."
JEGER. Geledek kembali menyambar langit.
Entah kenapa tiba-tiba mereka menyerbu ke luar ruangan. Mencari apa yang terjadi saat ini. Tapi dilantai atas sudah tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa. Dame dan Dedepi beranjak ke balkon yang mengarah ke teras. Dari kejauhan, mereka bisa merasakan bayangan manusia ada dibawah sana.
Benar saja. Orang yang tadi mereka lihat ada dibelakang orang asing, tampak tengah menyeret orang-asing-who-you-don't-know yang tadi ia pukul kepalanya. Orang asing nampak sudah tidak berdaya sama sekali. Atau barangkali, orang itu sudah tewas. Eca dan Pipit yang menyusul di belakang kebingungan dengan pemandangan yang saat ini mereka saksikan dari lantai atas. Jangan-jangan orang itu mau....
"Dam, dam. Jangan-jangan orang aneh itu mau dikubur di....." Eca makin shock.
Belum selesai Eca bicara, orang bermantel biru tua yang menyeret orang-asing-who-you-don't-know itu tiba-tiba mendongak keatas, tepat kearah mereka. Meletakkan jari telunjuknya di bibir. Seolah berkata, "Ini rahasia."
Mereka berempat tidak sanggup lagi melanjutkan pemandangan itu, kemudian mereka baru saja teringat bahwa teman-teman mereka masih terkunci di kamar bawah. Suara mereka terdengar lagi.
"DAAAAMMM ECAAAAAA DEDEPIIIIII!!!!!"
Para angels pun buru-buru turun kebawah, membawa misteri yang tidak jelas apa maksudnya dan apa asal-usulnya. Untungnya, Dame ingat mereka punya kunci serep dari semua kamar di rumah ini. Ada di belakang tivi. Segera setelah pintu kamar terbuka, Eca Dame Dedepi dan Pipit mengunci lagi pintu kamar besar.
"Dame ih kok lo kunci lagi sih pintunyaaa"
"Kalian dari mana ajaa??"
"Kalian nggak kenapa-kenapa kan? Kok pintunya dikunci sih bikin takut aja tauu"
"Kok tadi kalian teriak-teriak? Nggak ada yang serem-serem kan lay?"
Dan berentetan pertanyaan-pertanyaan lain riuh berebutan jadi satu. Terserah. Yang penting Eca Dame Dedepi Pipit sudah aman damai sentosa berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang lain. Sampai setelah hujan mereda pukul 1 dinihari, lampu rumah tiba-tiba menyala. Sebagian tidur, sebagian tidak bisa tidur dan memaksa Eca Dame Dedepi atau Pipit bercerita. Yang pasti, hingga pagi datang, tidak ada yang terjadi lagi di dalam rumah. Hanya tersisa rintik-rintik gerimis yang membasahi.
-------------------------------------------------------------------------
Matahari terbit, pagi menyingsing
Masih di Rumah Danau
Eca baru bangun saat disadarinya, kamar besar sudah sepi. Hanya Depe, Nden, dan Micut yang menemani. Eca mengucek-ucek matanya, berharap kejadian semalam itu cuma mimpi. Berharap bangun tidurnya dia ini bukan mimpi.
Eca melempar selimut yang melindungi badannya dari hawa dingin. Setelah duduk diam dan merenung sambil menghilangkan kantuknya, Eca berdiri dan meninggalkan kamar. Eca menyenderkan badannya di tepi pintu kamar yang terbuka lebar. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali dan mata yang sayu. Dilihatnya Nabila, Fya dan Wider sibuk haha-hihi sambil masak di dapur. Sepir, Pipit, Dedsky dan Bongky membersihkan ruang tengah yang tampak berantakan. Karen yang sedang mengganti gorden ruang tengah. Eca lalu mengambil asal sweater dan jilbab kaos yang menggantung di hanger kamar. Bergegas menuju halaman depan.
Benar saja. Dame dan Dedepi sedang haha-hihi juga di pekarangan.
"Heh. Ngapain lo berdua," Eca menyipitkan mata dan menyapa dengan nada curiga.
"Eh, nyonya besar udah bangun..." sahut Dame.
Eca bergidik melihat tanah basah tak jauh dari mereka. Membayangkan apa yang ada di dalam, membayangkan wajah dan suara orang-asing-who-you-don't-know.
"Lo pada nggak aneh apa, di depan rumah kita ada..."
"Yaudah Ca, mau digimanain lagi. Masa mau kita bongkar bongkar. Lagian..." Dame menggantungkan kalimatnya, tapi urung dilanjutkan. "Ah udahlah. Pokoknya, ini rahasia kita. Rahasia Juli-ers."
Dedepi mengangguk setuju. Enggan berkomentar. Biar saja berakhir menjadi misteri. Halah.
Yang penting, mimpi buruk mereka berakhir tadi malam. Masalahnya tinggal satu: siapa orang yang membenamkan orang-asing-who-you-don't-know semalam? Apakah doi orang baik? Ah.....
Tanpa diketahui Eca Dame Dedepi dan Pipit, orang bermantel biru tua semalam adalah 'penjaga hutan' yang sudah tinggal lama di daerah sekitar rumah danau mereka. Walau sudah tua, orang tersebut melindungi dan sering menyelamatkan orang-orang atau pengunjung yang diganggu oleh orang-asing-who-you-don't-know, yang ternyata stress karena kehilangan anak perempuannya karena anaknya ditabrak mati oleh pengunjung hutan tersebut. Dan kebetulan, kucingnya anak perempuan orang-asing-who-you-don't-know waktu itu juga ditabrak mati sama mobilnya Eca. Barangkali itu penyebab orang-asing-who-you-don't-know tiba-tiba 'menyerang' rumah mereka.
"Woooy Dame Dedepi Ecaa, makan sini! Makanannya udah mateng nih. Habis ini kita foto bareng di ruang tengah yaa!" suara Fya membuyarkan lamunan mereka masing-masing. Dame, Dedepi, dan Eca tersenyum kecut sebelum masuk kedalam rumah. Saatnya melupakan yang-aneh-aneh bersama sahabat-sahabat lainnya. Yang pasti (meski fiksi), Dame Eca Dedepi akan selalu mengenang cerita dan kenangan tak terlupakan ini, dalam atmosfir penuh tawa di rumah danau yang penuh cinta.
Dari dalam rumah, mengalun album lama The Beatles. Sekian.
"Aku tahu cerita ini tidak nyata sama sekali. Tapi satu-satunya hal yang aku pahami, akhir cerita ini akan selalu menjadi misteri. Even to me."

1 komentar
akhirnya.......selesai juga. anjrit, JULI-ers men... tambahin tokoh dong si bulan juni (IKA maksutnya hehehehehehehehehehehehe).
BalasHapus