['Idul Adha] Qurban sebagai Rasa Cinta dan Syukur

05.54

Tanda Syukur (OST Syukur 21)



Bersyukurlah kita kepada Allah 
Diizinkan kita beribadah
Marilah bersyukur kita semua
Ibadah jangan disia-sia

Kesabaran tandanya syukur
Bermaafan buahnya syukur
Ketenangan setelah syukur
Kebahagiaan itulah syukur

Syukur.. Syukur.. (repeat 4x)

---------------------------------

Tanda Syukur itu Lagu favorit saya banget waktu umur 7 atau 8 tahun, waktu masih demen-demennya nonton dan ngulang-ngulang filmnya tim nasyid Raihan; Syukur 21. Sampe sekarang juga masih sering nyanyiin sih, hehe. Soalnya yang nyanyi anak-anak, mereka (di filmnya) nyanyi sambil main gendang gitu. Seneng liatnyaa, seneng dengernya. Filmnya keren (apalagi ngeliat abang-abang personil Raihan akting. wow aja), konfliknya oke, hikmahnya dapet. Keren deh pokoknya!

Lagu ini liriknya sederhana tapi menurut saya luar biasa maknanya. Intinya satu: Syukur. Ibadah jangan disia-sia, bener banget kan. Coba kalo kita udah ngga dikasih izin lagi sama Alloh buat ibadah (alias pindah alam), nyesel dah seumur idup. Makanya jangan disia-siakeun!

Alhamdulillah, bersyukur banget masih dikasih izin ketemu sama Idul Adha di lewat 20 tahun. Alhamdulillah! Masih bisa denger takbiran, ngeliat semangat orang buat beli hewan qurban. ngeliat marbot Masjid dan warga sekitar rame-rame nyiapin tempat pemotongan dan nyiapin lapangan buat Sholat Ied, dan yang penting... Masih bisa makan sate kambing sama gulai! XD *teteup*

Dari lirik lagu Tanda Syukur diatas, udah mencakup semua tuh tentang asal muasal sejarah Qurban. Apalagi kalo bukan kisahnya Nabi Ibrahim 'Alaihissalam sama putranya, Nabi Ismail. Nabi Ibrahim, yang namanya banyak disebut di Al-Qur'an sebagai suri tauladan (selain Nabi Muhammad tentunya). Karna kesabarannya, kecerdasannya, kebijaksanaannya, ketaatannya, ketenangannya, kearifannya, kegigihannya memperjuangkan dakwah Islam (sampe mau dibakar sama rezim Raja Namrud), dan kecintaannya terhadap Allah, beliau disebut Bapak Para Nabi. Benarlah! Terutama Ka'bah yang saat ini didatangi jutaan manusia setiap tahunnya, adalah simbol dan eksistensi agama Islam yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail. Dakwah dan syiar Islam yang dibangun dengan penuh totalitas perjuangan kemudian berkembang pada zamannya, yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wasallam.

Masih inget kan, cerita Nabi Ibrahim yang mencari Tuhan? (Sang Pencari Tuhan nih judulnya) Matahari, bulan, bintang, dikira Tuhan sama sang Nabi. Tapi Nabi Ibrahim emang jenius! Mungkin kalo pake bahasa gue, 'Kalo mereka Tuhan, masa tiap pagi siang malem ganti-ganti?'

Dan akhirnya Ibrahim menemukan Allah dari pemikirannya yang menembus logika. Alloh menurunkan wahyunya untuk Ibrahim! Ibrahim pun meyakini bahwa Tuhannya itu satu, yang Esa dan tunggal. Tidak beranak dan diperanakkan. Tuhan bukanlah benda langit, apalagi berhala. Maka dari itu, Allah menganugerahkan Ibrahim iman yang kuat. Jadilah Ibrahim memulai petualangannya dan perjuangannya sebagai Nabi dari kaumnya. Pertama, dimulai dari yang paling dekat dimata dan dihati: Sang Ayahanda. Tapi apadaya, ayahnya yang pembuat patung dan berhala itu menolak ajakan Ibrahim untuk menyembah Allah dan mengusir Ibrahim dari rumah. Jleb.

Nggak papa. Ibrahim masih punya Alloh. Sang Nabi yang jenius ini nggak keabisan akal. Semua pasti tau doong kisah beliau yang menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaum di kampung halamannya. Kapak yang Ibrahim pake, dikalungin ke berhala yang paling besar, biar orang ngira berhala yang paling besar yang ngebabat berhala-berhala kecil disekelilingnya. Mantabz dah pake Z.

Tapi emang dasar orang-orang jaman dulu, pemikirinnya nggak segaul dan sejenius Nabi Ibrahim. Udah tau berhala nggak bisa ngapa-ngapain, tapi teteeep aja nolak pencerdasannya Ibrahim. Cukup tau aja......

Untunglah Allah dan malaikatNya menyelamatkan Ibrahim dari lahapan api. Ini, berkat kesabarannya Ibrahim menghadapi kaumnya. Setelah lolos dari maut, Ibrahim meneruskan dakwahnya kepada kaumnya di negeri Babilonia sana. Nggak peduli berapa banyak pengikutnya, yang penting Ibrahim dengan kegigihannya berjuang supaya agama Allah terus menyebar ke penjuru bumi.

Sayangnya, sampe umur 85 tahun, Nabi Ibrahim belum juga dikaruniai keturunan. Istrinya, Siti Hajar, yang juga udah sepuh nggak bosan berdoa supaya keajaiban turun kepada mereka. Siti Hajar yang putus asa meminta ke suaminya supaya menikah lagi. Jadilah Ibrahim memiliki keturunan dari Siti Hajar dan Siti Sarah.

Finally, do'a dan permohonan Ibrahim-Hajar dikabulkan! Lahirlah seorang anak lelaki, yang diberi nama Isma'il (yang artinya Tuhan telah mendengar). Sementara beberapa puluh tahun kemudian, Siti Sarah juga melahirkan Nabi Ya'qub.

Lagi-lagi tentang kesabaran! Kesabaran yang berbuah syukur. Aih, indahnya. Tapi Allah yang saking cinta dan sayangnya sama Ibrahim, menguji lagi keluarga kecil ini. Temen-temen pasti tau juga dong ya cerita Siti Hajar yang kelimpungan nyari pertolongan dan nyari mata air buat Ismail di bukit Shafa dan Marwa sampe bolak balik 7 kali? Siti Hajar walaupun kesusahan tapi tetep berdoa dan berbaik sangka sama Allah. Keluarlah air zamzam! Peristiwa ini, yang penuh dengan hikmah kesabaran dan perjuangan menjadi salah satu rukun Haji atau dikenal sebagai Sa'i.

Belum juga dewasa umur Ismail, Allah lagi-lagi mau menguji ketaatan Ibrahim dengan perintah menyembelih Ismail. Duh, kalo saya jadi Ibrahim atau jadi emaknya Ismail, pasti udah galau setengah mati, sedih sampe nangis-nangis gak mau makan kalo tau darah daging sendiri mau disembelih. Sakitnya tuh disi... ah sudahlah.

Tapi Nabi Ibrahim memang beda. Bukan TV On* loh ya. Nabi Ibrahim yang taatnya luar biasa, dan begitu pula Ismail, ikhlas dan pasrah dengan perintah itu. Kalo udah perintah dari Allah, harus taat dong. Ibrahim & Ismail memang nggak tau apa maksud dari perintah Allah ini. Yang pasti, Ibrahim tau banget kalo Allah akan memberikan yang terbaik atas setiap kejadian yang ditimpakan.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ الْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي اْلآخِرِيْنَ. سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ

“Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai (pada umur sanggup) untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, berkatalah Ibrahim: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat: 102-109)

Lagi-lagi hikmah ketaatan, kecintaan dan kesabaran! Kala sudah cinta, taat, dan sabar, insya Allah selalu ada syukur. Dan diujung syukur, akan selalu ada ketenangan dan kebahagiaan! Pasti.

Kisah cinta dari sebuah pengorbanan seorang ayah kepada anak serta kerelaan anak kepada ayahnya, memang cuma Ibrahim dan Ismail yang punya. Cinta yang membalut ketaatan keduanya pada Tuhannya. Nggak ada kisah lain yang bisa menandingi. Masya Allah. Hikmah dan nikmat mana lagi yang kamu dustakan gaes?

Qurban ini, sejatinya adalah momentum untuk mengimplementasikan apa yang sudah dicontohkan Ayahanda Kita, Nabi Ibrahim dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, Qurban juga menjadi refleksi hidup dan cinta serta syukur itu sendiri kepada sesama dan terutama kepada Sang Pencipta Semesta. Saling berbagi, saling berkorban demi membahagiakan orang-orang yang membutuhkan. Lagi-lagi, dalam rangka ketaatan. Indahnyaa!

Note to my self, sebenernya. Semoga hikmah Idul Adha menyertai perbaikan ruhiyah kita semua! Selamat menjadi lebih baik, selamat berqurban, selamat berbagi, selamat berkumpul bersama keluarga, dan selamat rehat dari urusan dunia! Semoga berkah untuk semua hehe. Happy Eid Mubarak to all muslim brother around the world!!



BERSEMANGAT!!


Sincerely,
Salma Muazaroh, Student of SKLD 4 2014: Transformation, Contribution!
Depok- 4 Oktober 2014

You Might Also Like

0 komentar