Kidung Cemara.

00.58

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

-Chairil Anwar, Derai-derai Cemara

Pagi itu lelehan embun yang meretas dedaunan terlihat cantik sekali. Dingin. Langit berkabut. Diantara cemara yang bercahaya, kisah kita pecah berserakan. Namun meski tak lagi utuh, keikhlasan membuatnya abadi. Kisah kita tak pergi kemana-mana. Ia berjalan saja, berhamburan dan mengkristal di sekeliling. Hari kemarin ia duduk bersama kita, esok lusa pergi entah kemana.

Matahari siang menyambut kita mesra di pelupuk singgasana. Tawa dan canda meledak megah diantara anak-anak yang berlari kesana kemari, mencomot kue-kue dan permen berwarna-warni. Kalian sungguh cantik sekali hari itu. Kita, cantik sekali. Hari kita tak pernah sama, kisah kita dulu tak berulang juga. Tapi ada bahagia yang merengkuh kita di dalamnya. Syukur membuatnya abadi hingga waktu yang tak kita duga.

Senja itu langit bak bidadari. Awan meliuk membentuk luluh yang tampak kagum di setiap mata. Tahun-tahun berlalu, dan kita semakin menua seperti halnya ayah-ibunda. Dengan titipan berwajah mutiara yang hadir dalam tiap dekapan, kita sungguh seorang wanita yang benar-benar dewasa dari dekade yang berlalu. Lebih dari masa-masa kita bersama.

Kita tidak lagi meributkan hal-hal yang tidak pasti, merisaukan urusan perasaan yang tidak pernah tergapai karna memang Dia tidak pernah merestuinya menjelajah hati lebih jauh lagi. Kita tidak lagi memusingkan aib si dia dan si dia, tidak lagi saling tikam dengan siraman kata di sosial media. Kita tak lagi mengeluhkan lelahnya tugas dan amanah di luar dan di dalam gedung kampus. Kita tidak lagi memilih untuk menyerah pada keadaan-keadaan. Karna kita kini sudah merangkai cinta kita sendiri. Memupuknya seperti cemara yang kokoh berdiri bertahun-tahun. Menemukan rumah dan membangun sebuah keluarga yang bahagia, mengalikannya hingga membuat kita lupa seperti apa kita di masa lalu.

 Galaksi kita menjemput saat malam tiba. Bintang dan rembulan bersinar utuh, membawa cahaya yang terpendam dari ratusan tahun lalu. Seiring berlalunya hari, kita duduk bersama dibawah langit yang bertabur kenangan indah. Anak-anak tertidur manis dalam rengkuh hangat yang kita miliki. Entah sudah berapa tahun, bertemu dengan kalian tidak akan pernah menemukan kata membosankan. Kita akan selalu ingin dan ingin bertemu lagi di akhir percakapan. Sesekali kita menangis, lalu tertawa dan menangis lagi saat menyadari kita masih disini dan ada untuk satu sama lain. Mungkin rindu juga yang akan membuatnya abadi.

Lalu gerimis tiba-tiba menghentikan kata kita malam itu. Tidak hujan, gerimis yang indah sekali. Wangi basah membuatnya tampak sederhana dan sempurna. Kita percaya bahwa takdir tak pernah meleset dan mundur dari waktunya. Kita menyadari itu sedari jauh-jauh hari. Meski tidak semua dari kita mendapatkan apa yang diinginkan, tapi hidup masih berdiri lebih baik dari yang dibayangkan.

Kita sungguh bahagia saat itu. Bahagia sekali.
(prosa masa depan untuk kalian, yang kunamakan lebih dari sahabat.
aku yang menunggu masa ini akan terjadi. semoga. semoga.)


..cemaraku cemar cerita. pergi bersama rindu, meninggalkan carut marut dunia.
Agustus 2013.

You Might Also Like

0 komentar