JRT (6): Reminder Makna Pernikahan
22.40
H-1 2 tahun pernikahan kami.
Alhamdulillah, masih diberikan rezeki dan karunia yang begitu banyaknya dari Allah. kami sehat, rezeki cukup, tetangga baik dan saling ngasih makanan, kerja kami lancar walau seringkali banyak deadline dan mesti lembur. Alhamdulillah.
bahkan kalo dipikir-pikir waktu awal nikah, dengan kondisi suami baru kerja di tahun pertama, lalu kami LDR dan aku masih kuliah. bojo tiap dua minggu sekali pulang ke depok, atau kadang aku yang ke solo. gaji suami dibagi untuk dua dapur, masih harus nambahin biaya kuliahku juga. tapi Alhamdulillah survive survive aja sampe sekarang, bahkan masih ada lebihan tabungan :")
memang ya Allah kalo udah janji ya pasti ditepati. siapa saja yang menikah karena Allah, pasti Allah yang mencukupkan rezeki.
kali ini mau berbagi sedikit notulensi kajian bareng bu Sufi di Kolak Edisi Idul Adha kemarin (notulensi yang officialnya malah belum diberesin wkwk maapin gaes).
mudah-midahan jadi reminder dan perkuat ilmu kita bersama ya.
"Lelah yang Lillah, Demi Sakinah Ilal Jannah", begitu judul kajian dari bu Sufi, ibunda Maryam ketua angkatan kami.
1. Sebelum memaknai pernikahan, ada baiknya kita memahami asal kata nikah itu sendiri. Nikah, berasal dari kata nakaha (nun, kaf, ha). Yang maknanya bersatu, menempel, bercampur. Tapi menempelnya itu bukan sekedar nempel trus lepas yaudah lepas. Bukan.
Nakaha itu menempel yang sangat kuat, ibaratnya nempelin antara dua kertas pake lem aibon. Dimana jika salah satunya kita paksa lepas, maka bisa jadi satu kertasnya robek, dua-duanya robek, atau dua-duanya terkoyak. Artinya yang nempel bukan cuma fisiknya, tapi juga jiwanya, kehidupannya. Kohesi antara dua manusia.
2. Akad nikah atau mitsaqan galizha disamakan dengan perjanjian agung sang Rasul dengan kaumnya, yang juga disebut sama. Setelah menikah, Rasul memilih untuk tetap hidup sederhana dan dibimbing dengan wahyu. Menikah bersifat sunnah, sesuai sabda Rasul. "Menikah adalah sunnahku."
Sunnah berasal dari kata sanna. Apa itu sunnah? Jika dikerjakan mendapat pahala, jika tidak dikerjakan kita merugi. Sanna atau sunnah Rasul pastilah merupakan yang terbaik, karena dikerjakan oleh Rasul yang merupakan manusia terbaik pilihanNya. Maka jika ingin menikah, kuatkan azzam untuk menjadi sebab Allah cinta kepada kita karena kita menikah mengikuti sunnah Rasul.
Tentu saja menikah jangan asal modal ikut sunnah Rasul, tapi mengerti menikah memiliki visi misi besar di belakangnya. Misi membangun keluarga teladan, keluarga berakhlak mulia, dan membangun generasi cerdas yang kelak menyebarkan syiar Islam. Untuk itu menikah juga perlu berilmu.
Nah, jika manusia paham makna pernikahan, maka kita tidak akan pernah bermain-main dengan pernikahan dan mitsaqan galizha.
3. Nikah adalah fitrah. Menikah adalah gabungan dari bersatunya individu dan komunal, yang kemudian menjadi kehidupan menyeluruh atau syumuliyatul hayyah. Maka fitrahnya, manusia berpasang-pasangan.
Fenomena saat ini, anak muda tidak punya visi komunal bahwa menikah adalah untuk menyelamatkan kehidupan.
Dalam QS An Nuur ayat 32:
..وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ
tertulis Ash-Shaalihin. dimana artinya menyebut "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah).."
Ash-Shalihin, sholih. Sholih disini dimaknai sebagai standar yang menentukan orang beriman atau tidak, dan layak menikah atau belum. Dilanjutkan lagi, "jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya".
Maka bekal menikah: beriman kepada Allah dan hari akhir. Dalam menikah, kita tidak pernah tau takdir apa yang akan menimpa dan diberikan Allah kepada kita. Kita tidak pernah tau ujian macam apa yang akan bertemu dengan kita dan pasangan. Maka dengan bekal iman itulah, kita mampu menikmati semua takdir dan episod kehidupan. Yakni menerima semua yang terjadi dalam pernikahan, berbekal iman yang kuat dalam hati dan jiwa.
(Saat kajian berlangsung, aku seketika teringat salah satu sahabat kami yang setelah menikah mengalami ujian cukup berat dalam hidupnya. Meski sahabat kami pun sempat kecewa, marah, stress hingga rasanya ingin mengakhiri hidup, tapi Alhamdulillah dia bertahan. pasti, kami yakin karna iman dan kepercayaanNya pada Allah yang membuat ia bertahan. terus semangat, sahabat!! mudah-mudahan Allah memudahkan jalan dan kemudahan demi kemudahan padamu..)
Bekal iman yang baik, kata bu Sufi, akan terlihat dari cara kita mengelola emosi dan menghadapi ujian yang ada dalam pernikahan. Masya Allah. Sepertinya aku pun masih jauh dan masih perlu banyak belajar menambah pasokan iman dan taqwa.
5. Membuktikan rasa yang hadir dalam hati: buktikan dengan syariat. Kalau ada orang yang sepik mau serius nikah sama kita, minta dia buktikan dengan cara yang disyariatkan Allah. Kalau dia nggak serius, ya berarti rasa yang hadir itu cuma rasa numpang lewat aja. Semoga setelah ini Allah kasih pembuktian nyata dan penuh berkah ya sist!
6. Sakinah, mawaddah wa rahmah. Sakinah itu artinya tenang. Kata bu Sufi, jangan cari masalah yang menghilangkan ketenangan dalam rumah tangga. Segala sesuatu yang merusak ketenangan, HEMPASKAN. Kalau sudah tenang, jangan cari-cari yang tidak tenang. Tenangkan perut, tenangkan ibadah, tenangkan pandangan.
Mawaddah; artinya gairah cinta, asmara, luas, lapang. Yang menakjubkan dari belajar ilmu Allah itu, maknanya luas. Ngga cuma sekedar makna bahasa, tapi pemaknaannya bisa sampai ke tingkat yang paling luas. Kalau sudah cinta, bahagianya nggak cuma antar pasangan tapi juga ke anak, tetangga, masyarakat. Luas. Itu dia mawaddah.
Tambahan lagi gaes, kalau ada masalah antar pasangan, kalau suami cuek, trus istri ikut cuek. Pelit memikirkan diri sendiri apalagi memikirkan pasangan, harus introspeksi dua-duanya. DUA-DUANYA. Upgrade ilmu dan upgrade diri DUA-DUANYA. Jangan suami cuma nuntut istri, istri nuntut suami. Tapi dua-duanya harus sama-sama berbenah.
Di akhir kajian, aku sempet nanya sama bu Sufi. Gimana cara supaya kita bisa mencintai tapi tidak bergantung dan cinta berlebihan pada pasangan. Kata bu Sufi, hati itu isinya cuma satu. Kalau diisi yang lain, nanti berubah.
Jadi cintai sewajarnya dan biasa saja. Berdoalah agar kita dicintai orang yang mencintaiNya, dan dengan cinta itu kita semakin cinta kepadaNya. Berdoalah agar segala takdir yang Allah berikan pada kita, kita ridha. Kita rela :')
---
Semoga selalu teringati bahwa dalam pernikahan, harus ada yang selalu dikuatkan: doa, iman, taqwa, ibadah, ilmu. Agar tercipta sakinah mawaddah wa rahmah ilal jannah, lelah yang kelak menuju jannah. Agar apapun yang kita kerjakan berniat baik dan terus menjadi kebaikan yang menolong kita di akhirat nanti. (monmaap feminis tidak relate dengan bahasan seperti ini).
Semoga para suami dikuatkan pundaknya untuk selalu meningkatkan kapasitas sebagai qowwam dan kepala keluarga, semoga para istri dikuatkan dan dimudahkan menjadi istri shalihah yang menaati suaminya, menjadi ibu dan tiang peradaban terbaik untuk keluarga dan masyarakatnya.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua, untuk berkumpul bersama di surgaNya. Terima kasih bu Sufi untuk ilmu dan nasihatnya! Semoga bermanfaat untuk kita semua.
salam,
@salmadeim
11 Agustus 2020
dari Jaten, Karanganyar

0 komentar