Senin dan TFT Makassar

00.16


Di hari Senin ini mencoba menuntaskan draft tulisan yang dari kemarin ditulis, dihapus lagi, trus draft lagi, nggak jadi aplot lagi gitu terus sampe ayam mengaum ya. Akhirnya nulis ulang aja lagi, daripada nggak nulis-nulis kan. 

Yeay salamu'alaykum semuanyaa. Aku pede aja ini blog masih ada yang baca, soalnya kemarin waktu ke Makassar ketemu Yuli, ceritanya dia follow igku dan katanya seneng liat postingannya anak-anak haka. Hehe Alhamdulillah kalau berfaedah ya, mudah-mudahan hadirnya anak haka dan kita semua juga di dunia ini beneran memberikan manfaat :")) eiya trus lanjut, dari pertemuan itu aku jadi dapet semangat dan motivasi baru buat terus menulis. Karna salah satunya yang suka kepo baca blog ini, ya Yuli ini haha. Masya Allaah, makasih banyak Yuli dan semua yang suka baca tulisanku, di blog di tumblr (dulu), juga di instagram :') Kalian juga tetap berkarya berbagi yaaaaaa!

Perjalananku di minggu kedua April yang lalu ke Makassar untuk mengisi Training for Trainer (TFT) terkhusus bidang Humas dan Media Alhamdulillah berjalan lancar, baik, dan menyenangkan. Juga aku banyak belajar dari semangat para adik-adik LDK seWilayah 6 ini untuk terus berkembang. Sebab Islam juga memberikan perhatian khusus dalam perbaikan kualitas individu (bahasa dakwahnya mah takwin). Kualitas peradaban bergantung pada bagaimana kualitas para individu yang menjalankan peradaban tersebut. Tersebab itulah kita mengenal 10 sifat muslim atau muwashofat untuk memacu individu agar memiliki karakter seimbang dan menyeluruh dalam segala aspek. Mulai dari aqidah, ibadah, akhlak, ilmu dan wawasan yang luas, kekuatan fisik, sampai akhirnya menjadi manusia yang memiliki karakter naafi'un lighairihi atau bermanfaat untuk sekitarnya. 

Nah TFT ini adalah salah satu sarana menuju kebermanfaatan itu, yang dimulai dengan peningkatan skill dan kompetensi dalam bidang-bidang yang diamanahkan. Alhamdulillahnya, peserta dari bidang Humas dan Media ini memang rata-rata orang-orang yang memegang media dan juga sudah punya jiwa-skill desain. Walaupun ada juga yang di kampusnya baru terbentuk LDK jadi medianya pun baru berjalan. Meski begitu, problematikanya tetap saja ada. Walau bidangnya dipegang oleh orang yang jago desain, tapi stafnya belum tentu. Ada juga yang stafnya hilang-hilangan, laptopnya rusak, dan lainnya. Masya Allah memang ujian dakwah ya sob hehe

Untuk yang punya case demikian, kusampaikan kepada mereka bahwa ada baiknya bidang Media dan Humasnya memberikan semacam kelas pelatihan untuk perwakilan divisi/bidang lain di LDKnya. Waktu di Salam UI dulu pun, aku bukan pengurus bidang Media Center (aku anak Syiar banget hore). Tapi saat itu bidang eksternal atau bidang medianya meminta agar setiap bidang di Salam punya perwakilan yang berpotensi menjadi desainer untuk diberikan pelatihan. Waktu itu namanya Klinik Humalum. Inget banget klinik pertama itu sama Kak Fitrah Subarkah (Kabid Eksternal) belajar tentang branding dan konten tentang branding Apple yang diimplementasikan ke branding Salam masih menempel kuat sampai hari ini, sampai bisa kushare lagi ke adikadik ini :")))


Adapun titik tekan amal dalam bermedia di lingkup dakwah kampus adalah satu: bagaimana kita menampilkan syiar Islam menjadi sesuatu yang menarik dan menyenangkan. Karena syiar ibaratnya kulit terluar kalau kita mau menampilkan sesuatu. Kemarin aku juga menekankan pentingnya media LDK memiliki prosedur atau standar publikasi media. Kenapa? Karena dengan standar itu kita punya pedoman tentang sebaik apa kualitas desain yang dikeluarkan. 

"Kalau teman-teman hanya menetapkan standar yang biasa-biasa saja dalam media LDK, 'ya yang penting ada deh desainnya', maka hanya sebiasa-biasa itu juga teman-teman menempatkan syiar Islam dalam media dakwah kampus. Bagaimana orang akan menilai dakwah kampus itu baik kalau teman-teman tidak berusahan meninggikan standar Islam dalam desain publikasi?", begitu kira-kira yang kutekankan pada TFT kemarin. Kalo dari luarnya aja udah keliatan nggak asiq, nggak menarik, apalagi nggak mencoba mengikuti perkembangan zaman, yaudah. Nasibnya mungkin akan sama seperti Kodak, Nokia atau Sony yang pernah booming di zamannya tapi sulit bertahan karna orang-orang udah nggak punya minat lagi sama produknya. 

'Tidak ada target dakwah yang tidak tertarik, yang ada ialah pendakwah yang tidak menarik.'

Noted. Sudahkah kita menjadi pendakwah yang memiliki tutur kata yang baik tapi tetap menarik? Inilah peer kita bersama untuk terus belajar. Terutama yang sudah berkomitmen untuk menjadi pejuang-pejuang dakwah media. Wah, susah. Disatu sisi kita harus kreatif, harus bisa menjual konten menarik tapi tetap dalam koridor syariat. Disisi lain, harus menyediakan banyak waktu untuk membuat yang keren-keren itu. Disisi lainnya lagi, deadline tugas kuliah menunggu. Belum lagi urusan-urusan lainnya :") Memang tidak mudah guyss, karna itulah barang siapa yang berTuhan dia akan bertahan karna kita tau apa yang sedang kita perjuangkan. Mudah-mudahan berkah!

maksa mau keliling Unhas sore-sore habis ngisi training sama Rafa dan Wafa, 
difoto oleh yang kita paksa wqwq. Terima kasih Sari!

Yanis, Ketua Komisi B (yang bertanggung jawab thd pelaksanaan TFT seIndonesia) 
dalam sesi Microteaching peserta


Terima kasih banyak Makassar, terima kasih banyak adik-adik dan panitia. Terima kasih atas pembelajarannya dan kesempatannya, juga jalan-jalannya. Semoga Allah mudahkan langkah kita semua untuk menaikkan level LDK di kancah Indonesia dan Dunia. Yeay. Ditunggu kedatangannya di UI untuk Rapimnas Kedua. See ya on July!


Salam, 


@salmadeim
Alhamdulillah ini Senin

You Might Also Like

0 komentar