Dakwah Yang Nggak Mudah

09.46


Salam!

Postingan kedua ditahun 2017. Sebuah resolusi yang sebenernya ditulis sejak lama tapi susah mewujudkannya; istiqomah menulis di blog. Mau ganti blog tapi sayang, udah mau anniv ke 5 tahun. Halah.

April-Mei ini musim hujan yang.. Subhanallah. Banjir, banyak jembatan amblas, pohon tumbang, jalan licin dan sedang banyaknya orang yang tertimpa musibah. Semoga kita, siapapun, yang tertimpa maupun tidak selalu bersabar dan bersyukur. Alladziina idza ashobathum mushibah, qaalu innalillahi wa inna ilayhi raaji'un. Karena di dunia dan akhir hidup nanti cuma kepada Allah kita kembali.

Dan di musim hujan yang syahdu ini, beberapa kali baca tulisan atau denger atau nonton sesuatu yang Alhamdulillah bisa terus ngecharge ruhani. It's a must, actually. Sebab guide us to the straight path itu caranya ya kita terus mencari jalan untuk selalu deket sama Pencipta kita. Yang lumayan marak akhir-akhir ini adalah berita tentang pembubaran sebuah kajian dari Ustad Felix Siauw di Malang. Di satu sisi ini ironis ya, dimana negara dengan mayoritas Muslim tapi kajian Keislaman dibubarkan, padahal nggak ada juga omong-omong tentang terorisme yang jadi alergi masyarakat. Orang sekarang justru malah saling curiga dan melabeli sesama saudara dengan label sesat. Kajian mencurigakan dihubung-hubungin sama bahaya nasional. ((Katanya sih)) gara-gara Ustad Felix ini HTI, yang ((katanya)) anti Pancasila dan ingin mengahancurkan demokrasi untuk khilafah. Padahal ya nggak segitunya juga.

Tapi di satu sisi, mungkin HT juga mesti berbenah supaya nggak dianggap demikian. Nggak dianggap radikal lah istilahnya. Apalagi di tengah kondisi masyarakat kita yang lagi labil ini. Dimana isu agama dan sara bener-bener bisa kebakhar kalo disulut. Nggak mau ngomong konspirasi sih nanti dibilang Islam selalu aja alesannya konspirasi. Tapi ya percaya nggak percaya pasti ada pihak yang emang pengen memperkeruh suasana kedamaian di bumi ini. Pilkada Jakarta kemaren adalah contoh nyata dimana politik memisahkan penganut agama dari ajarannya. Padahal dua-duanya berhubungan.

Intinya lepas dari HT atau bukan, yang namanya dakwah emang nggak pernah mudah. Islam harusnya sama-sama jadi satu, supaya makin banyak orang yang menerima dakwah Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin, toleran dan damai, seperti yang sama-sama kita saksikan dan rasakan sendiri di aksi damai fenomenal 212. Ada nilai persatuan umat Islam disitu, bukan cuma tentang isi aksinya tapi gimana di satu waktu kita semua ada di jalan yang sama, niat baik yang sama tanpa beda-bedakan apakah kamu HT, NU, Muhammadiyah atau lainnya. Islam itu satu, umatnya Nabi Muhammad.

Pengguna medsos sekarang makin banyak. Akun dakwah juga makin banyak, tapi nggak semuanya bisa dipahami secara baik oleh masyarakat, karna ada juga akun dakwah yang mempublish argumen/nasihat dakwah dengan konten yang cukup berbeda antar 'mazhab'. Misalkan, hukum baca ma'tsurat. Kalo nggak dimanage akunnya secara bijak, akhirnya malah bikin debat lagi antar sesama Muslim di kolom komen. Jangankan akun-akun isinya politik, akun dakwah pun berpotensi bikin sesama saudara seiman berbeda pendapat. Yang begini sebenernya bisa memecah belah kita juga. Kalo aku memposisikan diri jadi orang yang netral, bisa-bisa malah ketawa dan mikir, "lah ini gimana sih, sesama orang Islam malah debat soal ibadah mereka."

Poin pentingnya: jangan pernah berhenti memperdalam ilmu tentang Islam. Tanya temen, diskusi sama orang yang lebih paham, ikut kajian atau pengajian rutin, baca-baca. Jangan sampe justru kita sendiri jadi memojokkan agama, padahal agama kita itu pegangan utama supaya kita nggak belok ke jalan yang salah. Mengutip dari sebuah postingan inspiratifnya mas Choqi Isyraqi di tumblr, bahwa muallaf bisa jadi lebih mencintai Islam dibanding kita yang udah memeluk Islam sejak lahir. Karna mereka memahami Islam secara menyeluruh, dan rasanya beda sama kita yang Islamnya turunan orang tua. Buat kita yang Islam sejak lahir bisa jadi itu nikmat, tapi buat muallaf mungkin rasanya pake luarbiasa nikmat. Ada luarbiasa, semacem beli nasigoreng karetnya 2 *apasidam...*

Aku sering bilang ke adik-adik kelasku, temenku, bahwa ada masanya kebaikan yang kita bagi lewat dakwah tidak dianggap kebaikan oleh orang lain yang menerimanya. Sama kayak waktu aku di Salam UI dulu, kita punya agenda syiar kultural gawl bernama Choco Day. Bagi-bagi coklat gratis & postcard spesial di Stasiun UI. Padahal itu kita bener-bener tulus, gratis! Tapi tetep aja ada beberapa orang yang baru kita sapa, "Assalamualaykum selamat sore mbak/mas, kita lagi bagi-bagi coklat nih untuk...", langsung menyodorkan telapak tangan tanda "maaf ya, makasih". Kami direject hiks.

Tapi ya jangan terlalu baper juga. Digituin baper, gimana dakwahnya Rasulullah dan sahabat jaman dulu yang diusir, dilempar batu, sampe dibunuh dan diganyang massa. Ya Allah. Jaman edan ini orang-orang emang merasa semuanya benar, merasa paling pintar dan paling dahsyat. (btwaku suka sedih, banyak netizen yang bisa dengan gampang mencela orang-orang baik, orang pintar, alim ulama di medsos. Serasa lebih baik, lebih pintar dan lebih alim... Sungguh sedih). Tapi jangan sampe semangat dakwah kita semua putus ditengah jalan, "biar deh serah lo mau masuk neraka kek jangan manggil-manggil gue nanti." Lhaa jangan gitu juga ya. Kalo udah nggak bisa mengingatkan dengan tangan atau lisan, masih ada doa. Ea.

Pernah juga bayangin, kalo misal Rasul dan sahabatnya hidup di zaman gadgeting kayak sekarang ini, dimana-mana pamer ibadah di medsos. Yah.. Semoga kita semua dijauhkan dari niat riya' dan pamer di medsos ya :" Yang paling penting lagi apa iya kita juga bakal saling judging di medsos? Yakin lah Rasulullah juga nggak ingin kita sesama Muslim malah saling menjatuhkan di medsos. Da aku yakin juga semarah-marahnya umat Islam sama pak Ahok, pasti Rasul juga nggak akan menyuruh kita untuk menghakimi beliau. Pak Ahok itu baik, i believe he is. Masalahnya pak Ahok cuma belum disadarkan bagaimana kriteria pemimpin yang baik, yang shiddiq amanah tabligh fathonah. Makanya harus didoakan atuh jangan dihakimi terus hehe.

Semoga kita selalu dituntun untuk berada di shiratul mustaqim. Semoga dakwah ini, yang sebenar-benarnya hanyalah ingin mengajak semua orang menuju kebaikan dan sama-sama beramar ma'ruf nahi munkar supaya ke SurgaNya juga sama-sama, bisa terus kita lakukan dan kita semaikan kemilau cahayanya di muka bumi. (berasa tagline iklan shampo). Teruslah berdakwah supaya tidak ada yang lebih tinggi dari Syiar Islam. Karna syiar Islam itu cool and beautiful. Dengan kapasitas yang kita punya, yuk kita sama-sama saling mengingatkan dan berdakwah dengan cara yang santun tapi asique. Islam is full of peace as shine as sky full of stars. Halah..

Teruslah berbuat baik meski kita ada di lingkungan yang tidak menganggap kebaikan kita ada. Tetaplah menjadi baik dan teruslah menjadi baik. Notetomyself :)



Salam!

jurnaldeim yang random
Hujan bulan April
2017

You Might Also Like

0 komentar