Menyembuhkan Keluh Kesah

13.09



13 Agustus 2016
Sabtu yang syahdu

Sabtu kali ini benar-benar menjadi Sabtu yang berbeda dari biasanya. Meskipun saya tidak bisa menceritakan dan mengungkapkan tapi Sabtu ini benar-benar sabtu yang membuat saya terharu. Tenang ini bukan Sabtu bersama bapak, tapi sabtu bersama teman-teman selingkaran dan sister murabbiyah tercinta.

Hari itu saya belajar banyak hal. Salah satunya belajar tentang ilmu bersyukur dan berlapang dada atas segala kesusahan hidup. Sehingga tak salah saat kakak murabbiyah kami membagikan ilmu dari sebuah majalah favorit bernama Tarbawi. Siapa yang masih setia sama Tarbawi? Uyeeee.

"Bila karunia Allah tak kunjung sembuhkan keluhan."


Begitu bunyi dari judul utama Tarbawi yang sister kami bacakan. Kemudian langsung ngerasa jleb. Berapa banyak dan berapa kali kita ngeluh selama hidup di bumi ini. Banyak :(


Nggak heran, Allah sendiri yang bilang di surat Al-Ma'arij bahwa manusia diciptakan dalam keadaan mengeluh dan kikir. Waktu susah kita ngeluh, waktu berlebih kita kikir. Begitulah manusia, nggak pernah ada puasnya. Manusia banyak yang lupa bahwa kita masih bisa bernafas, bisa mencerna makan, bisa buang air, dan bisa-bisa lainnya adalah nikmat yang tidak terkira yang Allah berikan dalam hidup. Tapi tetep nggak juga membuat kita berhenti mengeluh. G*jek dateng telat, ngeluh. Di meja makan nggak ada makanan, ngeluh. Mati lampu, ngeluh. Paket internet mati, ngeluh. Skripsi direvisi terus, ngeluh. Uang telat dikirim sama bapake juga ngeluh (mahasiswa rantau banget ya....)
Semua dikeluhkan. Yah... Kita lupa dengan nikmat-nikmat yang tak terlihat itu.

Maka pantaslah kita bertanya apa yang membuat kita tak juga berhenti mengeluh padahal karunia Allah udah kayak surga banget buat kita. Dibanding orang lain yang nasibnya jauh lebih susah, nggak pantes banget kita ngeluh sama hal-hal kecil.

Lalu sister kami membacakan sebab-sebab kenapa dengan karunia dan nikmat yang segitu buanyaknya nggak juga bikin kita berhenti mengeluh. Ini dia ringkasannya. Resapi dan hayati. (Jangan dijawab bang, ini bukan hayati istri abang)

Sebab-sebab yang tak juga menyembuhkan kita dari keluhan ialah:

1) Kita gagal mengenali karunia Allah yang melimpah. Kerajaan, kedudukan, dan pangkat setinggi apapun tak ada nilainya dan tak sebanding dengan hal-hal kecil yang kita miliki. Sesederhana kenikmatan bisa membuang air seni. (Kebayang kan kalo kejebak macet 10 jam di jalan tol, kebelet pipis dan nggak ada toilet. Rasanya......) Tidak ada yang lebih nikmat dari karunia hidup yang udah Allah kasih gratis sama kita. Sayangnya kita sering lupa bersyukur. Mungkin karna terlalu banyak maksiat :"

Kita juga sering tergiur dengan hal lain, nggak pernah puas. Kita selalu melihat kelebihan orang lain, mengejar hal-hal yang nggak kita punya supaya melampaui kepunyaan orang lain itu. Padahal mah apa, ujungnya nggak akan dibawa masuk kubur.....

2) Kita selalu merasa kalah. Berapapun banyak karunia dan nikmat hidup dari Allah tapi kalau selalu merasa kalah ya udah bakal terus-terusan ngeluh. "Ngapain gue berusaha, toh nasib gue juga bakal begini aja. Ngapain gue kerja keras, usaha gue nggak pernah dianggep." And blah-blah-blah. Come on, kita semua dikasih kesempatan yang sama kok! Bedanya apakah kita punya semangat berjuang atau justru emang kita mental pecundang.

3) Karna mengeluh adalah watak asli manusia. Manusia itu lebih banyak menuntut daripada berterima kasih. Kalo udah kepepet abis baru deh inget sama yang diatas. Itu dia tantangannya. Kita dilahirkan dalam watak yang emang udah ada dari sebelum kita nendang-nendang perut mamah. Tugas kita ya kita harus belajar memanage dan mengurangi rasa keluh kesah itu. Harus berlapang dada, sering-sering liat orang yang nasibnya kurang beruntung dan kurang ena' dibanding kita. Lo ngeluh capek, lebih capek mana sama orang yang tiap subuh berangkat kerja, pulang desek-desekan di kereta?

4) Karna kita sering kehilangan kesabaran. Manusia itu nggak akan sadar sering ngeluh sampe dia tau bahwa sabar dan mengeluh adalah jalan yang berlawanan. Padahal ya ngeluh itu salah satu dari 3 macam kekufuran gais :( Kekufuran yang pertama itu merobek baju, kedua mengeluh, ketiga menghina nasab lain.

5) Kadang kita tidak menyadari akibat buruknya. Mengeluh itu memperpendek usia loh, sudah dibuktikan dengan penelitian dari sisi medis. Dan juga, mengeluh itu nanti di akhirat juga ada balasannya. Hiiiiy, sesederhana itu tapi ternyata bahaya juga akibatnya. Hidup dengan banyak ngeluh bakal memangkas kebahagiaan kita. Artinya kita jauh sama Allah. Sayang banget. Banyak tidur sedikit ibadah. Kita sering lewatin malem tanpa qiyamullail padahal itu kesempatan minta rezeki yang banyak. Kalo kata Ustad Salim A Fillah, rezeki paling berharga itu mesra sama Allah. Kalo kita kelewatan kesempatan buat mesra sama Allah berarti kita udah kehilangan banyak rezeki yang sebenarnya. Jadi tips paling ampuh buat ngurangin ngeluh itu kita harus terus upgrade iman. Makin deket sama Allah insya Allah ngeluhnya makin jauh.


Alhamdulillah dapet reminder baru di hari Sabtu. Semoga kita semakin menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan berlapang dada menerima pahit manis asam pedasnya hidup. Inget tombo ati: baca Quran dan maknanya, sholat malam dirikanlah, berkumpullah dengan orang sholeh, perbanyaklah puasa, dan perpanjanglah dzikir malam. Susah, tapi kalo udah niat pasti jadi mudah! YEAH! Sama atuh saya juga masih usaha buat perbaikin ibadah. Biar bisa ketemu sama orang-orang sholeh sholehah kayak kamu, iya kamu, di SurgaNya nanti. AAMIIN.

Semoga bermanfaat!





You Might Also Like

0 komentar