Harta Karun Paling Berharga
15.03
Pagi yang cerah. Aku dan kakakku bersiap menuju sekolah.
“Novii, mana sisir kakak! Pasti kau yang pakai,” kudengar suara kak Huma dari luar kamar. Huuh, pagi-pagi sudah kena omel.
“Iya kak Novi kan cuma pinjam sebentar. Lagipula tak disisir pun rambut kakak sudah rapi. Halus, wangi pula,” jawabku santai. Padahal dalam hati berdebar. Kakakku itu cantik, tapi galak tak ampun.
“Harusnya kau bilang dulu, ijin. Apa susahnya,” kak Huma tak henti mengomel. Kalau tak mengomel bukan Huma namanya.
Aku nyengir saja. “Iya kak Huma yang cantik dan baik hati, Novi tadi lupa ijin pakai sisir kakak. Dimaafkan ya kak..” Kupasang muka termanis yang bisa bikin bapak meleleh dan mengabulkan apa yang aku minta.
Kak Huma cuma mendelik sebentar. “Hmm. Ya ya. Besok-besok kalau tak ijin, tak akan kakak bantu kerjakan PR kau lagi.”
Aku rangkul pundak kak Huma, “siap laksanakan kak!”
Kak Huma nampak sebal tapi senyum juga malu-malu. “Aduh, badanmu berat. Sana-sana, sarapan.”
Kulepaskan rangkulanku kemudian hormat ala polisi pada kakakku. “Siap komandan!”
Aku makan dengan lahap di meja makan. Hari ini mamak masak telor dan sayur bayam. Makananku sehari-hari sesederhana ini kawan. Makan ayam sesekali saja, kadang ikan, lebih sering tempe telur dan tahu. Hehe. Tapi makan telor buatan mamak nikmat sekali rasanya. Ditambah kecap dan kerupuk. Hidup harus disyukuri, kata bapak. Kalau bersyukur rezeki kita akan ditambah.
Namaku Novi. Aku tinggal di Desa Hulo, tepatnya desa kecil di Bone, Sulawesi. Jauh sekali dari kota. Jembatan penghubung antara rumahku dengan sekolah sudah ambruk. Sudah lama, sejak 3 tahun lalu seingatku. Waktu itu aku baru kelas 1 SD. Sekarang aku kelas 4, kak Huma kelas 5. Sampai sekarang belum juga diperbaiki oleh bapak-bapak pejabat. Yang tersisa dari jembatan itu sekarang cuma seutas tali dan kawat pijak.
Awalnya ngeri sekali lewat jembatan. Takut jatuh. Biasanya nyebrang 3-5 menit saja. Sekarang bisa jadi 20 menit. Apalagi kami-kami yang perempuan, bisa lebih lama lagi karna harus menjaga badan tetap seimbang diatas jembatan yang bergoyang. Tapi sekarang sudah biasa.
Kalau hujan terpaksa tak sekolah karna arus air di sungai deras sekali. Kadang aku menangis karna tak bisa belajar bersama teman-temanku yang rumahnya tak perlu melewati jembatan. Anak-anak di kampungku semangat sekali belajar ke sekolah. Guru kami hebat-hebat. Aku ingin jadi polwan, jadi aku harus rajin belajar dan lulus sekolah. Aku akan berjuang supaya cita-citaku tercapai, dan membuat bapak, mamak, juga kakak bangga.
“Novi, ayo lekas pakai sepatu! Nanti terlambat,” tiba-tiba kak Huma sudah siap di teras rumah. Cepat sekali gerakannya, perasaan tadi masih di kamar.
“Ya kaaak, tungguuu,” sahutku sembari menghabiskan sisa nasi terakhir di mulut.
Senang sekali pergi ke sekolah! Aku sudah mengerjakan PR matematika dengan baik, tak sabar mendapat nilai bagus dari pak guru.
————————————————————
Pulang sekolah aku piket membersihkan kelas bersama 3 temanku. Kak Huma selalu menungguiku, kami selalu pulang bersama. Siang itu saat teman-temanku sudah selesai piket, aku masih mengepel. Kusuruh mereka pulang duluan.
“Tak apa, aku kan sama kak Huma,” ujarku tersenyum.
“Baiklaah. Kami pulang dulu ya Novi, takut hujan.”
Aku mengangguk dan meneruskan tugasku yang belum selesai.
“Novi, masih lama tidak? Ngepel jangan lama-lama, kau ini tak dirumah tak disekolah lambat sekali kerjanya,” kata kak Huma di depan pintu kelas. Kalau disuruh cepat biasanya kak Huma takut hujan turun atau sudah ada janji belajar bersama dirumah.
“Iya kak, ini sebentar lagi selesai,” jawabku pelan. Aku menggerutu dalam hati. ‘Memangnya semua orang harus seperti kakak yang kerjanya cepat? Huuh…’
Benar saja, setelah selesai piket langit berubah jadi gelap. Pertanda sebentar lagi akan hujan. Kami harus cepat-cepat pulang.
Sesampainya di jembatan, angin bertiup kencang. “Aduh kak Novi takut, anginnya kencang.”
“Ada kakak dibelakang Novi. Ayo cepat, kalau tidak nanti hujan turun.”
Tidak ada orang di jembatan siang itu. Mungkin orang-orang sudah bergegas menyeberang karna tau akan turun hujan.
Aku melepas sepatu. Rasanya sakit kalau lepas sepatu, tapi kalau nyeker jalannya lebih cepat. Pelan-pelan aku mulai berjalan diikuti kakak. Anginnya berhembus kencang sekali, badanku digoyang-goyang olehnya. Saat berada ditengah, anginnya benar-benar kencang dan aku kehilangan pijakan. Gawat!
“Novi hati-hati…..!” baru saja diperingatkan oleh kak Huma, aku terpeleset dan jatuh ke bawah. Aku pasrah sudah, semoga arusnya tidak kencang jadi aku bisa berenang.
Aku panik sebenarnya, tapi ternyata tak perlu waktu lama untuk segera naik ke permukaan dan berenang ke tepi. Untung hujan belum turun jadi aku cuma berusaha keras melawan angin. Aku pernah jatuh juga dulu sekali bersama teman-temanku. Untunglah, aku jago berenang.
Sesampainya di tepi, aku tak menemukan kak Huma diatas jembatan.
“KAK?”
Jangan-jangan…
Aku mulai menangis saat menyadari betapa polosnya aku tak tahu bahwa kak Huma juga ikut jatuh tak lama setelah aku jatuh. Aku semakin menangis saat ingat kak Huma tidak bisa berenang. Aku menangis sejadi-jadinya. Untunglah saat itu ada bapak-bapak yang baru kembali dari hutan. Aku berteriak minta tolong. Sayangnya, kak Huma terbawa arus saat itu. Aku terlambat menolongnya. Hujan turun tak lama kemudian.
——————————————————————-
Namaku Novi. Aku siswi kelas 6 SDN Hulo.
Bagi kami, pergi ke sekolah bukanlah hal yang mudah. Aku rindu kak Huma yang membantuku mengerjakan PR, menungguiku piket dan menjagaku setiap kali aku menyeberang jembatan.
Bagi kami, sekolah adalah tempat mewujudkan cita-cita. Kami juga anak bangsa yang punya mimpi menjadi orang pintar, seperti bapak wakil presiden Jusuf Kalla yang dulu besar di kampung kami. Aku akan mewujudkan cita-citaku menjadi polwan, apapun yang terjadi. Walaupun harus bergelantung diatas jembatan. Walaupun harus membahayakan nyawa kami. Aku akan menyelesaikan sekolahku. Aku akan menjadi adik kebanggaan kakak. Menjaga semangat belajar kakak sampai aku besar dan tua nanti. Menjadi anak kebanggaan orang tua. Kelak akan kubangun kampungku. Aku akan menjadi kebanggaan bangsa, juga agama. Indonesia tanah lahirku, tumpah darahku.
Depok, 17 Agustus 2016 / salmadeim
Selamat Memaknai Arti Merdeka, Negeriku.
Cerita ini hanya fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata anak-anak Hulo yang harus menyeberang jembatan berbahaya demi menimba ilmu ke sekolah. Harusnya dengan anggaran pemerintah yang ada, membangun jembatan bisa dilakukan di semua daerah yang membutuhkan. Tapi anak-anak ini tidak merisaukan itu. Yang penting bagi mereka adalah pergi ke sekolah. Mereka.. benar-benar harta karun berharga milik bangsa, kan?
"Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita." (Ir. Soekarno)
"Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita." (Ir. Soekarno)

0 komentar