Secangkir Kopi di Depan Televisi

07.34


Sejak 28 Desember lalu, saya termasuk orang yang mengikuti berita-berita tentang AirAsia QZ8501 walaupun bukan keluarga korban maupun pegawai maskapai. Perkembangan evakuasi pesawat bukan cuma seru, tapi membuat saya lebih berpikir dan terheran-heran dengan kecelakaan ini. Maklum, sering nonton film jadi kayak gini. *nggak nyambung*

Apa kabar? Hujankah disana? Mari meneguk secangkir kopi hangat... Sembari menyaksikan update berita terkait Evakuasi Pesawat AirAsia dan berita hangat lain di penjuru dunia. (Tau berita tentang Charlie Hebdon kan?)

Pertama, sejak hilang kontak dari Minggu pagi sampe ditemukan 3 hari kemudian. Walaupun sangat-sangat meng-apresiasi kerja tim SAR atau BASARNAS yang cukup cepat menemukan puing dan jenazah di laut, tapi saya sempat bergumam.... 'Coba aja lebih cepet ditemuin, pasti korban yang jatuh ke laut bakal lebih banyak yang selamat..' Tapi jangan berandai-andai ah, ketemu aja udah Alhamdulillah kan. Kerja tim gabungan well-great-job banget! Sigap walopun cuaca nggak mendukung.

Apalagi sekarang ekor pesawatnya udah ditemuin. Arus kenceng, lumpur, visibility hampir 0, wih semuanya dihantem sama penyelam handal. Bangganyaa sama bapak-bapak TNI! Terharu itu waktu bapak Panglima TNI dan komandan-komandan TNI Polri dengan gagah berkata, "Prajurit kami yang terlatih selalu siap diturunkan dan optimis, kami tidak akan pernah menyerah untuk menemukan semua korban dan badan pesawat sampai waktu yang tidak ditentukan!"

Bangga sekaligus sedih, waktu penyelam nemuin beberapa jenazah yang masih kejebak di dalem badan pesawat dalam kondisi terikat belt di kursi penumpang. Apalagi masuk masa lebih dari satu minggu, kata tim Dokter Forensik kondisi mayat di dalam laut udah masuk fase 'Skeletonisasi' :(

Gimana kabar pak Pilot, dan awak pesawat di kabin? Semoga mereka cepet diketemukan.

Kedua, ketiba-tiba-an Menteri Perhubungan membekukan izin rute terbang dan menghapus tiket murah, membatasi tarif bawah yang minimal harus bernilai 40% dari tarif atas harga tiket. Udah kayak judul headline berita kan hoho. Agak bingung sebenernya, selain BASARNAS ternyata MENHUB juga kerjanya cepet lho ya! Sempet baca berita kalo pak Jonan yang tampan (apalagi di mata mahasiswa, if you know what I mean) sidak ke kantor AirAsia di Bandara Soetta dan marah gara-gara Direktur AirAsia bilang kalo briefing cuaca atau download cuaca dari BMKG itu cara tradisional. Wow, pak Direktur ngga kenal sama pak Jonan ya kalo lagi marah wkwk.

Saya juga sempet baca surat terbuka dari dua pilot senior, yang menolak sikap pak Jonan yang marah-marah di kantor AirAsia karna pak Jonan bilang pilot itu harusnya dibriefing langsung sama FOO atau Flight Dispatcher (kalo nggak salah). Jadi pilot tau tentang cuaca dan segala macamnya. Padahal selama ini, pilot udah wajarnya self-briefing dan aman-aman aja. Seluruh dunia di berbagai maskapai pun (kata para pilot) sudah biasa dengan self-briefing. Jadi, dengan demikian seolah-olah pak Jonan menyalahkan pilot yang self-briefing karna bisa jadi penyebab kecelakaan di tengah jalan. Padahal, ya nggak bisa disimpulkan begitu juga sih. Soalnya FOO itu jumlahnya belum banyak, dan salahnya sendiri nggak diwajibkan sama Kemenhub. Lagi-lagi kita semua belum tau kan penyebab pesawat ini bisa jatoh karna apa. Bisa jadi karna cuaca, bisa jadi karna ada kerusakan mesin atau bisa jadi juga human error.

So please Blackbox, show up yourself!

Trus masalah tiket, setelah saya mencerna dari berbagai sumber, dan nonton banyak talkshow di TV One dengan sumber-sumber berkompeten tentang tiket & izin hantunya pesawat AirAsia, keputusan Pak Mentri kayaknya terlalu terburu-buru. Padahal KNKT belom ngasih simpulan penyebab kecelakaan. Kan kalo kayak gini jadi bikin kita mikir: Oh jadi kalo nggak ada kecelakaan pesawat low cost carrier macem AirAsia, Menteri Perhubungan nggak bakal ngapus tiket murah/tiket promo dari maskapai LCC. Nggak bakal tau dong ya kalo ada pesawat yang terbang tapi izinnya nggak sesuai sama Kemenhub. Bakal kecolongan sampe berapa bulan nih, pak Menteri? :)))

Keputusan Pak Menteri, memang sih, ada baiknya. Pak Mentri itu sayang sama nyawa penumpang. Namanya juga menteri perhubungan kan, menteri transportasi. Kata beliau, 'Lebih baik tidak pernah berangkat daripada tidak pernah sampai.' Pak Mentri pengen semua pihak transportasi safety 100%. (Tapi Pak Mentri kurang memperhatikan kelayakan busway, hiks tolong paaaaak....) Pak Mentri juga sayang sama maskapai yang berbiaya rendah, karna harga minyak sedang naik, kurs rupiah juga lagi menurun. Pak Mentri nggak habis pikir, ada maskapai yang harga tiket promonya irrasional, mulai dari 0 Rupiah. Harga tiket Jakarta-Denpasar lebih murah dari harga sepeda. Haha. Tapi begitulah pak adanya, promo itu bentuk ke-kreatif-an maskapai untuk menarik minat penumpang. Out of the box gitu pak......

Pemirsa bisa baca tulisan berbagai sumber soal Low Cost Carrier. Banyak pengamat, tokoh-tokoh yang menilai kalo keputusan pak Mentri ini nggak nyambung. Dari mulai Pak Jusman, Anggota DPR, Komisioner Konsumen Publik, sampe Novelis! Whuo. Tulisan dari bang Tere Liye di status facebooknya maknyus juga tuh. Intinya, harga tiket promo yang murah sama safety itu dua hal yang surely different. Mereka dua poin yang berbeda. Low cost bukan berarti low safety. Buktinya AirAsia yang low cost, yang sering ngasih promo 'tiket mulai dari Rp 0' bisa bertahan belasan tahun jadi maskapai favorit dan belum pernah sekalipun kejadian kecelakaan sedikit serius, agak serius atau bener-bener serius. Baru pertama kalinya ini QZ8501. Bapak saya juga sering kok jadi konsumen AirAsia, dan memuaskan. 100% Safety. Harga promo ini kan bisnis, dan selera. Ini taktik manajemen. Low fasilitas sih, mereka membisniskan efisiensi dari macem-macem faktor, tapi nggak berarti juga membisniskan keselamatan penumpang. Mana berani maskapai mempertaruhkan nyawa orang, yang ujung-ujungnya mereka juga yang rugi karna harus bayar asuransi triliunan rupiah ke penumpang? ._.

*Seruput kopi dulu.....*

Terakhir, balik lagi soal tiket murah yang dihapus toh akhirnya akan menambah derita batin rakyat menengah kebawah yang nggak bisa terbang lagi pake biaya promo. Ini mah udah pasti menguntungkan maskapai, tapi merugikan rakyat :(

Memangnya kenapa ya kalo maskapai tetep mau ngasih tarif murah? Urusan dampak sama krisis keuangan di ekonomi dunia mah biar jadi urusan maskapai kan. Padahal pertumbuhan ekonomi di maskapai low cost carrier ini lagi tumbuh-tumbuhnya loh. AirAsia bahkan masih bisa ambil laba di sepanjang tahun 2012 sampe 2014. Asal yaaa jangan sampe maintenance sama safety penumpang diabaikan.

Saya teringat kebijakan pak Jonan waktu menggusur semua-semua warung/pedagang yang dagang di sekitar stasiun. Demo mahasiswa (khususnya anak-anak UI) sampe tidur di rel kereta api nggak didengar. Teringat airmata ibu pedagang di depan stasiun kala itu. Huhuhu. Memang sih jadi lebih rapih, makasih ya Pak.... Tapi saya nggak bisa jajan kue dan susu di toko kelontong tepat saat saya turun dari kereta lagi, saya harus berjalan jauh ke Kober, bahkan hujan-hujanan becek ngga ada ojek. Merugikan mahasiswa yang kelaparan, dan merugikan pedagang. Hixx. Jadi saya berharap besar pak Menteri mau merevisi kebijakan ini, karna ngga azik pak kalo ngga ada tiket promo :(

Yah beginilah... Da aku mah apa atuh, pegawai kantor kemenhub aja bukan haha. Cuma seorang pengamat yang sok-sok kritis. Oiya FYI ternyata rasanya serem tapi lucu pertama kali denger 'Ghost Plane' atau 'Izin Terbang Hantu', atau 'Pesawat Hantu'. Langsung keinget cerita kereta hantu *lah* Kalo yang ini kayaknya mah miskom antara Kemenhub, AirAsia sama pihak Bandaranya ya. Buktinya maskapai lain juga banyak yang ternyata ngelanggar izin rute terbang. Masalahnya, nggak mungkin juga pilot mau nyupirin pesawat yang jelas-jelas nggak punya izin, dan ke bandara Changi pula. [Pak Menteri kecolongan x)]

Tapi lagi-lagi, kata aku mah ya kebijakan pak Menteri yang beku-beku-in rute terbang yang ilegal jadi kurang nyambung. Lagi pada berduka ngeliat evakuasi mayat dari laut, ujug-ujug kemenhub rame sama hantu-hantuan ini. Padahal izin rute yang nggak ada itu sama sekali nggak ada hubungannya sama penyebab AirAsia jatuh ke laut. Kenapa nggak nanti aja ya sekalian pas KNKT udah nge-clear-in semua dari mulai kronologis sampe penyebab dan evaluasi?

Agak setujulah sama sepenggal isi surat cinta dari pak Pilot senior buat pak Menteri, 'jangan nampang diatas kesedihan orang lain.' Tapi semoga niat pak Jonan nggak begitu ya pak, emang udah seharusnya pak Menhub jadi lebih sering terlihat di TV ya. Namanya juga bapaknya Transportasi :))))

Ada hikmahnya juga toh, dengan adanya kecelakaan ini Kemenhub jadi banyak berbenah dan jadi kementrian yang tiba-tiba jadi kerja banyak di awal tahun. Tapi kalo bisa, kebijakannya ditinjau ulang lagi apalagi kalo sampe merugikan rakyat kecil yang biasanya bisa naik pesawat jadi nggak bisa lagi.

Baiklah, kopi saya sudah habis! Postingan ini *dibaca orang atau tidak* hanyalah menuangkan isi pikiran saya ditengah hujan dan ditengah siaran berita TVOne yang terus update tentang rencana pengangkatan ekor pesawat ke daratan. Semoga berhazil, bapak-bapak TNI dan BASARNAS!! Semoga jenazah-jenazah lain yang terjebak di dasar laut juga bisa segera diangkat. Mudahkan yaAllah, Aamiiin. Berikan yang terbaik untuk negeri kami :)

Sila dikoreksi jika ada kalimat/penyampaian saya yang salah dan sotoy haha. I'd be love to discuss.


Salam,



Depok 9 Januari
Happy Birthday Mpit & Kikih :)


You Might Also Like

0 komentar