Catatan Praktek Klinik #1

07.14


Mahasiswa Program Studi Fisioterapi UI Semester 5 akhirnya sampai juga di tingkat akhir: Praktek Klinik di Rumah Sakit. Ayey. Welcome in my journal! x)

Semester ini, saya bersama teman-teman Fisio UI 2012 memulai kehidupan baru sebagai calon (dokter) terapi fisik di dua hospital besar: RSCM dan RSPAD Gatot Subroto. Yaa magangnya barengan lah sama co-ass dari universitas lain. Haha. Saya sendiri masuk di kelompok 4 RSPAD Gatot Subroto bersama teman saya Dimas, Mega, Rhona dan Rizka. Ada 4 kelompok di tiap RS. Praktek Klinik atau PK Semester 5 ini dilaksanakan selama 4 bulan sampai Desember nanti. Tiap kelompok akan dirolling di 4 poli berbeda. Karna saya kebagian kelompok 4, maka bulan September ini sampe akhir bulan saya & teman-teman kelompok PK di poli FT D atau poli Fisioterapi Jantung & Paru.

Tiap kelompok nantinya bakal kebagian semua poli. Poli FT Pediatric & Geriatric, Poli Muskuloskeletal, Poli Neuromuskular, dan Poli Kardiopulmonal. 2 minggu pertama ini saya merasakan yang namanya kerja di Jakarta. Bangun jam 3 atau jam 4, sholat, nyetrika baju seragam, berangkat dari rumah jam 5 pagi, naek kereta dan miniarta ke RSPAD, kerja dari jam 8 sampe jam 1. Pulang sore. Udah kayak PNS aja gue xD

Selama pekan-pekan awal ini, saya sudah bertemu dengan pasien-pasien dengan diagnosis medik penyakit jantung dan paru.

Minggu Pertama
Hari pertama, Senin 1 September 2014. Saya bersama seluruh mahasiswa UI yang bertugas praktek di RSPAD disambut oleh dr. Sa'ad (pimpinan Rehab Medik RSPAD) dan fisioterapis lainnya. Kami segera dibawa keliling instalasi Rehab Medik dimana kami akan praktek selama satu semester ini. RSPAD rumah sakit besar loh, rumah sakit militer. Tapi yaa namanya juga rumah sakit udah lama. Kalo dibilang mewah nggak juga. Mewah mah ada daerahnya sendiri, di paviliun VIP gitu. Kalo ruangan tempat kita-kita kerja ya standar aja. Luas sih, tapi karna pasiennya nggak sebanyak di RSCM jadi ruangannya bisa dibilang cukup.

Poli Pediatri & Kardiopulmonal ada di lantai bawah, poli muskuloskeletal & neuromuskular ada di lantai atas. Dan hari itu juga kami langsung ke poli masing-masing.

Hari pertama itu, saya dan kelompok langsung diberi arahan sama Bu Hanidar, pembimbing kami di poli kardiopulmonal. Bu Hanidar baik orangnya tapi karna turunan Sumatra jadi perawakannya sama cara ngomongnya tegas banget. Jadi ya kalo ngomong nyablak aja, haha.

Yang paling saya ingat dari Bu Hanidar adalah, "Kita ini sebagai fisioterapis harus nguasai ilmu kita sendiri. Sebab yang lain nggak bisa make ilmu kita. Ilmu kita ini mahal. Kalo kita nggak menguasai, kita nanti yang bakal dibodohi. Tapi kalo kita ngerti, semua dari mulai dokter sampe suster juga akan segan dan hormat sama kita. Kita punya ilmu. Kalo ada dokter yang nggak ngerti pun kita bisa sanggah pake ilmu yang kita punya. Toh ilmu yang kita pelajari hampir sama dengan yang dokter-dokter itu pelajari. Nggak beda jauh. Cuma kita nggak belajar obat, nggak belajar ngasih resep. Itu aja. Kalo bukan kita yang bela profesi ini, siapa lagi."

Ada juga Pak Yadi dan Bu Wahyu yang jadi terapis di poli kardiopulmonal. Mereka orangnya juga asik banget. Pak Yadi walopun kalem tapi terlalu flat, hahaha (ampun pak). Bu Wahyu juga asik. Orangnya kalo cerita ekspresif banget.

Trus hari pertama kita langsung dibawa ke ruangan bedah jantung di lantai 4 gedung perawatan bedah. Disana ada dua pasien, Tn. S dan Tn. P. Dua bapak ini masih muda, Tn. S masih 48 tahun, Tn. P 43 tahun tapi harus operasi CABG (Coronary Artery Bypass Graft). | Apatuh dam CABG? | Jadi CABG itu prosedur operasi untuk pasien dengan diagnosis medik CAD (Coronary Artery Disease, atau Penyakit Arteri Koroner) untuk menambal dinding arteri jantung yang mengalami penyumbatan. Biasanya ada plak atau penebalan dinding arteri, jadi arteri di jantung yang nyumbat itu nggak bisa mengalirkan darah ke jantung secara normal dan lancar kayak kondisi biasanya. Kalo darah nggak ngalir ke jantung, oksigen juga kurang, nanti sel-sel ototnya mati. Kalo sel otot jantung mati, akibatnya sel mengeras dan bisa kena serangan jantung. You know lah gimana efeknya kalo jantung kekurangan aliran darah. Telat dikit, udah dah. Jadi operasi itu semacem cangkok arteri yang udah rusak dan ditambel sama saluran baru.

Nah jadi jantungnya dibedah, dimulai dari sternum atau ujung tulang dada yang tengah tuh. Trus arteri yang nyumbat tadi diganti sama arteri atau vena yang masih bagus, diambil dari tangan atau kaki. Makanya jangan kaget kalo ada sodara atau tetangga yang abis operasi CABG, jaitannya ada di tangan atau sepanjang kaki. Itu karna salurannya diambil dari situ. Biasanya operasi ini dilakukan untuk memperpanjang hidup pasien dan melancarkan aliran darah lagi yang sebelumnya tersumbat.

Waktu kita dateng pertama kali, seneng banget deh. Mr. S & Mr. P yang masih berstatus tentara pangkat kodim ini kooperatif banget waktu kita ajak latihan. Ceritanya ini pasien berdua bed nya sebelahan, satu kamar. "Duh ini ada mbak-mbak cantik. Seneng saya," kata Mr. S.

"Kok pak S dipegang perutnya, saya nggak? Ayo sini dipegang juga dong perut saya," Mr. P jeles gitu ngeliat Mr. S diperiksa otot sekitar perut sama dadanya xD

"Halah bapak iki lho, kemaren cemberuuut terus. Ini giliran ada yang ayu-ayu kok langsung senyam-senyum," istri Mr. P menyahut di kursi. Haha. Kocak banget lah selama di ruangan dua pasien ini :"")

Untuk dua pasien post-op CABG ini, kami menanyakan keluhan utama pasien, melakukan cek vital sign (tensi, nadi, respiratory rate, dll), cek inspeksi pola nafas, palpasi spasme otot dan nyeri. Untuk latihannya, Pak Yadi mencontohkan breathing excercise dan ankle pumping buat melancarkan aliran darah, kemudian Mr. P dan Mr. S mengikuti. Syukur Alhamdulillah Mr. P dan Mr. S udah bisa jalan kesana kemari, udah bisa banyak gerak walopun masih ngerasa nyeri di bagian jahitan dada dan jahitan di tungkai kiri-kanan.

Setelah latihan di ruangan selesai, kami bergegas lagi mengikuti Pak Yadi ke ruangan isolasi paru di lantai 1 gedung perawatan paru. Disana ada satu pasien, inisial Miss M. Miss M ini masih muda banget, usia 18 tahun tapi harus dirawat hampir 3 bulan karena Pneumothoraks yang disebabkan TBC Paru. Dulu Miss M ini beratnya hampir 50 kilo, tapi semenjak sakit TBC dan Pneumothorax ini beratnya ilang 20 kilo jadi sisa 30. Kuruuus banget. Padahal sebelumnya Miss M itu dancer di sekolahnya, jadi aktif lah ya ikut lomba ini lomba itu.

Pneumothorax itu penimbunan udara di rongga pembungkus paru-paru atau pleura. Patologinya agak panjang. Bisa terjadi karna ada trauma atau luka di rongga pleura, atau karna penyakit yang melatarbelakanginya. Nah di kasus Miss M, pneumothoraksnya karna ada penyakit yang melatarbelakangi, salah satunya TBC Paru ini. Jadi karena TBC paru yang sebelumnya udah kena ke Miss M, paru-parunya kolaps. Rongga pleuranya jadi lemah dan udara jadi masuk ke rongga. Normalnya, udara nggak boleh masuk ke situ.

Jadi untuk ngeluarin udara dari dalem rongganya, Miss M dipasang WSD atau Water Sealed Drainage di dada kanannya. Sebelumnya, dua kali dipasang di dada kiri. Waktu kami dateng ke kamar isolasinya hari Senin ini, Miss M ngerasa nyeri di sekitar dada lateral kanan. "Selangnya kerasa gerak-gerak gitu," kata Miss M.

Selesai kita periksa, Miss M juga dikasih breathing exercise, segmental breathing di dada sebelah kanan (soalnya pengembangan dadanya juga lebih dominan kiri, kanannya cenderung ketinggalan. Asimetris gerak pengembangan gitu), ankle pumping sama sedikit massage di daerah otot upper trapezius yang spasme.

Jujur sih awalnya masih bingung mau ngasih exercise apa. Haha. Maklum, hari pertama. Jadi yaaaa gitu deh masih bingung mau ngelakuin apa .__.v

Hari-hari selanjutnya, kami berlima mulai dibagi dua. Ada yang ke ruangan bedah jantung sama ruangan isolasi dan ada yang di poli sambil nunggu giliran ke ICU. Yang ke ruangan rawat pasien biasanya sama Pak Yadi, yang ke ICU sama Bu Wahyu. Tutorial tiap pagi sama Bu Hanidar.

Selanjutnya kita ketemu pasien sinusitis, ASD (Atrium Septum Defect), Atelektasis karna TBC Paru sama pasien stroke di ruangan poli. Biasanya di poli kita kasih intervensi modalitas (TENS, MWD/SWD, sama Infrared) plus breathing exercise.

Yang menegangkan itu waktu praktek ke ICU. Duh, rasanyaa... Sedih campur haru. Pasien-pasien di ICU hampir kritis semua. Rata-rata kesadarannya setengah koma. Bunyi alat-alatnya bikin kita bersyukur banget sama kondisi kita yang sehat. Selama dua minggu ini ke ICU ketemu pasien CKB (Cedera Kepala Berat karna kecelakaan), stroke hemorrhagic, peritonitis (infeksi saluran rongga perut), sama pneumonia. Dari lima, dua pasien meninggal dan satu dipindah ke ruang perawatan umum :"

Di ICU itu kita latih pasif exercise buat pasien-pasien yang kesadarannya somnolen atau soporo-coma, latih pasif breathing, pasif stretching untuk mengurangi spasme, inhibisi spastik, clapping buat ngebantu ngeluarin sputum dan pasif ankle pumping. Seenggaknya walopun pasien ICU nggak pada sadar, tapi kita ngelatih gerak dari pasien walau geraknya gerak pasif.

Pokoknya selama dua minggu awal ini kita belajar banget cara nanganin pasien dari awal. Dari anamnesis, asesmen, sampe mikir ini pasien harus kita kasih apa supaya fungsional gerak sama pernafasannya bisa kebantu lagi. Jujur ini kardiopulmonal di kolom nilai IP semester kemaren yang paling tinggi. 9 men, haha. Tapi pas turun langsung di lapangan rasanya kok jadi rada bingung gitu. Ya Allaah banyak dosa kali yak ini -__- Harus banyak belajar lagi! Semangat!

Sekian jurnal paruh minggu pertama praktek klinik di RSPAD Gatot Subroto! Seneng deh rasanya. Bercapek-capek dahulu baru berwisuda kemudian, gapapa deh. Pengalaman berharga itu kan emang harus berdarah-darah dulu. Eaa. Doakan saya selalu semangat dan selalu sehat ya! Makasih pemirsa!! Semoga tementemen semua juga pada sehat semua, lancar kuliahnya lancar aktivitasnya.

BERSSZEMANGAAT!!! ^^/

You Might Also Like

0 komentar