Galaksi 15 Dimensi Part 3
05.43
Kita bermain-main
Siang-siang hari senin
Tertawa satu sama lain
Semua bahagia semua bahagia
Kita berangan-angan
Merangkai masa depan
Dibawah kerindangan dahan
Semua bahagia semua bahagia
Matahari seakan tersenyum...
Walau makan susah walau hidup susah
Walau 'tuk senyum pun susah
Rasa syukur ini karna bersamamu juga
Sulit dilupakan
Kita berlari-lari
Bersama mengejar mimpi
Tak ada kata 'tuk berhenti
Semua bahagia, semua bahagia..
Oh, aku bahagia
-Sherina, Aku Bahagia
-----------------------------------------------------------------------
Malam itu jam baru saja sampai di angka 8. Aku bangkit dari depan televisi dan beranjak ke dapur. Mengambil toples kopi bubuk dari Italia, kiriman tetangga. Malam ini salah satu channel menyiarkan nostalgia 150 lagu-lagu hits lama Indonesia jaman 2000-an. Kemudian mengalun lagu I Remember, original soundtrack film Catatan Akhir Sekolah yang dulu dipopoulerkan Mocca sekitar tahun 2005. Dan... Diluar hujan. Malam yang tenang.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Lalu aku mulai membuang 3 sendok bubuk kopi ke dalam cangkir.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi itu kami membuang sampah-sampah, debu dan segala macam hal yang perlu dibuang. Kamar kami sedang bersih-bersih rutin. Yes. Pagi itu pagi di hari Jum'at. Koran-koran yang berserakan di berbagai box dikeluarkan. Menumpuk di meja setrika dan dibawah-bawahnya. Semua orang mulai sibuk membersihkan kasurnya dan baju serta barang-barang dibawah ranjangnya. Menyikat kamar mandi, mengepel dari pojok ke pojok lainnya, merapikan jajaran sepatu dan sandal di luar hingga mengelap kaca jendela dan membuat teras kamar kinclong se-kinclong-kinclongnya. Semua larut dalam peluh keringatnya masing-masing. Sesekali melempar canda satu sama lain. Sampai kemudian berselonjor bersama di lantai dan menduduki kasur-kasur setelah kamar selesai dibersihkan. Melepas penat, menghabiskan obrolan dalam santap cemilan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kemudian kuletakkan panci berisi air diatas api kompor gas yang menyala.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Meledaklah semangat kami hari itu. Selalu bahagia saat mendapati kamar kami menjadi rapih, bersih, tidak berantakan walaupun 3 atau 4 jam kemudian hal itu tidak akan bertahan lama. Hahaha. Setidaknya, saat ada penilaian kamar nanti kamar kami akan mendapat nilai yang baik karna sudah bersih bening seperti tanpa kaca. Itu mah Cling keles. Tapi yang menarik adalah, hari itu aku mendapat banyak koran lama. Tak tega rasanya melihat koran-koran itu tergeletak tanpa ada yang mau memilikinya (lagi). Maka aku dengan senangnya mulai menggunting hal-hal yang bisa aku gunakan. Buat apa dam? | Yak! Menyulap dinding di depan kasur menjadi mading!^^
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku menunggu tiga menit untuk mendapatkan air yang masak dan mendidih.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Tidak perlu menunggu waktu lama untuk mengumpulkan bahan-bahan yang bisa kugunakan. Dan segera saja setelah aku mulai menempelkan ini-itu di dinding, yang lain pun mendadak dangdut, eh bukan, mendadak mengikuti apa yang aku kerjakan. Milla, Sepir, Apap, Dije, Micut, Nden dan Depe. Bedanya, Nden dan Depe agak keren karna mereka bukan nempel di tembok tapi di sterofom. Elitan dikit lah ya haha. Karen, Jeki, Wardah dan Eca juga punya mading. Yang paling beda cuma punya Eca. Karna Eca bukan nempel guntingan koran, tapi kanvas lukisan cinta bergambar burung yang dipersembahkan untuk doi. Doi yang telah berlalu XD *ampun ca*
Tampaknya aku sudah memberikan sedikit inspirasi baru di kamar. Jadilah hari itu kami sibuk gunting ini itu, tempel sana sini setelah beberes kamar selesai. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk melihat beberapa dinding di kamar kami sudah penuh dengan tempelan mading. Yang paling kuingat hari itu, saat Apap memintaku membuatkan mading untuknya juga. "Daaam bikinin Apap juga dong dam. Aku mau dibikinin mading juga ya dam yang bagus. Yang bikin Apap semangat hehe." | "Oke paap sebentar ya."
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Air yang kumasak mendidih! Saatnya mencampurkan air dengan bubuk kopi dalam cangkir.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Lalu aku mencampur adukkan potongan gambar dan potongan huruf-huruf dari koran yang bisa kugunakan untuk membuat dinding kasur Apap lucu, imut dan menghibur seperti yang kulakukan pada dinding kasurku. Entahlah, aku lupa waktu itu menempelkan apa saja di temboknya Apap. Selain kata-kata penyemangat, ada satu yang paling kuingat: Foto besar Pak SBY di sebuah headline yang sedang pidato di Istana Negara. Pose pak SBY yang humble dan sedang menyentuh hatinya dengan tangannya yang mulai menua dengan ekspresi wajah yang seolah sedang berkata: "Saudara-saudara yang saya cintai sepenuh hati..."
Dengan cepat aku menggunting bapak SBY sebelum keduluan yang lain (padahal emang nggak ada yang mau ngegunting pak SBY). Kemudian kutambahkan potongan huruf-huruf dari judul-judul berita besar. Setelah kugabungkan, kutempel di bawah foto pak SBY tadi. Tulisannya: "APAP, AKU PADAMU." Alhasil aku tertawa sendiri melihat hasil karya yang kubuat sendiri juga. Sebab saat masuk kamar, dinding Apap adalah dinding yang langsung terlihat bagi siapa saja yang datang ke kamar kami. Membayangkan seandainya Pak SBY benar-benar berkata demikian dengan mimik muka yang sama seperti di foto. Dalam hati aku berkata, "pap semoga setiap saat lo bangun tidur, lo liat muka pak SBY dan lo jadi semangat sepanjang hari karna lo tau presiden lo always 'I Heart You' pap." Dan syukurlah, Apap menyukainya X))
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kuaduk rata bubuk kopi dengan air panas hingga aroma kopi yang pekat semerbak meresap dalam hidungku.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kenangan-kenangan itu seolah meresap dalam memori dan mengendap di dasar hati. Rasanya seperti baru kemarin menempel dan menciptakan mading bersama Milla, my bedmate. Bersama Sepir dan yang lainnya juga, yang lebih berseni dan tertempel banyak mimpi dan candaan-candaan lucu lewat guntingan koran.
Sepir yang ingin masuk Desain ITB, Milla yang ingin masuk FK UNAIR, Dije yang ingin masuk FK UGM, Apap di Psikologi, dan Jeki yang ingin segera UN dan Hafidzah. Aku pun sempat dengan pede tinggi menempelkan FK UI di madingku sendiri. Haha. Meski tidak semua mimpi itu kami capai, setidaknya dulu kami semua berani bermimpi medapatkan apa yang kami inginkan.
Kami tau bahwa Allah memberikan apa yang kami perlukan, bukan sekedar apa yang kami impikan. Inilah jalan terbaik kami di takdir kami masing-masing. Sepir di Tata Busana UPI, Milla di IT Telkom Bandung, Dije di Tekpang UGM, Eca di Monash University, Apap di BK UNJ, Nabila dan Jeki di Al-Azhar Kairo, Nden di FK UNISBA, Karen di FKG UNSUD, Micut di Pendidikan Keluarga UPI, Ika di Sastra Indonesia UPI, Depe di IT UII, dan aku sendiri di Diploma FK UI. Kita memang tidak bersama lagi, tapi kita mengejar tujuan yang selalu dan akan selalu sama. Surga. Disanalah kita akan bersama-sama lagi, bukan?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Tegukan pertama. Hangat sekali, dan nikmat.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Terima kasih untuk hari penuh tawa itu teman-teman! Hari-hari yang selalu bahagia untuk kita ulang kembali melalui nostalgia tiada habis. Hari-hari yang akan kita perdengarkan kembali ke anak cucu kita tentang masa-masa gila di sebuah surga kecil di kaki gunung. Yang meski sebenci apapun kita dan sebesar apapun kita ingin membakar pesantren tak berdosa itu, tapi kita akan selalu merindukannya. Yang meski sedingin apapun angin dan airnya, kita akan selalu mengingat kehangatan ibadah dan perjuangan bersama disana. Merindukan tawa canda dan masa muda kita disana.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Hujan masih berderai diluar, dan tiba-tiba saja cangkir kopi sudah habis. Hanya ampas tersisa di bibir cangkir.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Berharap kelak kita menjadi orang-orang terbaik, dan bisa memberikan yang terbaik pula untuk negeri dan untuk Surga kecil yang mendidik kita menjadi alumni terbaik. Kembali. Kembali dan memberi apa saja yang bisa kita berikan. Semoga masih banyak umur dan kesempatan untuk bertemu kalian, dan masih banyak kesempatan untuk kembali menengok Surga kami. Melihatnya terus tumbuh menjadi Surga yang Islami dan kuat dengan tarbiyahnya. Semoga.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Salam Rindu untuk semua Asmadrid & Khanza.
Depok, April 2014.
Ditengah kelelahan seminggu, belajar materi ujian 2 SKS rasa 6 SKS.
Good Luck, BERS3mangat Semuanya! :>
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku menunggu tiga menit untuk mendapatkan air yang masak dan mendidih.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Tidak perlu menunggu waktu lama untuk mengumpulkan bahan-bahan yang bisa kugunakan. Dan segera saja setelah aku mulai menempelkan ini-itu di dinding, yang lain pun mendadak dangdut, eh bukan, mendadak mengikuti apa yang aku kerjakan. Milla, Sepir, Apap, Dije, Micut, Nden dan Depe. Bedanya, Nden dan Depe agak keren karna mereka bukan nempel di tembok tapi di sterofom. Elitan dikit lah ya haha. Karen, Jeki, Wardah dan Eca juga punya mading. Yang paling beda cuma punya Eca. Karna Eca bukan nempel guntingan koran, tapi kanvas lukisan cinta bergambar burung yang dipersembahkan untuk doi. Doi yang telah berlalu XD *ampun ca*
Tampaknya aku sudah memberikan sedikit inspirasi baru di kamar. Jadilah hari itu kami sibuk gunting ini itu, tempel sana sini setelah beberes kamar selesai. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk melihat beberapa dinding di kamar kami sudah penuh dengan tempelan mading. Yang paling kuingat hari itu, saat Apap memintaku membuatkan mading untuknya juga. "Daaam bikinin Apap juga dong dam. Aku mau dibikinin mading juga ya dam yang bagus. Yang bikin Apap semangat hehe." | "Oke paap sebentar ya."
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Air yang kumasak mendidih! Saatnya mencampurkan air dengan bubuk kopi dalam cangkir.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Lalu aku mencampur adukkan potongan gambar dan potongan huruf-huruf dari koran yang bisa kugunakan untuk membuat dinding kasur Apap lucu, imut dan menghibur seperti yang kulakukan pada dinding kasurku. Entahlah, aku lupa waktu itu menempelkan apa saja di temboknya Apap. Selain kata-kata penyemangat, ada satu yang paling kuingat: Foto besar Pak SBY di sebuah headline yang sedang pidato di Istana Negara. Pose pak SBY yang humble dan sedang menyentuh hatinya dengan tangannya yang mulai menua dengan ekspresi wajah yang seolah sedang berkata: "Saudara-saudara yang saya cintai sepenuh hati..."
Dengan cepat aku menggunting bapak SBY sebelum keduluan yang lain (padahal emang nggak ada yang mau ngegunting pak SBY). Kemudian kutambahkan potongan huruf-huruf dari judul-judul berita besar. Setelah kugabungkan, kutempel di bawah foto pak SBY tadi. Tulisannya: "APAP, AKU PADAMU." Alhasil aku tertawa sendiri melihat hasil karya yang kubuat sendiri juga. Sebab saat masuk kamar, dinding Apap adalah dinding yang langsung terlihat bagi siapa saja yang datang ke kamar kami. Membayangkan seandainya Pak SBY benar-benar berkata demikian dengan mimik muka yang sama seperti di foto. Dalam hati aku berkata, "pap semoga setiap saat lo bangun tidur, lo liat muka pak SBY dan lo jadi semangat sepanjang hari karna lo tau presiden lo always 'I Heart You' pap." Dan syukurlah, Apap menyukainya X))
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kuaduk rata bubuk kopi dengan air panas hingga aroma kopi yang pekat semerbak meresap dalam hidungku.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kenangan-kenangan itu seolah meresap dalam memori dan mengendap di dasar hati. Rasanya seperti baru kemarin menempel dan menciptakan mading bersama Milla, my bedmate. Bersama Sepir dan yang lainnya juga, yang lebih berseni dan tertempel banyak mimpi dan candaan-candaan lucu lewat guntingan koran.
Sepir yang ingin masuk Desain ITB, Milla yang ingin masuk FK UNAIR, Dije yang ingin masuk FK UGM, Apap di Psikologi, dan Jeki yang ingin segera UN dan Hafidzah. Aku pun sempat dengan pede tinggi menempelkan FK UI di madingku sendiri. Haha. Meski tidak semua mimpi itu kami capai, setidaknya dulu kami semua berani bermimpi medapatkan apa yang kami inginkan.
Kami tau bahwa Allah memberikan apa yang kami perlukan, bukan sekedar apa yang kami impikan. Inilah jalan terbaik kami di takdir kami masing-masing. Sepir di Tata Busana UPI, Milla di IT Telkom Bandung, Dije di Tekpang UGM, Eca di Monash University, Apap di BK UNJ, Nabila dan Jeki di Al-Azhar Kairo, Nden di FK UNISBA, Karen di FKG UNSUD, Micut di Pendidikan Keluarga UPI, Ika di Sastra Indonesia UPI, Depe di IT UII, dan aku sendiri di Diploma FK UI. Kita memang tidak bersama lagi, tapi kita mengejar tujuan yang selalu dan akan selalu sama. Surga. Disanalah kita akan bersama-sama lagi, bukan?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Tegukan pertama. Hangat sekali, dan nikmat.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Terima kasih untuk hari penuh tawa itu teman-teman! Hari-hari yang selalu bahagia untuk kita ulang kembali melalui nostalgia tiada habis. Hari-hari yang akan kita perdengarkan kembali ke anak cucu kita tentang masa-masa gila di sebuah surga kecil di kaki gunung. Yang meski sebenci apapun kita dan sebesar apapun kita ingin membakar pesantren tak berdosa itu, tapi kita akan selalu merindukannya. Yang meski sedingin apapun angin dan airnya, kita akan selalu mengingat kehangatan ibadah dan perjuangan bersama disana. Merindukan tawa canda dan masa muda kita disana.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Hujan masih berderai diluar, dan tiba-tiba saja cangkir kopi sudah habis. Hanya ampas tersisa di bibir cangkir.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Berharap kelak kita menjadi orang-orang terbaik, dan bisa memberikan yang terbaik pula untuk negeri dan untuk Surga kecil yang mendidik kita menjadi alumni terbaik. Kembali. Kembali dan memberi apa saja yang bisa kita berikan. Semoga masih banyak umur dan kesempatan untuk bertemu kalian, dan masih banyak kesempatan untuk kembali menengok Surga kami. Melihatnya terus tumbuh menjadi Surga yang Islami dan kuat dengan tarbiyahnya. Semoga.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Salam Rindu untuk semua Asmadrid & Khanza.
Depok, April 2014.
Ditengah kelelahan seminggu, belajar materi ujian 2 SKS rasa 6 SKS.
Good Luck, BERS3mangat Semuanya! :>

0 komentar