Galaksi 15 Dimensi.

06.29

-Djakarta Pastry & Tea-Coffee Cafe, Jakarta Pusat. 
Minggu Siang menjelang Sore, Februari 2047

gerimis besar menggelayuti dinding atmosfir langit. membasahi kaca-kaca, dedaunan, manusia tak berpayung dan apa saja yang dilalui. wangi tanah basah menyeruak harum, dingin namun hangat. dunia masih berputar; hal-hal lama hilang dan berganti dengan segala yang baru.

Jakarta kini sudah tertata, dengan MRT jalur layang dan bawah tanah yang hampir tiap hari dipenuhi anak-anak hingga lansia. tidak lagi bergantung pada 'teknologi limbah Jepang'. tidak berdesak desak seperti commuter line jaman pertengahan 2000. pemerintah menekan penggunaan mobil dan mengorbankan berpuluh-puluh miliar demi membudayakan sepeda berteknologi. ramah lingkungan, tentu. Jakarta tak lagi bising dengan klakson mobil dan motor. macet teratasi- rakyat bersepeda terlihat di penjuru Ibukota. banjir tak lagi separah dulu, jaman 2007 atau 2012. sistem kota dirombak habis dan ditata sistematis oleh generasi muda yang kebanyakan kembali ke tanah air selepas belajar dari negeri orang. membangun bersama nusantara, meninggalkan status 'negara berkembang'.

meski mall 10 lantai dan apartemen pencakar langit masih kokoh berdiri dan makin menjadi saja ke-metropolitan-nya. meski kini Apple makin berjaya. meski Samsung dan Blackberry makin ditinggalkan dan kaum muda belia bahkan anak anak menginjak remaja sudah mengenal smartphone jenius 4 dimensi. kecanggihan dipamerkan dimana-mana. di jalan, supermarket, sekolah, gerobak ketoprak hingga warung nasi rames. makin gila saja dunia. dan meski demikian gilanya, Djakarta cafe masih selalu didatangi sekumpulan wanita dengan cucu-cucu berkeliaran di meja mereka. mengaku-aku sebagai sahabat lama sedari 35 tahun lalu.

" 'Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to place that we'd meet
And you see me waiting for you on the corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving
I'm not moving....... "

lagu usang The Script jaman 2009 dulu dinyanyikan ulang oleh Dude dan band-nya, pemuda-pemuda yang tiap minggu mengisi Djakarta cafe dengan suara merdu dan iringan lagu lama penuh makna. mengisi suasana hati siapapun pengunjung yang datang. sedikit banyak membantu penikmat hidangan menjelajah waktu. nostalgia.

"Oma! aku mau tambah Choco Oleo Blend nyaaaaaaaa please," seorang bocah bermata coklat, kulit putih dan rambut ikal menarik gamis bercorak milik neneknya. yang ditarik menoleh dan tertawa renyah mendapati gigi Zaskya, cucu pertamanya penuh dengan bintik bintik hitam oreo.

"jangan Oma Eca! nanti giginya Zasky bolong lagi. item lagi. jelek. yaks," Shaifa, bocah sebaya Zasky menyahut paling keras sambil menunjukkan wajah bergidik, padahal giginya juga penuh coklat-coklat selai donat.

"ih Shaifa mah galak kayak omanya. ngaca tuh gigi kamu juga joloook!" Zasky menyelak tak mau kalah.

"aduh cu, jangan berantem..... nanti meja kita diliatin orang lagi," Oma Micut menengahi bijak. menyisakan adu melotot dan melet lidah antara Zaskya dan Shaifa. padahal hampir setiap kali mereka datang, meja nenek-cucu itu selalu dilirik asem sama orang-orang. ribut terus. 

"Shaifa, aduuh kamu kok belepotan makannya. malu-maluin Oma aja," Oma Sepir membetulkan letak kacamatanya yang ber-style muda walaupun pemakainya oma-oma berusia 54 tahun. kemudian mengambil tissue dan mengusapkan ke mulut cucu ketiganya yang sangat cerewet dan nyablak. persis Sepir-nya waktu muda dulu.

"yaampun dam, cucu lu gaul banget itu dari tadi makan muffin sambil main PSP. mana headsetnya gede segaban-gaban. pasti ajaran elu nih," Eca menyenggol Dame yang lagi syahdu menyeruput Capuccino. yang ditunjuk gak bergeming, serius banget menekuni PSP-nya. Dame melirik game yang lagi anteng dimaenin Amira, si cucu. lagi-lagi A Walking Dead. game zombie favorit cucunya Dame. cewek tapi demenannya game-game cowok. kalo gak zombie, PES atao nggak RPG.

"aduh itu bukan gue Ca. itu cucu gue ketularan emak-bapaknya, udah tau anak gue demen ngoleksi gadget. gue mah ngajarin ngaji, udah capek gue ngajarin yang gaul-gaul..." sahut Dame. "tapi kalo urusan sepak bola emang gue yang ngajarin ehehe."

"halah mfret. elu ngajarin lagu-nya ST 12 jaman kita dulu kan. ngaku aja lah dam," Sepir menimpali.
"itu mah cucunya Wider aja"
"dasar lu dam nenek-nenek"
"elu juga nenek-nenek nyong"
"hahahaha"

kerenyahan suasana kembali memenuhi meja. obrolan mengalir lagi ke zaman-zaman dulu saat wanita-wanita berumur itu masih hidup satu asrama. isi diary, kelakuan-kelakuan konyol sepanjang masa yang ingatannya nggak pernah memudar. selalu ada yang bisa dikenang dan ditertawakan.

"apalagi pas Apap dijenguk uminya. kita nyanyi-nyanyi lagunya maher zain," kata micut.
"kita ganti mabruk-nya jadi mamduh hahaha" sepir menambahi.
"yang lucu mah bajak sms ke mamanya Eca sama Karen. bawa bawa Idun sama Naen" depe membuat meja meledakkan tawa lagi saat mengingat momen tersebut.
"iya dep apalagi pas mamanya Eca bales, 'awas ya ca nanti mama bilangin papa nih biar tau rasa'" nden membuat tawa-tawa menjadi lebih keras.
"yang bbm ke mamanya nabila juga tau nden. 'ma, yaser mau ketemu ma di saung' "
"waktu beli parfum saddam husein juga coy," dame dengan tidak memedulikan 'coy' yang agak kurang pas diucapkan kerumunan wanita lanjut usia, mengenang momen lain yang sampai hari ini masih terjaga kelucuannya.
"bukan saddam husein lay, kijang kasturi yang tertukar," nabila celia yang baru kembali dari rumah menantunya di Mesir menyela, diikuti tawa dame dan yang lain.
"kijang kasturi tapi tutupnya muzoffar"
"yang wanginya kayak kemenyan"
"haha sumpah ya gokil banget"
"yhang pharah mahh dhedhepih, whakthu ganhthi ghanthi dhephe bhe-bhe-em phake nhama shama fhotho ghue," eca yang mulutnya lagi penuh sama choux paste menimpali lagi.
"haha iya gue inget. yesya musthofa kholil," kata karen.
"asep elektronik lebih kocak lagi" depe menambahkan.
nabila celia seketika tersedak saat minum coklat panasnya dan tertawa mengingat kenangan masa dulu. jadul tapi penuh humor.

laughing time meramaikan Djakarta Cafe siang itu. meski diluar angin terus berhembus dan curah hujan semakin besar. alunan lagu Owlcity yang dikumandangkan Dude Cs. kemudian mengudara indah ke sudut-sudut cafe.

".. I'll find repose in new ways, though I haven't slept in two days
'Cause cold nostalgia chills me to the bone..
But drenched in vanilla twilight, i'll sit on the front porch all night.."

sepir, dame, eca dan karen melanjutkan lirik bersama-sama. sambil memandang senyum-senyum satu sama lain, seolah berkata, "ini kan lagu favorit kita dulu pas di kamar."

"... waist-deep in thought because when I think of you I don't feel so alone
I don't feel so alone.....As many times as I blink I'll think of you, tonight..."

"Omaa kita mau main hujan-hujanan dong di beranda belakang. boleh nggak?" Jasmine, cucu Nabila yang mukanya blasteran barbie plus Jakarta nyeletuk.
"iya Oma, kita mau ngeliat hujan. ujan-ujanannya pake payung deh," Najmi, cucunya Micut ikut bersuara. oma-oma yang lain terkekeh mendengar tawaran Najmi yang mau ujan-ujanan tapi pake payung.

"gimana nih Oma Ganks, diijinin nggak cucu-cucunya ujan-ujanan?" Eca dengan tampang rese mengerling ke yang lain.
"suruh mereka ijin ke Teh Mawar dulu aja Ca," Ika menyahut.
"jangan lawak sekarang ka, nanti cucu-cucu kita ketularan," Karen mendelik.
"haha yaudah boleh aja deh tapi jangan berisik ya. nanti oma-oma diomelin," Dame akhirnya memutuskan.
"OKE OMA! NGGAK PAKE BELISIK!" sambil memberi gerak hormat ala pramuka, cucu-cucu itu bersorak dan bergegas menuruni bangku masing-masing. meninggalkan makanan mereka yang sudah habis.
oma-oma pada nyengir lucu, seperti melihat bayangan mereka kecil dulu.

"wooy! woy tungguin Amira woy! wah parah nih jagoan gini ditinggalin," Amira, cucunya Dame yang tomboi yang tadi sok cool pake headset gede plus PSP ditangan ketinggalan rombongan. Dame menggeleng-geleng heran ngeliat kelakuan cucunya.

"haaai Oma Ganks...."
tiba-tiba seorang wanita sebaya mereka, umur 54-an menghampiri. membawa balita berumur 2 tahun dalam dekapan.

"haaai Oma JO!" sahut mereka serempak. Djakarta Pastry Cafe ini sebenarnya dulu punya Kajo. karna umurnya udah lewat pensiun, jadi yang nerusin usaha anak sama mantunya. untung mantunya juga lulusan Tata Boga kayak Kajo. Kajo sekarang cuma bantu-bantu ngawasin Cafe. momongin cucunya sembari mantunya kerja ngurus karyawan :)

kemudian obrolan kembali melayang mengudara. diselingi tawa yang tak pernah mati. masing-masing mengunjungi kembali kenangan yang bersemayam di hati dalam bentuk galaksi berdimensi, saling menambahi sambil meneguk cangkir minuman. denting sendok dan garpu beradu dengan lagu-lagu yang masih mengalun.

"minggu depan jangan bawa cucu cewek ah, gantian cucu yang cowok yang dibawa," usul Sepir.
"yah pir, gue belom punya cucu cowok," depe interupsi.
"suruh anak lo bikin cucu cowok dulu dep"
"ngasal lo pir!" depe tertawa sambil menghabiskan croissant-nya dalam satu suapan.

kemudian hujan semakin berderai ramai diluar cafe. pengunjung semakin ramai berdatangan. berteduh dan menghangatkan diri dengan secangkir kopi dan sepotong roti lembut. bernostalgia bersama kenangan lama dan iringan gemuruh angin....

-----------------------------------------------------

*PS: lagi iseng banget. di kamar, abis ngabisin dua gelas kopi campur millo. 
mohon maaf apabila ada kemiripan karakter, nama dan tempat tapi tokoh dan cerita nostalgia diatas based on true story. sampai jumpa di cerita masa depan berikutnya. 

warmly regards, me.
xoxoxo

You Might Also Like

0 komentar