[Review] Surga Yang Tak Dirindukan

09.07


Salam!

Senja di ujung Jakarta. Ah, lama tak jumpa. Apa kabar? Lets say thank to SYTD (Surga Yang Tak Dirindukan), karna postingan tentang film ini menandakan comeback saya ke blog ini hahaha.

Ceritanya, kemarin (hari Selasa) saya dan sahabat saya Qisty Astari baru saja nonton film yang diangkat dari cerita karya mbak Asma Nadia. Tidak lain tidak bukan adalah Surga Yang Tidak Dirindukan, yang sudah lewat dari 1 bulan penayangan. Masih ramai penonton. Daebak.

Kalo bukan karna tiket gratis, bisa jadi saya nggak akan nonton ini. Lah. Flashback sebelumnya, ceritanya teman saya yang lain, Ammar Yasir yang merupakan pengurus inti FSI FISIP UI (LDFnya FISIP) mempromosikan kuis yang diadakan FSI dengan hadiah tiket gratis nonton SYTD di bioskop 21. Syaratnya gampang, berkreasi dengan akronim SYTD sesuka hati. Trus mention ke FSI pake hestek #AwesomeGift dan #SYTD. Kebetulan, obrolan kami di grup Islah UI saat itu lagi guyonan singkatan SYTD. Gue nggak mau kalah dong. I wrote, "Siapa Yang Tau Djodoh".

Eh trus kata Ammar, "Dam itu tolong ditwit. Siapa tau jodoh, sama tiketnya :D"

Didukung oleh Qisty, akhirnya saya ngetwit beneran. Dua kali. Yang satu "Siapa Yang Tau Djodoh", satu lagi "Skripsi Yang Tenggelam Dilaptopmu". Alhamdulillah, beneran jodoh sama tiketnya wakaka. Saya terpilih menjadi salah satu dari 5 pemenang. Pokoknya ending cerita ini, saya dapet 2 tiket gratis film Surga Yang Tak Dirindukan. Langsung cabs lah saya dan Qisty hari Selasa jam 1 siang di bioskop 21 Detos.

Awal nonton film ini, saya dan Qisty bergumam 'ih jalan ceritanya cepet banget ya.' Kenapa? Tokoh Pras (Fedi Nuril) yang diceritakan ketemu nggak sengaja sama Arini (Laudya Cintya Bella) kemudian menikah dan punya anak (Nadia), hanya dalam durasi 3-5 menit di awal cerita. Gercep juga ya. Darisini kita paham, konfliknya langsung mulai di awal cerita.

Warning. Ini posting spoiler ya. Jangan marah :(

Konfliknya jelas, waktu Meirose (Raline Shah) muncul. Mei yang frustasi karna ditinggal ibu dan bapaknya, kemudian hamil dan ditinggal juga sama suaminya, jeblosin mobil ke jurang dan ditemuin sama Pras. Parahnya, anak Mei lahir sesar setelah dibawa ke rumah sakit. Nobody take the responsibility, akhirnya Pras ngajuin diri. Waktu liat Mei mau bunuh diri di atap rumah sakit, Pras akhirnya janji bakal nikahin Mei malam itu juga. Doi nggak bisa biarin babynya Mei jadi yatim piatu, kayak dia kecil dulu. Akhirnya Mei mau dan mereka nikah, tanpa sepengetahuan Arini. Soalnya itu suddenly juga sih. Pras nyari waktu yang pas buat ngasih tau Arini, sepertinya.

Dan yang lebih sakitnya lagi waktu Pras balik ke rumahnya, mertuanya alias bapaknya Arini meninggal karna serangan jantung. Arini shock waktu Pras dateng, tiba-tiba dateng juga istri kedua sama anak ayahnya yang selama ini nggak diketahui sama Arini. Arini marah, kezel, dan nggak terima kenapa mendiang ayahnya poligami walopun niatnya mau nolong istri keduanya itu. Apalagi, selama ini ayahnya nyembunyiin identitas istri keduanya dari Arini. Intinya Arini sama sekali nggak terima alesan ayahnya menduakan ibunya.

Oke, nggak semua yang loe denger itu bener. Eh nggak. Maksudnya nggak semua jalan cerita SYTD bakal saya tulis disini. Nyesek sih nonton ini, ngerasain rasanya jadi Arini yang nggak tau apa-apa dan harus tau kenyataan kalo suaminya nikah lagi sama perempuan lain bukan dari Pras langsung, tapi dari nota obat apotik yang dibeli Pras buat Akbar, anaknya Mei. Deg-degan juga iya, waktu adegan sebelumnya Arini ke apotik yang sama yang didatengin Pras sama Mei. Mbak Arini juga ketemu sama Mbak Mei, tapi posisinya waktu itu belum tau kalo itu maduannya. Haha. Untung disitu lagi nggak ada Pras, kalo ada bisa perang dunia di apotik..........

Pas adegan Arini nge-gepin suaminya lagi dirumah perempuan lain (Mei), trus Arini nyamperin rumah Mei dimana dia juga ngeliat Pras keluar dari rumah dan masuk ke mobilnya, saya sama Qisty malah nyerocos "Gila gila gila. Ancur udah ancur. Somplak kan. Udah dah, tamat."

Bener. Habis Pras leave the home, Arini turun dari mobil trus masuk ke rumah Mei. You can imagine what Arini did then. Arini emosi se-emosi-emosinya perempuan. Berantem sama Pras dirumah, sampe si bibi yang kerja dirumah mereka melongo. Di titik itu, Arini menganggap bahwa dongeng (ceritanya Arini ini pendongeng di komunitas anak-anak) yang dia ciptakan untuk mendapat surga bersama Pras dan Nadia udah hancur semenjak Pras nikah sama Mei. "Aku sudah tidak merindukan surga itu lagi", katanya.

Adegan-adegan selama satu jam kemudian menceritakan konflik yang dihadapi masing-masing tokoh. Ada plot twistnya juga. Waktu Pras celaka ditangan preman karna nolongin perempuan yang mau dijambret, akhirnya disitu Arini mulai nge-ikhlasin Pras yang nikah sama Mei. Tapi waktu Arini udah bisa nerima Mei, finally Mei choosed to go far away from their life.

Setelah film selesai, saya masih bisa ngerasa sedihnya jadi Arini, atau sedihnya jadi Mei, dan galaunya Pras. Dimana lo cuma pengen setia sama pasangan lo, tapi disaat yang sama takdir mempertemukan lo sama orang lain, yang mungkin membutuhkan bantuan lo untuk tetap hidup dan menyambung hidup generasi dibawahnya. Complicated ya. Namanya juga film, haha. Kadang mikir juga, cerita macem itu sebenernya pasti ada yang mengalami juga di dunia nyata. Tapi balik lagi, apa musti poligami ya satu-satunya cara? *20+ keatas*

Yasudahlah, setiap poligami ada hikmahnya kan? x))

Dibalik cerita yang mellow, dan selipan hikmah yang mau disampein cerita ini, saya menikmati sinematografi dan alunan musik yang disuguhkan. Kota Jogja jadi indah gitu diambil dari atas, bahkan tempat-tempat yang jadi latar pengambilan scene juga bagus. Rumah Pras sama Arini sepaket sama properti-propertinya, klasik tapi minimalis gitu. Di pinggir sawah pula. Pokoknya suka. Semoga perfilman Indonesia makin jaya, makin banyak film-film bermutu dan berhikmahnya. Terimakasih sudah memberi inspirasi baru, SYTD!


Sincerely me
Depok, malam Kamis.

You Might Also Like

0 komentar