'Selamat Jalan, Saudariku'

03.59

Selamat Jalan, Saudariku.
(direpost tanpa edit dari blognya Syayma Karimah, temen sekosan Maiz & temennya temen sekelas aku, Iras. Syayma saat ini Mahasiswi FK UNS)

Bismillahirrahmanirrahim
Nurul Huda Islamic Centre, 7 Oktober 2013
10:38 WIB

Sore kemarin, selepas Ashar, saya sangat terkejut membuka sms dari salah seorang mbak yang berisikan kabar kepergian Asma. "Asma sastra arab 2012 ada berapa sih? Ini Asma yang mana?" Saya masih tidak percaya bahwa pemeran utama di sms itu adalah Asma teman satu kos saya, langsunglah saya menelpon teman satu kamarnya, Intan.

"Tan, Asma di mana?"
"dahsuadhiadadhnreu"

Intan menjawab dengan sangat tidak jelas, sedang menangis kejar. Waduh, bener inimah. Saya langsung menuju ke RS dr. Moewardi, tempat di mana Asma dikabarkan berada.

Ramai, sangat ramai. Saya yang masih memiliki sejuta pertanyaan yang bersliweran di kepala langsung dirangkul oleh mbak Yofita. "Syayma, ayo lihat Asma ke dalam." Saya yang masih linglung manut saja dibawa ke IGD. Jgeerr! Saya dapati Asma sudah ditutupi dengan kain hijau, saya hanya bisa melihat kakinya yang sangat putih. "Mbak.. Aku ga berani buka kainnya." (jujur, saya masih agak trauma untuk membuka kain seperti itu. Dulu ketika OSMARU saat perkenalan lab anatomi, di kamar terakhir, tantangannya sama, membuka kain jenazah. Walaupun pada akhirnya saya kekeuh tidak mau membuka kainnya dan dengan terpaksa Mas Ibun/Koor Lab Anatomi membukakannya untuk saya :" ) Mbak Yofita-pun melakukan hal yang sama, membukakan kainnya untukku.

"Syayma.. Ini kenapa, setiap aku makan muntah terus? Aku udah makan nasi, terus muntah. Makan lagi, muntah lagi. Capek, Syay."
"Yeee, itu sih kamu nya aja yang dari dulu males makan. Kamu punya maag ga?"
"Punya."
"Mungkin itu dari maagnya, atau mungkin kamu masuk angin. Walaupun muntah, tetep harus dipaksa makan. Sedikit gapapa, yang penting sering. Oke, Ma?"

Saat melihat wajah Asma saya langsung teringat dengan percakapan -sangat- singkat 2 hari yang lalu sebelum ia pergi. Saya lumayan sering komplain gara-gara Asma malas makan atau hobinya bikin mie. Maafin Syayma yaa, Ma.. Aku cerewet banget :""""(

Terputar kembali memori di hari Sabtu, satu hari sebelum Asma pergi. "Iya, bajuku, alat mandiku ketinggalan semua coba, Syay di tempat DR (Dauroh Rekrutmen)."
"Lha kok bisa?"
"Iya, seplastiknya ketinggalan. Yaudahlah diikhlasin aja.."

Ya, Asma memang selalu begitu, mudah sekali untuk mengikhlaskan.

"Udah yaa, Syay. Aku berangkat dulu, assalamu'alaikum"

Saya menerima salam terakhir darinya.

Setelah mematung beberapa saat, saya langsung keluar kamar IGD tanpa ekspresi. "Subuh kapan datengnya sih? Ane pingin bangun nih." Plakk. Pipi saya ditampar oleh seorang sahabat. "Syay, ini Ashar sungguhan. Nyata." Ternyata saya tidak sedang bermimpi.

Asma... Mungkin belum banyak kenangan yang kita lalui bersama. Tapi banyak sekali butir ilmu yang telah kau ajarkan padaku. Senyum dan ikhlasmu dalam setiap keadaan. Sabarmu ketika banyak ujian. Ah, terlalu banyak jika harus dituliskan semua...

Selain mengingatkan tentang dekatnya kematian, ada butir hikmah lain di balik wafatnya Asma. Tetaplah berada dalam jama'ah/komunitas.

Sungguh, kemarin sore ramai sekali orang berdatangan melihat Asma ke Moewardi. Teman pengajian, kos, kuliah, dan teman-teman alumni PonPes Husnul Khotimah berkumpul semua. Cukup bisa dibayangkan jika kita hidup sendirian, individualis tanpa teman. Siapakah yang akan membawa ke rumah sakit? Siapakah yang akan mengabarkan ke keluarga? Siapakah yang akan memandikan, mengkafankan, menyolatkan, menguburkan dan mendoakan?

Sebuah pelajaran emas bagi kita semua, utamanya untuk anak kos yang tinggal diperantauan seperti saya. Memang dalam berjamaah, berukhuwwah atau terlibat dalam komunitas tidak selamanya mulus dan indah. Konflik itu ada dan merupakan sebuah kepastian (mari tadabbur surah al hujurat ayat 10), tapi kebaikan yang telah dan akan diberikan oleh saudara terdekat kita insya Alloh adalah yang terbaik. Mari rapatkan barisan, semakin kuatkan rabithah pada hati kita dan tingkatkan rasa untuk saling bahu membahu menyelesaikan masalah :)

Selamat jalan Asma-ku sayang... Alloh swt lebih mencintaimu :") Semoga kau selalu berbahagia berkumpul dengan ahli syurga yang lainnya dan semoga kita dapat berkumpul di Firdaus-Nya kelak.

"Ya Alloh…jadikanlah umur terbaik hamba di penghujungnya, amal terbaik hamba dipenutupnya, dan hari-hari terbaik hamba saat bertemu denganMu…"


-Bintu Aqsho-

-------------------------------------------

hari itu, Senin siang menjelang petang. baru saja selesai kuliah Fisiologi di FK Salemba. pertama kali dikasih baca postingan itu sama Iras di peron Stasiun Cikini, mataku berkaca-kaca membaca kata demi kata yang ditulis oleh Syayma. seiring dengan tiupan angin yang menampar pelan pipiku sembari menunggu kereta arah Bogor datang. hatiku menangis dan tergetar memaknai arti dari tiap kalimat, dari awal hingga ujungnya. betapa Maiz telah menyadarkanku dan kami semua, bahwa tidak satupun dari kita akan siap menjemput ajal. tidak memandang umur dan usia. bahkan barangkali setelah Maiz adalah giliranku.

rasanya jauh sekali dari kata 'siap'. bekal yang kumiliki tidak akan cukup untuk merasa pantas bertemu denganNya dan malaikatNya di dalam tanah peristirahatan nanti. apa yang akan aku jawab saat ditanya Munkar dan Nakir? meski tekad untuk berubah sudah tertanam dan masih dalam tahap penguatan (baca: istiqomah), tapi amalan-amalan masih terasa jauh untuk dikatakan cukup. Yaa Rabb.

hatiku makin menangis saat menyadari betapa dalamnya kekuatan ukhuwwah dan persaudaraan yang terjalin kuat sesama saudara seiman, terlebih yang berjuang menuntut ilmu di tanah perantauan. persis seperti yang dikatakan Syayma. renungi sebaris kalimat ini, 'Cukup bisa dibayangkan jika kita hidup sendirian, individualis tanpa teman.' maka nikmatNya yang mana lagi yang kau dustakan?

sedihnya lagi kalo lagi bawa motor atau lagi dalam perjalanan pulang kerumah- trus tiba-tiba kepikiran nggak sempet lagi balik kerumah alias dijemput Izrail ditengah jalan. belom sempet minta maaf sama semua orang, belom berbakti ke orang tua sebaik-baiknya bakti seorang anak, belum sempet ngasih manfaat apa-apa ke orang banyak, belum sempet jadi temen yang baik untuk semua yang kenal aku dan aku kenal. hafalan masih sedikit. hix. sedihnya pol. setelah pergi dari dunia, di dalam liang lahat kita sendiri tanpa teman. tanpa ibu dan ayah. teman sejati hanyalah amal :'(

bloggers, maafin salah salma-madam-dame ini ya. maaf kalo pernah punya salah. kalo ada salah pokoknya minta maaf. makasih udah jadi teman yang baik selama di dunia. (lagi bersikap seolah mati esok hari). semoga kita selalu dilindungiNya dari azab dunia & akhirat.

Maka berlombalah dalam kilau cahaya dan rebut semua pahala. Mumpung nyawa kita masih ada.
salam,

aku yang menyayangi kalian karna Allah.

You Might Also Like

0 komentar