Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

02.47

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer
dengan suara germuruh menderu, serasa pasir
dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon manggaku
di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki
bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-sepatu serdadu
menginjaki tumpuan kening kita semua,
serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-QUr'an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan 
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi
air mataku.

Palestina, bagaimana aku bisa melupakanmu

Ketika anak anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka,
menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,
siapakah yang tak menjerit
serasa anak-anak kami Indonesia jua yang
dizalimi mereka - tapi saksikan tulang muda
mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan
rantau amat panjangnya, pembelit leher lawan mereka,
penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem,
Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra,
Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan
di Pusat Kesenian Jakarta,
jantung kami semua
berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat
oleh sembilu bambu deritamu, darah kami pun
memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi

'Allahu Akbar!' dan
'Bebaskan Palestina!'

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton 
sepekan memproduksi dusta, 
menebarkannya ke media cetak dan elektronika,
mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara,
membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat dunia.
membantai Shabra dan Shatila, 
mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri Anda,
aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum'at sedunia:
doakan kolektif dengan kuat seluruh
dan setiap pejuang yang menapak jalanNya,
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu
dengan kukuh kita bacalah
'laquwwata illa bi-Llah!'

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

1989
-by my favorite poet; Taufik Ismail.
teruntuk tanahku berkilometer dari Indonesia. 
semoga kelak bisa datang dan berjumpa dengan kalian, insan insan pejuang. 
salam penuh cinta. suatu hari aku akan menjejak kaki disana.

You Might Also Like

0 komentar