Galaksi 15 Dimensi- Part 2
08.16
Sebuah hubungan yang tidak pernah membosankan, tidak terelakkan, hubungan yang berjalan di hampir seluruh hidupmu. Itulah keluargamu. [K-Drama 'Reply 1997']
Dermaga Lake House, Kota Baru Parahyangan- Bandung
23:45, penghujung musim hujan, 2019
"udah 3 jam lebih nih. tinggal eca, dame, dedsky sama sepir yang belom dateng. mereka mana sih? katanya nyampe sini jam 9," ika melirik jamnya gemas, terjadi kudeta batin yang menimbulkan kontroversi hati hingga ekspresi ika ikut mempertakut kekhawatiran para sahabat yang duduk di sampingnya. labilisasi kondisi. *vicky's grammar*
"gue udah telfon empat-empatnya tapi diluar service area semua. bbm sama watsap juga nggak deliv. nggak ngerti lagi deh gue," dedepi memainkan Blackberry Torch-nya tanpa makna. walopun udah lewat 7 tahun, torch dari jaman aliyah dulu nggak diganti-ganti sama dedepi. nggak bisa move-on katanya. modus. padahal ada kenangan sama si unyu jibo di hape itu. eh.
"yang bawa mobil siapa emang?" tanya uca.
"si eca. nyupirnya gantian paling sama dame," nabila menyahut.
"mereka tidur dulu kali di jalan," uca yang biasanya autis thinking sekarang mencoba positif thinking.
"yakali gitu ca ketiduran dari magrib ampe jam segini gak nyampe nyampe," wider menyela paling semangat.
malam itu seharusnya mereka sudah komplit berkumpul di sebuah rumah istimewa; rumah berlantai kayu dan berdinding kaca di tepi danau yang cantik nan klasik tapi cukup mewah untuk ukuran anak-anak dewasa muda usia 25-an. rumah yang berdiri sendiri dengan lampu-lampu menerangi sekeliling danau di satu tempat di Parahyangan, Bandung.
rumah yang beratapkan cerita diiringi tawa, yang selalu harum dengan wangi masakan dan akan pasti berantakan tiap kali mereka datang. yang damai dengan ketenangan dan keindahan purnama di antara garis perjumpaan danau dan langit. yang terletak di pinggir perkebunan, dikelilingi pohon besar bak hutan. yang tidak memiliki tetangga. yang sepi dari ramainya ibu kota. yang sejak setahun lalu mereka beli dari si pemilik perkebunan sebagai rumah bersama untuk disinggahi setiap bulan atau tiap 2 bulannya.
rumah yang beratapkan cerita diiringi tawa, yang selalu harum dengan wangi masakan dan akan pasti berantakan tiap kali mereka datang. yang damai dengan ketenangan dan keindahan purnama di antara garis perjumpaan danau dan langit. yang terletak di pinggir perkebunan, dikelilingi pohon besar bak hutan. yang tidak memiliki tetangga. yang sepi dari ramainya ibu kota. yang sejak setahun lalu mereka beli dari si pemilik perkebunan sebagai rumah bersama untuk disinggahi setiap bulan atau tiap 2 bulannya.
angin menyapu dedaunan kering diatas balkon. nden merapatkan sweater barca-nya dan mulai menguap. "kalian, dingin banget..." ujar nden pelan.
"aku juga kedinginan ndeen..." ika memeluk nden rapat.
rintik hujan mulai turun perlahan. titik air yang tertiup angin musim membasahi kaca-kaca jendela yang mengelilingi pondasi rumah. micut menutup pintu kaca di teras belakang sembari bergegas menghampiri yang lainnya di ruang tengah.
"kaliaan, ini udah mau jam dua belas. mereka kenapa-napa nggak ya?" kata micut sambil mondar-mandir.
"telfon polisi aja lah kita," karen yang daritadi diem akhirnya buka suara.
"iya kalo mereka kenapa-kenapa. kalo mereka emang ketiduran atau malah lagi jalan-jalan kan ga lucu juga karen," celetuk kajo yang lagi khusyu maen temple run.
"mereka ngga kecelakaan kan yah," bongki yang lagi selimutan disamping kajo melirik yang lain.
"nauzubillah ih bong, jangan sampe lah," nabila langsung menyerobot.
"abis kalo ada eca biasanya mereka suka ngalamin yang aneh-aneh sih. gue takut mereka ada apa-apa dijalan," kata bongki lagi.
" haha iya juga sih, eca kan ratunya yang aneh-aneh,"
"hawa-hawanya iya bong. jangan-jangan pas lagi lewatin jalan hutan mereka ketemu ibu-ibu lagi gendong bayi," sambung si depe.
"rambutnya panjang pake baju putih trus minta tumpangan sama mereka," bongki melanjutkan sambil tertawa.
"trus ditengah jalan ibu-ibunya ilang," wider menambahi.
"ujung-ujungnya itu ibu-ibu muncul disini," uca menyempurnakan diikuti tawa kompak bongki, depe dan wider.
"abis itu bayinya muncul di kamar mandinya uca sama wider,"
"jangan iih ntar kalo beneran gimanaa..."
JLEGER!
*awkward sound
tak lama kemudian cahaya kilat menyeruak dari langit dan memantul ke penjuru rumah, diikuti suara gelegar petir yang kencang. kaca-kaca pintu dan jendela bergetar. disusul kemudian dengan teriakan ika, nden, micut dan karen yang terlonjak kaget. gerimis ringan berubah deras tanpa kendali.
"ih uca gara-gara ente kan nyebut mantra, jadi ujan deres sekarang," ujar wider.
"kok nyalahin ane sih der. yang mulai kan bongki," uca ngelak, nggak mau disalahin.
"udah udah jangan berantem, ntar ibu-ibunya nongol di jendela kamar kalian loh," celetuk ika.
"lawakannya ga lucu ka," wider dan uca serempak menjawab dengan tampang setengah judes.
dan malam itu mereka masih berkumpul di ruang tengah rumah sambil menyalakan perapian. beberapa diantara mereka yang matanya udah setengah watt tertidur berhimpitan satu sama lain dalam satu selimut, menghangatkan tubuh. beberapa yang lain masih terjaga, menunggu empat sekawan yang ditunggu dari sore tapi sampe tengah malem nggak nyampe-nyampe.
----------------------------------------------
7 jam yang lalu, di hari yang sama
Jakarta
"eca buruaaan....." sepir dan dame kompak meneriaki eca yang masih packing di kamarnya.
"eca mah nunggu mau berangkat dulu baru ngepak," dedsky menggumam heran.
"iya choy iya iya nih gue udah siap," nggak lama kemudian eca dengan bawaannya muncul dari balik pintu rumahnya, di daerah kenangan penuh cinta: margahayu. ea.
kemudian setelah masukin tas sana-sini, nata barang di bagasi akhirnya mereka berempat siap berangkat.
"lo dulu ya dam yang nyupir," kata eca sambil nyengir.
"wani piro ca," dame mendelik.
"gue kasih undangan gue sama idun," eca terkekeh dan nyelonong masuk ke jok di samping sopir.
"halah mending si idun beneran mau kawin sama lo ca," sepir dan dedsky nyeletuk di belakang.
"kalo nggak beneran ya tinggal gue bom lah si idun," eca menimpali. jawaban yang selalu direspon dengan tawa walopun udah diulang terus sama si nyonya besar ini berkali-kali.
Honda CR-V putih -hadiah ulang tahun ke-20 nya eca- pun melaju menuju lake house yang mereka nanti-nanti di bandung. karna bulan ini mereka dapet jatah libur seminggu (ceritanya ada libur nasional seminggu), jadi mereka -kawanan ummahat gaul- memutuskan untuk berkumpul di lake house milik bersama, hasil patungan rame-rame. walopun nggak semuanya bisa selalu ikut kumpul, tapi rehat sejenak dari pekerjaan dan kegiatan di akhir bulan adalah hal yang mereka agendakan di tiap bulan. rumah diatas danau itu seakan menjadi tempat yang paling hangat dan menyenangkan saat dikunjungi bersama.
setelah lulus dan di-wisuda, sebagian melanjutkan studi S2 dan sebagian lainnya merintis usaha atau kerja kantoran & wiraswasta. sepir misalnya, udah jadi owner butiknya sendiri yang lumayan sukses, nama butiknya Anjani. eca masih berkutat sama paper-paper skripsi S2-nya di Australi, tahun ini ambil cuti. dame yang baru selese S2 langsung buka klinik salon-healthy fitness di Jakarta & Depok. kajo lagi mau launching cafe pastry-nya, yang udah pasti itu cafe bakalan sering dipake ngumpul sama anak-anak. dedsky baru aja balik dari kalimantan sama kanada buat riset kehutanan. karen sama nden sekarang udah tingkat akhir sebelum resmi jadi dokter. dua-duanya lagi magang di rumah sakit, sibuk hampir tiap hari. anak-anak mesir kayak uca sama nabila juga lanjut S2 di Azhar, tapi belom selese dan lagi pulang. dan masih banyak kesibukan anak-anak yang lain.
kumpul-kumpul malam ini akan menjadi sangat istimewa karna ada agenda besar yang akan bersama-sama mereka siapkan untuk menyambut awal juni nanti: Nabila & Yasser Royal Wedding!
"disana udah ada siapa aja?" tanya eca di tengah perjalanan.
"katanya udah lumayan rame. masih ada yang ontheway juga sih," sahut dedsky.
"kita mau bawa apa kesana? pasti anak-anak langsung pada nodong makanan"
"bawain pizza aja deh, beli yang jumbo," usul si sepir.
"maicih juga dong," kata eca.
mobil eca cs. pun berkelana dulu sebelum masuk tol. karna akhir pekan, terjebak macet di padalarang dan akhirnya baru masuk jalan hutan menuju rumah danau mereka sekitar jam 10. mendung menyelimuti semenjak CR-V mereka keluar dari tol dan akhirnya benar-benar diguyur hujan saat melintasi jalan hutan yang panjang. butuh waktu sekitar 2 jam untuk masuk ke rumah-kayu-di-atas-danau-milik-bersama.
"duh, deres banget ujannya. tengah hutan lagi," eca membenahi posisi duduknya.
"ati-ati ca nyetirnya, pelan-pelan aja," kata dame.
"udah mirip di pelem-pelem nih kita. pelem horor gitu ujan deres trus ntar mogok di tengah utan. hahaha," kata sepir yang lagi ngunyah chitato sambil kesenengan.
"kalo beneran pokonya lo tanggung jawab ye pir," parnoannya eca kambuh.
"tenang, tenang. asal batre hape masih pada awet aman-lah insyaAlloh."
"jangan sih....."
lagu-lagu soundtrack dari film lama 'Hari Untuk Amanda' yang easy listening dan mellow mengalun lembut. dedsky sampe dibikin tidur saking kebawa suasana mendung dari luar dan dalam mobil. cahaya lampu menyala terang ditengah gelap dari mobil eca yang melintas sendirian di sepanjang jalur. sejauh mata memandang, tidak akan menemukan rumah ataupun kedai kafe di pinggiran jalan. hanya pepohonan. hujan deras membuat perjalanan semakin lama karna eca nyetirnya 30 km/jam.
"cepet nyampe plis cepet nyampe," gumam eca nggak sabar.
"yaudah ca lo ngebut aja nyetirnya, ngga bakal ada orang lain juga selain kita kan malem-malem gini," timpal sepir.
"gue takut pir, ntar pas gue ngebut ada yang lewat gitu gimana,"
"takdir itumah," kata sepir lagi.
"lo ngebutnya biasa aja tapi ca jangan lebay," kata dame.
eca pun akhirnya memberanikan diri tancap gas lebih cepat. percakapan random diantara sepir, dame dan eca terus berjalan demi menghilangkan sepi dan perasaan-perasaan takut yang menyelinap. ditambah iringan lagu 'So Right' yang ballad, nostalgia terus menyambar dari satu topik ke topik lain. sesekali tawa meledak kemudian sepir dan dame mengingatkan eca untuk fokus nyetir, kalo ngakak sambil nyetir takutnya meleng. tapi akhirnya keterusan lagi, diingetin lagi terus diulang lagi gitu aja terus wqwq.
"AAAAAAAAAAA!"
dan............. percakapan mereka pun berhenti total beberapa menit kemudian saat eca menginjak angka 60 di speedometer. tadinya baik-baik aja. tapi tiba-tiba pas lagi kenceng-kencengnya, mobil bagian depan eca kerasa nabrak sesuatu. on the full high-speed. sesuatu yang nggak keliatan di kaca kemudi. rem sangat mendadak pun membuat seisi mobil kaget.
"SUMPAH APAAN TUH TADI?" eca panik. dame dan sepir bengong, shock gara-gara rem eca mendadak banget, udah gitu kenceng banget sampe sepir kejedot jok di depannya. dedsky langsung kebangun, ikut syok.
"perasaan tadi gue nggak liat ada apa-apa ca di depan kita," dame melirik eca dengan suara datar alias bingung.
"iya ca, gue juga merhatiin jalan kok. ngga ada apa-apa di depan kita," suara sepir agak bergetar.
"beneran kan? gue juga ngga liat apa-apa," eca panik to the max. trauma sama kejadian-kejadian aneh yang pasti selalu nimpa dia kalo lagi bareng anak hk. "apa gue nabrak kucing gitu ya?"
suara deras hujan meriah diluar mobil. sesekali ditambahi suara petir bersahut-sahutan. mobil eca masih berhenti mendadak sendirian di pinggir hutan.
"dam turun dam, liat diluar ada apaan," mimik muka eca mulai dipenuhi ketegangan.
"ujan deres gini?" dame menatap eca dengan raut muka mager dan nggak yakin.
"terus mau lanjut jalan aja gitu? kalo yang gue tabrak bukan kucing gimana?"
"maksudnya?"
"soalnya tadi gue ngerasanya itu yang gue tabrak udah ada di depan mobil. gue takut yang tadi itu....." eca mulai mau nangis.
hening.
"apaan ca?" tanya dame.
"suara lo jangan datar gitu dam, gue jadi merinding," dedsky yang nggak ngerti apa-apa megang tangan sepir kenceng-kenceng.
"gue takut tadi itu anak kecil tapi gue nggak liat. ya Alloh gimana dong," eca memainkan jemarinya yang keriting. gugup, nerves, deg-degan nggak karuan.
"nggak mungkin ca, kalo anak kecil pasti kita liat. lagian mana ada anak kecil maen di tengah jalan malem-malem," sepir menyela.
"yaudah deh mana sini ambilin gue payung," dame dengan gaya sok berani menoleh ke belakang.
"yakin lo dam?" sepir mengambil payung yang disimpan di jok bawah kakinya.
dame mengambil payung yang disodorkan sepir, "udah jangan mikir yang macem-macem. kalo emang bener eca nabrak juga yang digentayangin kan eca. haha"
"DAME IH! GUE TAKUT NYONG" eca meremas lengan dame pake kekuatan maksimal.
dengan sedikit keberanian, dame membuka pintu mobil. buka pintu langsung ketemu pohon-pohon yang berjejer, gelap. dame cuma berharap nggak liat yang aneh aneh dari dalem hutan. kali aja ada yang nongol di tengah ujan lagi maen ujan-ujanan. deg-degan sih.
dame menyusuri sekeliling mobil eca dan nggak nemuin apa-apa. niatnya mau balik ke mobil daripada bajunya makin basah. tapi dame masih penasaran. pasti tadi ada yang ditabrak sama eca tapi mental entah kemana.
takut-takut, dame melangkah lagi lebih jauh ke belakang mobil. berbekal penglihatan seadanya, dame memicingkan mata. mencari 'sesuatu' diantara lebatnya tetes hujan yang turun. dame sedikit terkejut saat akhirnya menemukan seonggok daging bewarna hitam di kejauhan. cukup besar, tak berdaya dan basah kehujanan. KUCING!
dame bergegas kembali ke mobil sebelum melihat sesuatu yang lain. tatap penasaran menunggu dame di dalam mobil. "gimana dam gimana? ada?"
dame mengibas bajunya yang basah sambil memasang wajah misteri. "ada ca. itu yang lo tabrak mental di belakang mobil kita."
"sumpah demi apa!? jangan becanda ah dam!"
"serius. seliat gue bajunya warna item. tapi itu bukan orang..." dame mendelikkan mata ke arah eca, sepir dan dedsky. eca makin spot jantung nggak karuan. "KUCING CA!" dame mengagetkan eca yang spontan teriak sambil nggak bisa nahan tawa ngeliat muka eca yang kayak mau pingsan gitu.
"sompret banget sih lo dam," eca ngamuk ngamuk lebay. "gue hampir mati nih."
"bener kok, cuma kucing. tapi kayanya udah mati gitu soalnya diem aja di tengah jalan. mau nguburin?"
eca berekspresi paling lega tapi masih tetap dengan kepanikannya. "duh kalo kita tinggalin dosa nggak ya? Rasul kan sayang banget sama kucing."
mereka berempat saling bertukar pandang dala bingung.
"mm... yaudah gini aja, kita lanjut dulu ke rumah. besok pagi kalo udah ngga ujan kita balik lagi jemput kucingnya. kita kuburin deh," sepir bersuara kemudian.
"deal ya semuanya?" tanya dame.
"gue ngikut gimana kalian aja," kata dedsky.
akhirnya empat sahabat itu sepakat untuk meninggalkan TKP dan kembali esok pagi. eca bersiap menginjak gas dengan perasaan tidak enak. berharap kejadian ini bukan pertanda buruk dan bukan adegan film. mobil kesayangan eca pun melaju lagi, menerobos hutan dan hujan.
baru 50 meter jalan, tiba-tiba mobil eca berhenti. kali ini bukan gara-gara nabrak lagi, tapi mesinnya mati.
"ca, bensinnya ngga abis kan?"
"masih ada kok pir," eca mencoba men-starter mobil. tapi gagal. eca mulai panik (lagi) saat mesin mobilnya nggak mau nyala setelah dicoba berkali-kali. entah karna apa. mungkin aki-nya abis. "jangan-jangan gara-gara kita ninggalin kucing tadi di tengah jalan," kata eca lagi, nada suaranya mendesah pasrah bercampur resah. yang lain nggak tau mau respon apa. cuma bisa diem sambil mikir, entah mikirin apa. mau mundur gitu? bisa sih, tapi kan mobilnya mati.
"kita masih jauh nggak sih?" tanya dedsky.
"masih sejam-an lagi kayaknya. masih lumayan jauh," jawab dame sambil mencoba melihat sekeliling. benar-benar sepi. tidak ada kendaraan lain yang melintas. tidak ada siapa siapa. hujan belum reda juga.
"coba telfon yang disana deh, ada yang bisa jemput kita nggak disini. daripada kita mendem terus di tengah jalan gini," kata eca.
"pulsa telfon gue abis," kata dame.
"pulsa lo ca?"
"pulsa gue ada deds tapi hape gue mati."
"batre gue ada, pulsa gue juga ada tapi jaringan SOS," dedsky berujar tanpa harapan.
"yaudah sms deh, apa kek watsap ato mensyen di twitter," eca nggak kehilangan semangat.
dame dan sepir melongok hapenya masing-masing dan serempak menjawab, "hape gue juga ngga ada sinyal."
hopeless. dengan mesin mobil yang mati, keempat teman sepermainan itu mati gaya. mereka kehilangan setengah pikiran. no mizone. gelap. laper. dingin.
DUG DUG DUG!
mobil eca mendadak bergoyang dengan teriakan. eca teriak paling keras saat kaca jendelanya diketok-ketok sama seseorang dari luar. karna gelap dan hujan, sosok yang mengetuk pintu nggak keliatan tapi keliatannya sangat sangat menyeramkan dari dalam. eca refleks memutar gagang kunci mobilnya dan mencoba lagi menstarter mesin. sepir dan dedsky yang jadi ikut panik cuma bisa pegangan tangan sambil merem.
BERHATSIL!
si penggedor jendela di luar gedor-gedor kaca jendela lagi saat mengetahui eca nggak membukakan kaca dan malah pengen tancap gas. dame melempar pandang ke arah kaca jendela eca dan melihat sosok yang kehujanan di luar sana. tegap besar, wajahnya nggak terlihat sama sekali selain tertutup mantel dan terguyur air hujan.
mungkin ini namanya power of panic, tiba-tiba eca yang panik bisa nyalain mesin mobil lagi pake tenaga maksimal. eca nggak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk tancap gas dan kabur dari gedoran 'a stranger man' di tengah jalan hutan yang penuh pepohonan.
"itu mau nolongin kita kali ca," kata dame setengah yakin setengah enggak.
"nggak tau dam pokonya gue takut,"
sayangnya udah keren-keren si eca berhasil nyalain mobil dan ngebut, tapi baru beberapa menit melaju tiba-tiba mobil mogok lagi. hujan yang tadinya udah agak mereda malah turun lagi makin deras. *penulis lagi bingung nyari ending sebenernya mau kayak gimana hahaha*
"ARGHHHH D*MN S*YIT. Astaghfirullah yaAllah maafin dosa aku ya Allah," emosi eca meluap-luap tanpa hambatan. dame hampir mau ketawa tapi ya nanti malah digrawok eca. sikon-nya gak pas kalo ngetawain eca sekarang. ntar aja kalo ceritanya udah mau selese.
"ca cepetan nyalain lagi ca mobilnya, nanti kaca jendela lo digedor-gedor lagi sama orang tadi," sepir menggebuk-gebuk jok kursi eca dari belakang. dedsky cuma bisa diem dan nggak tau mau ngomong apa lagi.
eca menuruti permintaaan sepir dengan terburu-buru tanpa disuruh (?) dame menolehkan kepalanya ke jendela belakang, mencari-cari sosok tadi. jarak mobil eca sama bapak-bapak nyeremin tadi nggak begitu jauh. siapa tau sekarang itu pria lagi jalan ke arah mobil mereka.
"ca cepet ca," kata dame. membuat atmosfir di dalam mobil makin hectic, panic, gothic, entahlah. seakan-akan mereka lagi ikut acara Uang Kaget.
"orangnya ngejar lagi dam?!" sepir menambah kepanikan.
"please ca please gue mohon," dedsky makin membakar kepanikan. diikuti gelegar petir yang menyambar kencang di ujung langit.
eca dengan wajah yang tak berbentuk lagi menstarter mobil sekuat tenaga berbekal doa. semakin kuat doa terpanjat di tengah hujan lebat, mereka berempat percaya doa akan terijabah dengan cepat. bisa jadi bisa jadi.
dari kejauhan, di bawah lebatnya hujan, dibalik pohon besar di tepi jalan. seseorang tersenyum dibalik tudung mantelnya. senyum yang entah apa artinya. memandangi mobil putih yang baru saja melesat meninggalkannya sendiri ditengah hutan.
---------------------------------------------------
Dermaga Lake House, 2 jam kemudian
02:45 AM -hujan reda
"ya ampun, kirain gue kalian diapa-apain tau nggak," ika adalah orang yang pertama kali merespon cerita heboh dan panjang dari mulut para korban tragedi hujan di tengah hutan.
"ya kalo eca bukain jendela terus orangnya minta tumpangan gue yakin kita bakal kenapa-napa ka," sepir menyahut cepat.
"itu om-nya putri kali ca lagi kangen sama lo," bongki menyenggol lengan eca yang langsung dibalas muka serigala ala eca.
"gue masih takut nih. pokonya besok-besok gue gamau nyupir lewat sono lagi. lo aja dam yang bawa," ujar eca yang mukanya jelas keliatan masih shock. dame yang lagi neguk teh anget bikinan uca langsung melotot. melotot aja nggak ngomong apa-apa.
"padahal gue kira kalian lagi disetop sama ibu-ibu rambut panjang sambil gendong bayi tau," celetuk depe dengan tampang bangun tidur sambil tertawa.
"masih mending disetop, lah ini digedor-gedor," sepir merengut.
"semoga aja itu orang nggak nongol dirumah kite," uca- sang guru besar of autism selalu berhasil melengkapi dengan intonasi yang memancing tawa.
"trus orang yang gedor-gedor itu kemana? beneran ngejar di belakang mobil kalian?" tanya wider penasaran. dame dengan cepat menggeleng.
"lah gue kira ngejar di belakang kita dam?" sepir memotong sebelum dame menjawab.
"gue kira juga. tapi gue ngga liat siapa-siapa di belakang. ngga keliatan ada bayangan orang. nggak tau gue juga itu orang ngilang kemana. gue nyuruh eca cepetan soalnya takut tiba-tiba itu orang muncul di depan mobil kita."
hening sepersekian detik.
"trus, orangnya kemana dong?"
kemudian semua jadi kicep. langsung pada sok-sokan lirik-lirik dari satu orang ke orang sebelahnya, dari sebelahnya ke seberangnya. biar suasananya mirip adegan filem thriller horor macem Final Destination atau I Know What You Did Last Summer.
"haha jangan tegang lagi ah. paling itu orang yang jaga hutan sini. kalian ngga pada cape apa? ane udah pegel banget pengen tidur," dame mencairkan suasana.
"iya bener, yang penting kan semua udah kumpul disini," kata kajo.
"ah tadi aku udah tidur. kalo kebangun susah tidur lagi. kita ngobrol-ngobrol aja," kata micut.
nabila membenarkan. "kayaknya ini terakhir kali deh gue bisa kumpul bareng-bareng sama kalian disini." nabila bukan tipe orang yang melankolis. tapi kalimatnya barusan terdengar seperti dialog film korea. sedih.
"nabilaaaa...."
setelah undangan manis yang di-desain langsung oleh Nabila&Yasser Official Team tersebar ke seluruh pelosok tanah air, setelah gaun dan jas pengantin dirancang sedemikian cantik dan gagahnya oleh tim busana yang diketuai sepir, setelah wedding cake beserta menu-menu hidangan telah siap disusun oleh kajo and friends, setelah dekorasi panggung dan hallroom untuk resepsi yang sudah dikonsep dengan elegan, setelah semua yang ditunggu hanya tinggal menghitung hari.
seusai itu, akan segera terbit lagi undangan-undangan lain yang menunggu di belakang nabila. melepas masa perawan dan menjemput kesempurnaan setengah iman. maka kebersamaan yang dekat ini akan selalu dirindukan oleh mereka yang akan segera meninggalkan status single-nya. meski demikian, tidak akan pernah ada yang hilang dari sebuah kenangan. tidak akan ada yang pergi dari hati.
pada setiap prosesi yang sakral, akan selalu ada air mata yang jatuh. ada sedih yang bersembunyi dibalik ucapan bahagia yang tak terlukis dengan kata-kata. ada hal yang lucu saat menyadari bahwa satu persatu dari kita akan memiliki kehidupan baru, kemudian perlahan-lahan waktu mengikis pertemuan-pertemuan yang dulu sering dilakukan. pada akhirnya, waktu pula yang akan menjawab seberapa besar kerinduan kita untuk berkumpul bersama lagi.
"kalo kita semua udah nikah, pasti rumah ini bakalan sepi. nggak ada yang ngunjungin lagi," micut menatap perapian yang menyala di tengah ruangan dengan senyum sendu.
"iya cut. kasian rumah ini," ika menyenderkan kepalanya di bahu micut.
"tapi pasti kita bisa kumpul sesekali. walopun sesekalinya itu setahun sekali atau dua tahun sekali. ya nggak?" kata wider.
"haha alay ah der," sahut bongki.
"kalo misalnya pada dibawa suami-suami ke luar kota atau luar negri gimana? nggak mungkin juga kan," dedsky menyanggah ucapan wider. wider kemudian berfikir dan dari ekspresinya seolah menjawab, 'iya juga sih'.
"kalem men. nggak setiap waktu kita harus ketemu. justru nggak ketemu dalam jangka waktu lama itu yang bikin istimewa," eca menengahi dengan cool.
"tiap hari sebenernya juga bisa ketemu. ketemu di timeline," kata ika.
"kayak apa ya rasanya kalo nggak bener-bener ketemu sampe 10 tahun?" karen menggumam di dalam bed-cover yang membungkusnya dari angin malam.
"ya berpisah kan bukan akhir dari segalanya haha," sepir seperti biasa mencoba untuk nggak melow padahal dia yang paling melow.
"nanti, kalo udah lewat 10 tahun baru kita kumpul lagi dirumah ini. reuni se-angkatan deh sekalian biar rame," uca menambahi.
"iya pasti seru deh. apalagi kalo udah pada punya anak," nden yang dari tadi jadi pendengar akhirnya ikut nimbrung.
"ciye nden pasti anaknya cantik deh. anaknya dokter gitulooh," komentar si wider dengan nada alay yang tidak pernah berubah.
"apa sih kamu der...."
"ciye ndeen. kan idza anti amiroh, wa ana amiir," lanjut si wider.
"HAHAHA"
semuanya jadi senyum-senyum lucu membayangkan seperti apa kehidupan masa yang akan datang. hanyut dalam dingin yang menghangatkan diatas lantai kayu. membiarkan diri mereka berbaring. membiarkan suara air mengalir damai dibawah mereka, bersama deru angin yang betah berkeliaran. bersama galaksi tersembunyi yang tertutup gulungan awan kelabu.
pada akhirnya mereka sama-sama menyadari bahwa sejauh apa nanti hidup berjalan, tak ada yang bisa memisahkan mereka diatas jalan kenangan. masing-masing bertemu dengan orang-orang baru, mengenal dunia baru. berpindah waktu. sekali bertemu, lain waktu berpisah. beberapa diantaranya bahkan berubah. proses hidup. tapi masa-masa luar biasa penuh canda tawa hanya pernah sekali terjadi. tiga, empat atau enam tahun tidak menjadikannya berbeda. akan ada dimensi yang membentuknya sebagai nostalgia yang tak punah dikikis masa. ea. seperti puisi yang dibacakan Cinta untuk keempat sahabatnya di film AADC,
ketika tunas ini tumbuh
serupa tubuh yang mengakar
setiap nafas yang terhembus adalah kata
angan, debur, dan emosi
bersatu dalam jubah terpautan
tangan kita terikat
lidah kita menyatu
maka apa terucap adalah sabda pendita ratu
ah... diluar pasir itu debu
hanya angin meniup saja
lalu terbang hilang tak ada
tapi kita tetap menari
menari cuma kita yang tau
maka akan kita bawa semua
semua...
karna kita, adalah...
satu.
----------------------------------------------
masih di Dermaga Lake House, rembulan tenggelam
5:25 AM
"ca, ca, bangun ca sholat subuh dulu. tinggal lo doang ca yang belom sholat," kajo masih berusaha membangunkan eca yang nggak bergeming dari posisi tidurnya. butuh 5 menit lagi untuk berhasil membuat si tjontja besar ini membuka mata.
"iya jo iya aku bangun," akhirnya eca berhasil ditarik dari pembaringannya. dengan kesadaran yang belum sempurna, eca bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.
selesai sholat dikamar, eca melipat mukenanya dan bergerak ke jendela kamar. eca selalu suka scene pagi hari dari kaca jendelanya yang besar. selain pemandangan danau dari balkon belakang, eca bisa sepuasnya memandangi sunrise atau sunset dari jendelanya. eca membuka tirai dan menatap langit yang masih gelap. gugus bintang orion masih terlihat berkumpul di langit bagian selatan. matahari pun belum terlihat di ufuk. sambil menguap, eca meregangkan badannya yang terasa pegal bekas adu adrenalin tengah malam tadi.
"gila, udah kaya syuting filem aja semalem," kata eca pada dirinya sendiri. kemudian ia berbalik dan bersiap kembali ke ruang tengah.
langkah eca terhenti saat 7 detik kemudian ia mendengar ada suara ketukan 3 kali dari jendela kaca kamarnya. anak pertama pak Syaiful Fakah ini diam sejenak sebelum akhirnya menoleh kebelakang. takjub dengan keberaniannya, eca mengamati jendela dan tidak menemukan apa-apa. ia kembali melangkahkan kaki ke arah jendela dengan tergesa, bermaksud menutup jendelanya lagi dengan gorden.
eca menengokkan kepalanya kekiri dan kanan, memastikan bahwa tidak ada apa-apa dan tadi hanya perasaan saja. 'paling itu suara batu kena angin,' gumam eca dalam hati. eca baru saja menggenggam gorden dan hendak menariknya saat tiba-tiba de javu menghampirinya tepat di hadapan mata. seseorang berbadan besar dengan mantel gelap sedang berdiri di luar jendela dan mengetuk-ngetuk jendela eca lagi sambil tersenyum.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!"
eca pingsan.
--------------------------------
depok at the end of monday, 2013
-thanks. maybe to be continued-
"kaliaan, ini udah mau jam dua belas. mereka kenapa-napa nggak ya?" kata micut sambil mondar-mandir.
"telfon polisi aja lah kita," karen yang daritadi diem akhirnya buka suara.
"iya kalo mereka kenapa-kenapa. kalo mereka emang ketiduran atau malah lagi jalan-jalan kan ga lucu juga karen," celetuk kajo yang lagi khusyu maen temple run.
"mereka ngga kecelakaan kan yah," bongki yang lagi selimutan disamping kajo melirik yang lain.
"nauzubillah ih bong, jangan sampe lah," nabila langsung menyerobot.
"abis kalo ada eca biasanya mereka suka ngalamin yang aneh-aneh sih. gue takut mereka ada apa-apa dijalan," kata bongki lagi.
" haha iya juga sih, eca kan ratunya yang aneh-aneh,"
"hawa-hawanya iya bong. jangan-jangan pas lagi lewatin jalan hutan mereka ketemu ibu-ibu lagi gendong bayi," sambung si depe.
"rambutnya panjang pake baju putih trus minta tumpangan sama mereka," bongki melanjutkan sambil tertawa.
"trus ditengah jalan ibu-ibunya ilang," wider menambahi.
"ujung-ujungnya itu ibu-ibu muncul disini," uca menyempurnakan diikuti tawa kompak bongki, depe dan wider.
"abis itu bayinya muncul di kamar mandinya uca sama wider,"
"jangan iih ntar kalo beneran gimanaa..."
JLEGER!
*awkward sound
tak lama kemudian cahaya kilat menyeruak dari langit dan memantul ke penjuru rumah, diikuti suara gelegar petir yang kencang. kaca-kaca pintu dan jendela bergetar. disusul kemudian dengan teriakan ika, nden, micut dan karen yang terlonjak kaget. gerimis ringan berubah deras tanpa kendali.
"ih uca gara-gara ente kan nyebut mantra, jadi ujan deres sekarang," ujar wider.
"kok nyalahin ane sih der. yang mulai kan bongki," uca ngelak, nggak mau disalahin.
"udah udah jangan berantem, ntar ibu-ibunya nongol di jendela kamar kalian loh," celetuk ika.
"lawakannya ga lucu ka," wider dan uca serempak menjawab dengan tampang setengah judes.
dan malam itu mereka masih berkumpul di ruang tengah rumah sambil menyalakan perapian. beberapa diantara mereka yang matanya udah setengah watt tertidur berhimpitan satu sama lain dalam satu selimut, menghangatkan tubuh. beberapa yang lain masih terjaga, menunggu empat sekawan yang ditunggu dari sore tapi sampe tengah malem nggak nyampe-nyampe.
----------------------------------------------
7 jam yang lalu, di hari yang sama
Jakarta
"eca buruaaan....." sepir dan dame kompak meneriaki eca yang masih packing di kamarnya.
"eca mah nunggu mau berangkat dulu baru ngepak," dedsky menggumam heran.
"iya choy iya iya nih gue udah siap," nggak lama kemudian eca dengan bawaannya muncul dari balik pintu rumahnya, di daerah kenangan penuh cinta: margahayu. ea.
kemudian setelah masukin tas sana-sini, nata barang di bagasi akhirnya mereka berempat siap berangkat.
"lo dulu ya dam yang nyupir," kata eca sambil nyengir.
"wani piro ca," dame mendelik.
"gue kasih undangan gue sama idun," eca terkekeh dan nyelonong masuk ke jok di samping sopir.
"halah mending si idun beneran mau kawin sama lo ca," sepir dan dedsky nyeletuk di belakang.
"kalo nggak beneran ya tinggal gue bom lah si idun," eca menimpali. jawaban yang selalu direspon dengan tawa walopun udah diulang terus sama si nyonya besar ini berkali-kali.
Honda CR-V putih -hadiah ulang tahun ke-20 nya eca- pun melaju menuju lake house yang mereka nanti-nanti di bandung. karna bulan ini mereka dapet jatah libur seminggu (ceritanya ada libur nasional seminggu), jadi mereka -kawanan ummahat gaul- memutuskan untuk berkumpul di lake house milik bersama, hasil patungan rame-rame. walopun nggak semuanya bisa selalu ikut kumpul, tapi rehat sejenak dari pekerjaan dan kegiatan di akhir bulan adalah hal yang mereka agendakan di tiap bulan. rumah diatas danau itu seakan menjadi tempat yang paling hangat dan menyenangkan saat dikunjungi bersama.
setelah lulus dan di-wisuda, sebagian melanjutkan studi S2 dan sebagian lainnya merintis usaha atau kerja kantoran & wiraswasta. sepir misalnya, udah jadi owner butiknya sendiri yang lumayan sukses, nama butiknya Anjani. eca masih berkutat sama paper-paper skripsi S2-nya di Australi, tahun ini ambil cuti. dame yang baru selese S2 langsung buka klinik salon-healthy fitness di Jakarta & Depok. kajo lagi mau launching cafe pastry-nya, yang udah pasti itu cafe bakalan sering dipake ngumpul sama anak-anak. dedsky baru aja balik dari kalimantan sama kanada buat riset kehutanan. karen sama nden sekarang udah tingkat akhir sebelum resmi jadi dokter. dua-duanya lagi magang di rumah sakit, sibuk hampir tiap hari. anak-anak mesir kayak uca sama nabila juga lanjut S2 di Azhar, tapi belom selese dan lagi pulang. dan masih banyak kesibukan anak-anak yang lain.
kumpul-kumpul malam ini akan menjadi sangat istimewa karna ada agenda besar yang akan bersama-sama mereka siapkan untuk menyambut awal juni nanti: Nabila & Yasser Royal Wedding!
"disana udah ada siapa aja?" tanya eca di tengah perjalanan.
"katanya udah lumayan rame. masih ada yang ontheway juga sih," sahut dedsky.
"kita mau bawa apa kesana? pasti anak-anak langsung pada nodong makanan"
"bawain pizza aja deh, beli yang jumbo," usul si sepir.
"maicih juga dong," kata eca.
mobil eca cs. pun berkelana dulu sebelum masuk tol. karna akhir pekan, terjebak macet di padalarang dan akhirnya baru masuk jalan hutan menuju rumah danau mereka sekitar jam 10. mendung menyelimuti semenjak CR-V mereka keluar dari tol dan akhirnya benar-benar diguyur hujan saat melintasi jalan hutan yang panjang. butuh waktu sekitar 2 jam untuk masuk ke rumah-kayu-di-atas-danau-milik-bersama.
"duh, deres banget ujannya. tengah hutan lagi," eca membenahi posisi duduknya.
"ati-ati ca nyetirnya, pelan-pelan aja," kata dame.
"udah mirip di pelem-pelem nih kita. pelem horor gitu ujan deres trus ntar mogok di tengah utan. hahaha," kata sepir yang lagi ngunyah chitato sambil kesenengan.
"kalo beneran pokonya lo tanggung jawab ye pir," parnoannya eca kambuh.
"tenang, tenang. asal batre hape masih pada awet aman-lah insyaAlloh."
"jangan sih....."
lagu-lagu soundtrack dari film lama 'Hari Untuk Amanda' yang easy listening dan mellow mengalun lembut. dedsky sampe dibikin tidur saking kebawa suasana mendung dari luar dan dalam mobil. cahaya lampu menyala terang ditengah gelap dari mobil eca yang melintas sendirian di sepanjang jalur. sejauh mata memandang, tidak akan menemukan rumah ataupun kedai kafe di pinggiran jalan. hanya pepohonan. hujan deras membuat perjalanan semakin lama karna eca nyetirnya 30 km/jam.
"cepet nyampe plis cepet nyampe," gumam eca nggak sabar.
"yaudah ca lo ngebut aja nyetirnya, ngga bakal ada orang lain juga selain kita kan malem-malem gini," timpal sepir.
"gue takut pir, ntar pas gue ngebut ada yang lewat gitu gimana,"
"takdir itumah," kata sepir lagi.
"lo ngebutnya biasa aja tapi ca jangan lebay," kata dame.
eca pun akhirnya memberanikan diri tancap gas lebih cepat. percakapan random diantara sepir, dame dan eca terus berjalan demi menghilangkan sepi dan perasaan-perasaan takut yang menyelinap. ditambah iringan lagu 'So Right' yang ballad, nostalgia terus menyambar dari satu topik ke topik lain. sesekali tawa meledak kemudian sepir dan dame mengingatkan eca untuk fokus nyetir, kalo ngakak sambil nyetir takutnya meleng. tapi akhirnya keterusan lagi, diingetin lagi terus diulang lagi gitu aja terus wqwq.
"AAAAAAAAAAA!"
dan............. percakapan mereka pun berhenti total beberapa menit kemudian saat eca menginjak angka 60 di speedometer. tadinya baik-baik aja. tapi tiba-tiba pas lagi kenceng-kencengnya, mobil bagian depan eca kerasa nabrak sesuatu. on the full high-speed. sesuatu yang nggak keliatan di kaca kemudi. rem sangat mendadak pun membuat seisi mobil kaget.
"SUMPAH APAAN TUH TADI?" eca panik. dame dan sepir bengong, shock gara-gara rem eca mendadak banget, udah gitu kenceng banget sampe sepir kejedot jok di depannya. dedsky langsung kebangun, ikut syok.
"perasaan tadi gue nggak liat ada apa-apa ca di depan kita," dame melirik eca dengan suara datar alias bingung.
"iya ca, gue juga merhatiin jalan kok. ngga ada apa-apa di depan kita," suara sepir agak bergetar.
"beneran kan? gue juga ngga liat apa-apa," eca panik to the max. trauma sama kejadian-kejadian aneh yang pasti selalu nimpa dia kalo lagi bareng anak hk. "apa gue nabrak kucing gitu ya?"
suara deras hujan meriah diluar mobil. sesekali ditambahi suara petir bersahut-sahutan. mobil eca masih berhenti mendadak sendirian di pinggir hutan.
"dam turun dam, liat diluar ada apaan," mimik muka eca mulai dipenuhi ketegangan.
"ujan deres gini?" dame menatap eca dengan raut muka mager dan nggak yakin.
"terus mau lanjut jalan aja gitu? kalo yang gue tabrak bukan kucing gimana?"
"maksudnya?"
"soalnya tadi gue ngerasanya itu yang gue tabrak udah ada di depan mobil. gue takut yang tadi itu....." eca mulai mau nangis.
hening.
"apaan ca?" tanya dame.
"suara lo jangan datar gitu dam, gue jadi merinding," dedsky yang nggak ngerti apa-apa megang tangan sepir kenceng-kenceng.
"gue takut tadi itu anak kecil tapi gue nggak liat. ya Alloh gimana dong," eca memainkan jemarinya yang keriting. gugup, nerves, deg-degan nggak karuan.
"nggak mungkin ca, kalo anak kecil pasti kita liat. lagian mana ada anak kecil maen di tengah jalan malem-malem," sepir menyela.
"yaudah deh mana sini ambilin gue payung," dame dengan gaya sok berani menoleh ke belakang.
"yakin lo dam?" sepir mengambil payung yang disimpan di jok bawah kakinya.
dame mengambil payung yang disodorkan sepir, "udah jangan mikir yang macem-macem. kalo emang bener eca nabrak juga yang digentayangin kan eca. haha"
"DAME IH! GUE TAKUT NYONG" eca meremas lengan dame pake kekuatan maksimal.
dengan sedikit keberanian, dame membuka pintu mobil. buka pintu langsung ketemu pohon-pohon yang berjejer, gelap. dame cuma berharap nggak liat yang aneh aneh dari dalem hutan. kali aja ada yang nongol di tengah ujan lagi maen ujan-ujanan. deg-degan sih.
dame menyusuri sekeliling mobil eca dan nggak nemuin apa-apa. niatnya mau balik ke mobil daripada bajunya makin basah. tapi dame masih penasaran. pasti tadi ada yang ditabrak sama eca tapi mental entah kemana.
takut-takut, dame melangkah lagi lebih jauh ke belakang mobil. berbekal penglihatan seadanya, dame memicingkan mata. mencari 'sesuatu' diantara lebatnya tetes hujan yang turun. dame sedikit terkejut saat akhirnya menemukan seonggok daging bewarna hitam di kejauhan. cukup besar, tak berdaya dan basah kehujanan. KUCING!
dame bergegas kembali ke mobil sebelum melihat sesuatu yang lain. tatap penasaran menunggu dame di dalam mobil. "gimana dam gimana? ada?"
dame mengibas bajunya yang basah sambil memasang wajah misteri. "ada ca. itu yang lo tabrak mental di belakang mobil kita."
"sumpah demi apa!? jangan becanda ah dam!"
"serius. seliat gue bajunya warna item. tapi itu bukan orang..." dame mendelikkan mata ke arah eca, sepir dan dedsky. eca makin spot jantung nggak karuan. "KUCING CA!" dame mengagetkan eca yang spontan teriak sambil nggak bisa nahan tawa ngeliat muka eca yang kayak mau pingsan gitu.
"sompret banget sih lo dam," eca ngamuk ngamuk lebay. "gue hampir mati nih."
"bener kok, cuma kucing. tapi kayanya udah mati gitu soalnya diem aja di tengah jalan. mau nguburin?"
eca berekspresi paling lega tapi masih tetap dengan kepanikannya. "duh kalo kita tinggalin dosa nggak ya? Rasul kan sayang banget sama kucing."
mereka berempat saling bertukar pandang dala bingung.
"mm... yaudah gini aja, kita lanjut dulu ke rumah. besok pagi kalo udah ngga ujan kita balik lagi jemput kucingnya. kita kuburin deh," sepir bersuara kemudian.
"deal ya semuanya?" tanya dame.
"gue ngikut gimana kalian aja," kata dedsky.
akhirnya empat sahabat itu sepakat untuk meninggalkan TKP dan kembali esok pagi. eca bersiap menginjak gas dengan perasaan tidak enak. berharap kejadian ini bukan pertanda buruk dan bukan adegan film. mobil kesayangan eca pun melaju lagi, menerobos hutan dan hujan.
baru 50 meter jalan, tiba-tiba mobil eca berhenti. kali ini bukan gara-gara nabrak lagi, tapi mesinnya mati.
"ca, bensinnya ngga abis kan?"
"masih ada kok pir," eca mencoba men-starter mobil. tapi gagal. eca mulai panik (lagi) saat mesin mobilnya nggak mau nyala setelah dicoba berkali-kali. entah karna apa. mungkin aki-nya abis. "jangan-jangan gara-gara kita ninggalin kucing tadi di tengah jalan," kata eca lagi, nada suaranya mendesah pasrah bercampur resah. yang lain nggak tau mau respon apa. cuma bisa diem sambil mikir, entah mikirin apa. mau mundur gitu? bisa sih, tapi kan mobilnya mati.
"kita masih jauh nggak sih?" tanya dedsky.
"masih sejam-an lagi kayaknya. masih lumayan jauh," jawab dame sambil mencoba melihat sekeliling. benar-benar sepi. tidak ada kendaraan lain yang melintas. tidak ada siapa siapa. hujan belum reda juga.
"coba telfon yang disana deh, ada yang bisa jemput kita nggak disini. daripada kita mendem terus di tengah jalan gini," kata eca.
"pulsa telfon gue abis," kata dame.
"pulsa lo ca?"
"pulsa gue ada deds tapi hape gue mati."
"batre gue ada, pulsa gue juga ada tapi jaringan SOS," dedsky berujar tanpa harapan.
"yaudah sms deh, apa kek watsap ato mensyen di twitter," eca nggak kehilangan semangat.
dame dan sepir melongok hapenya masing-masing dan serempak menjawab, "hape gue juga ngga ada sinyal."
hopeless. dengan mesin mobil yang mati, keempat teman sepermainan itu mati gaya. mereka kehilangan setengah pikiran. no mizone. gelap. laper. dingin.
DUG DUG DUG!
mobil eca mendadak bergoyang dengan teriakan. eca teriak paling keras saat kaca jendelanya diketok-ketok sama seseorang dari luar. karna gelap dan hujan, sosok yang mengetuk pintu nggak keliatan tapi keliatannya sangat sangat menyeramkan dari dalam. eca refleks memutar gagang kunci mobilnya dan mencoba lagi menstarter mesin. sepir dan dedsky yang jadi ikut panik cuma bisa pegangan tangan sambil merem.
BERHATSIL!
si penggedor jendela di luar gedor-gedor kaca jendela lagi saat mengetahui eca nggak membukakan kaca dan malah pengen tancap gas. dame melempar pandang ke arah kaca jendela eca dan melihat sosok yang kehujanan di luar sana. tegap besar, wajahnya nggak terlihat sama sekali selain tertutup mantel dan terguyur air hujan.
mungkin ini namanya power of panic, tiba-tiba eca yang panik bisa nyalain mesin mobil lagi pake tenaga maksimal. eca nggak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk tancap gas dan kabur dari gedoran 'a stranger man' di tengah jalan hutan yang penuh pepohonan.
"itu mau nolongin kita kali ca," kata dame setengah yakin setengah enggak.
"nggak tau dam pokonya gue takut,"
sayangnya udah keren-keren si eca berhasil nyalain mobil dan ngebut, tapi baru beberapa menit melaju tiba-tiba mobil mogok lagi. hujan yang tadinya udah agak mereda malah turun lagi makin deras. *penulis lagi bingung nyari ending sebenernya mau kayak gimana hahaha*
"ARGHHHH D*MN S*YIT. Astaghfirullah yaAllah maafin dosa aku ya Allah," emosi eca meluap-luap tanpa hambatan. dame hampir mau ketawa tapi ya nanti malah digrawok eca. sikon-nya gak pas kalo ngetawain eca sekarang. ntar aja kalo ceritanya udah mau selese.
"ca cepetan nyalain lagi ca mobilnya, nanti kaca jendela lo digedor-gedor lagi sama orang tadi," sepir menggebuk-gebuk jok kursi eca dari belakang. dedsky cuma bisa diem dan nggak tau mau ngomong apa lagi.
eca menuruti permintaaan sepir dengan terburu-buru tanpa disuruh (?) dame menolehkan kepalanya ke jendela belakang, mencari-cari sosok tadi. jarak mobil eca sama bapak-bapak nyeremin tadi nggak begitu jauh. siapa tau sekarang itu pria lagi jalan ke arah mobil mereka.
"ca cepet ca," kata dame. membuat atmosfir di dalam mobil makin hectic, panic, gothic, entahlah. seakan-akan mereka lagi ikut acara Uang Kaget.
"orangnya ngejar lagi dam?!" sepir menambah kepanikan.
"please ca please gue mohon," dedsky makin membakar kepanikan. diikuti gelegar petir yang menyambar kencang di ujung langit.
eca dengan wajah yang tak berbentuk lagi menstarter mobil sekuat tenaga berbekal doa. semakin kuat doa terpanjat di tengah hujan lebat, mereka berempat percaya doa akan terijabah dengan cepat. bisa jadi bisa jadi.
dari kejauhan, di bawah lebatnya hujan, dibalik pohon besar di tepi jalan. seseorang tersenyum dibalik tudung mantelnya. senyum yang entah apa artinya. memandangi mobil putih yang baru saja melesat meninggalkannya sendiri ditengah hutan.
---------------------------------------------------
Dermaga Lake House, 2 jam kemudian
02:45 AM -hujan reda
"ya ampun, kirain gue kalian diapa-apain tau nggak," ika adalah orang yang pertama kali merespon cerita heboh dan panjang dari mulut para korban tragedi hujan di tengah hutan.
"ya kalo eca bukain jendela terus orangnya minta tumpangan gue yakin kita bakal kenapa-napa ka," sepir menyahut cepat.
"itu om-nya putri kali ca lagi kangen sama lo," bongki menyenggol lengan eca yang langsung dibalas muka serigala ala eca.
"gue masih takut nih. pokonya besok-besok gue gamau nyupir lewat sono lagi. lo aja dam yang bawa," ujar eca yang mukanya jelas keliatan masih shock. dame yang lagi neguk teh anget bikinan uca langsung melotot. melotot aja nggak ngomong apa-apa.
"padahal gue kira kalian lagi disetop sama ibu-ibu rambut panjang sambil gendong bayi tau," celetuk depe dengan tampang bangun tidur sambil tertawa.
"masih mending disetop, lah ini digedor-gedor," sepir merengut.
"semoga aja itu orang nggak nongol dirumah kite," uca- sang guru besar of autism selalu berhasil melengkapi dengan intonasi yang memancing tawa.
"trus orang yang gedor-gedor itu kemana? beneran ngejar di belakang mobil kalian?" tanya wider penasaran. dame dengan cepat menggeleng.
"lah gue kira ngejar di belakang kita dam?" sepir memotong sebelum dame menjawab.
"gue kira juga. tapi gue ngga liat siapa-siapa di belakang. ngga keliatan ada bayangan orang. nggak tau gue juga itu orang ngilang kemana. gue nyuruh eca cepetan soalnya takut tiba-tiba itu orang muncul di depan mobil kita."
hening sepersekian detik.
"trus, orangnya kemana dong?"
kemudian semua jadi kicep. langsung pada sok-sokan lirik-lirik dari satu orang ke orang sebelahnya, dari sebelahnya ke seberangnya. biar suasananya mirip adegan filem thriller horor macem Final Destination atau I Know What You Did Last Summer.
"haha jangan tegang lagi ah. paling itu orang yang jaga hutan sini. kalian ngga pada cape apa? ane udah pegel banget pengen tidur," dame mencairkan suasana.
"iya bener, yang penting kan semua udah kumpul disini," kata kajo.
"ah tadi aku udah tidur. kalo kebangun susah tidur lagi. kita ngobrol-ngobrol aja," kata micut.
nabila membenarkan. "kayaknya ini terakhir kali deh gue bisa kumpul bareng-bareng sama kalian disini." nabila bukan tipe orang yang melankolis. tapi kalimatnya barusan terdengar seperti dialog film korea. sedih.
"nabilaaaa...."
setelah undangan manis yang di-desain langsung oleh Nabila&Yasser Official Team tersebar ke seluruh pelosok tanah air, setelah gaun dan jas pengantin dirancang sedemikian cantik dan gagahnya oleh tim busana yang diketuai sepir, setelah wedding cake beserta menu-menu hidangan telah siap disusun oleh kajo and friends, setelah dekorasi panggung dan hallroom untuk resepsi yang sudah dikonsep dengan elegan, setelah semua yang ditunggu hanya tinggal menghitung hari.
seusai itu, akan segera terbit lagi undangan-undangan lain yang menunggu di belakang nabila. melepas masa perawan dan menjemput kesempurnaan setengah iman. maka kebersamaan yang dekat ini akan selalu dirindukan oleh mereka yang akan segera meninggalkan status single-nya. meski demikian, tidak akan pernah ada yang hilang dari sebuah kenangan. tidak akan ada yang pergi dari hati.
pada setiap prosesi yang sakral, akan selalu ada air mata yang jatuh. ada sedih yang bersembunyi dibalik ucapan bahagia yang tak terlukis dengan kata-kata. ada hal yang lucu saat menyadari bahwa satu persatu dari kita akan memiliki kehidupan baru, kemudian perlahan-lahan waktu mengikis pertemuan-pertemuan yang dulu sering dilakukan. pada akhirnya, waktu pula yang akan menjawab seberapa besar kerinduan kita untuk berkumpul bersama lagi.
"kalo kita semua udah nikah, pasti rumah ini bakalan sepi. nggak ada yang ngunjungin lagi," micut menatap perapian yang menyala di tengah ruangan dengan senyum sendu.
"iya cut. kasian rumah ini," ika menyenderkan kepalanya di bahu micut.
"tapi pasti kita bisa kumpul sesekali. walopun sesekalinya itu setahun sekali atau dua tahun sekali. ya nggak?" kata wider.
"haha alay ah der," sahut bongki.
"kalo misalnya pada dibawa suami-suami ke luar kota atau luar negri gimana? nggak mungkin juga kan," dedsky menyanggah ucapan wider. wider kemudian berfikir dan dari ekspresinya seolah menjawab, 'iya juga sih'.
"kalem men. nggak setiap waktu kita harus ketemu. justru nggak ketemu dalam jangka waktu lama itu yang bikin istimewa," eca menengahi dengan cool.
"tiap hari sebenernya juga bisa ketemu. ketemu di timeline," kata ika.
"kayak apa ya rasanya kalo nggak bener-bener ketemu sampe 10 tahun?" karen menggumam di dalam bed-cover yang membungkusnya dari angin malam.
"ya berpisah kan bukan akhir dari segalanya haha," sepir seperti biasa mencoba untuk nggak melow padahal dia yang paling melow.
"nanti, kalo udah lewat 10 tahun baru kita kumpul lagi dirumah ini. reuni se-angkatan deh sekalian biar rame," uca menambahi.
"iya pasti seru deh. apalagi kalo udah pada punya anak," nden yang dari tadi jadi pendengar akhirnya ikut nimbrung.
"ciye nden pasti anaknya cantik deh. anaknya dokter gitulooh," komentar si wider dengan nada alay yang tidak pernah berubah.
"apa sih kamu der...."
"ciye ndeen. kan idza anti amiroh, wa ana amiir," lanjut si wider.
"HAHAHA"
semuanya jadi senyum-senyum lucu membayangkan seperti apa kehidupan masa yang akan datang. hanyut dalam dingin yang menghangatkan diatas lantai kayu. membiarkan diri mereka berbaring. membiarkan suara air mengalir damai dibawah mereka, bersama deru angin yang betah berkeliaran. bersama galaksi tersembunyi yang tertutup gulungan awan kelabu.
pada akhirnya mereka sama-sama menyadari bahwa sejauh apa nanti hidup berjalan, tak ada yang bisa memisahkan mereka diatas jalan kenangan. masing-masing bertemu dengan orang-orang baru, mengenal dunia baru. berpindah waktu. sekali bertemu, lain waktu berpisah. beberapa diantaranya bahkan berubah. proses hidup. tapi masa-masa luar biasa penuh canda tawa hanya pernah sekali terjadi. tiga, empat atau enam tahun tidak menjadikannya berbeda. akan ada dimensi yang membentuknya sebagai nostalgia yang tak punah dikikis masa. ea. seperti puisi yang dibacakan Cinta untuk keempat sahabatnya di film AADC,
ketika tunas ini tumbuh
serupa tubuh yang mengakar
setiap nafas yang terhembus adalah kata
angan, debur, dan emosi
bersatu dalam jubah terpautan
tangan kita terikat
lidah kita menyatu
maka apa terucap adalah sabda pendita ratu
ah... diluar pasir itu debu
hanya angin meniup saja
lalu terbang hilang tak ada
tapi kita tetap menari
menari cuma kita yang tau
maka akan kita bawa semua
semua...
karna kita, adalah...
satu.
----------------------------------------------
masih di Dermaga Lake House, rembulan tenggelam
5:25 AM
"ca, ca, bangun ca sholat subuh dulu. tinggal lo doang ca yang belom sholat," kajo masih berusaha membangunkan eca yang nggak bergeming dari posisi tidurnya. butuh 5 menit lagi untuk berhasil membuat si tjontja besar ini membuka mata.
"iya jo iya aku bangun," akhirnya eca berhasil ditarik dari pembaringannya. dengan kesadaran yang belum sempurna, eca bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.
selesai sholat dikamar, eca melipat mukenanya dan bergerak ke jendela kamar. eca selalu suka scene pagi hari dari kaca jendelanya yang besar. selain pemandangan danau dari balkon belakang, eca bisa sepuasnya memandangi sunrise atau sunset dari jendelanya. eca membuka tirai dan menatap langit yang masih gelap. gugus bintang orion masih terlihat berkumpul di langit bagian selatan. matahari pun belum terlihat di ufuk. sambil menguap, eca meregangkan badannya yang terasa pegal bekas adu adrenalin tengah malam tadi.
"gila, udah kaya syuting filem aja semalem," kata eca pada dirinya sendiri. kemudian ia berbalik dan bersiap kembali ke ruang tengah.
langkah eca terhenti saat 7 detik kemudian ia mendengar ada suara ketukan 3 kali dari jendela kaca kamarnya. anak pertama pak Syaiful Fakah ini diam sejenak sebelum akhirnya menoleh kebelakang. takjub dengan keberaniannya, eca mengamati jendela dan tidak menemukan apa-apa. ia kembali melangkahkan kaki ke arah jendela dengan tergesa, bermaksud menutup jendelanya lagi dengan gorden.
eca menengokkan kepalanya kekiri dan kanan, memastikan bahwa tidak ada apa-apa dan tadi hanya perasaan saja. 'paling itu suara batu kena angin,' gumam eca dalam hati. eca baru saja menggenggam gorden dan hendak menariknya saat tiba-tiba de javu menghampirinya tepat di hadapan mata. seseorang berbadan besar dengan mantel gelap sedang berdiri di luar jendela dan mengetuk-ngetuk jendela eca lagi sambil tersenyum.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!"
eca pingsan.
--------------------------------
depok at the end of monday, 2013
-thanks. maybe to be continued-


0 komentar